Bitcoin Outlook 2024,  Ada Potensi Bearish Sebelum To The Moon | SWA.co.id

Bitcoin Outlook 2024,  Ada Potensi Bearish Sebelum To The Moon

Diskusi Publik bertema “Bitcoin Outlook 2024”

Bitcoin masih menjadi aset yang sangat menarik di kalanganpara pegiat kripto. Terlebih menjelang halving 2024 yang menjadi peristiwa yang ditunggu-tunggu untuk Bitcoin mencapai All Time High (ATH).

Merespon potensi tersebut, Reku pedagang aset kripto, mengadakan pra-acara Indonesia Bitcoin Conference (IDBC) 2023 yang akan  diadakan di Bali pada 26-27 Oktober mendatang dengan menggelar Diskusi Publik bertema “Bitcoin Outlook 2024”.

Robby,  Co-Founder dan Chief Compliance Officer (CCO) Reku, mengatakan walaupun Bitcoin dan aset kripto lainnya mengalami volatilitas signifikan hingga September tahun ini, namun dominasi Bitcoin masih terus meningkat.

“Dominasi Bitcoin berada di level 50,16% di Kuartal III 2023, dari 47%  di Kuartal II. Ada kenaikan  3,16%. Ini menandakan  permintaan Bitcoin pun terus meningkat. Investor jangka menengah hingga jangka panjang tetap mengakumulasi Bitcoin, terutama untuk mempersiapkan halving. Bagi investor pemula, Kuartal IV ini juga menjadi momen yang tepat untuk mulai menabung Bitcoin dengan memanfaatkan Dollar Cost Averaging (DCA) sebelum harganya menanjak lebih tinggi lagi,” ujar Robby.

Halving day, menurut Robby, merupakan momen empat tahunan ketika imbal hasil bagi penambang atau miner berkurang setengah. “Halving day juga membuat laju pasokan Bitcoin di pasar berkurang. Sehingga dengan keterbatasan supply dan tingginya demand,

halving memungkinkan harga Bitcoin berpotensi naik signifikan,” tambah Robby.

Secara historis, halving Bitcoin di tahun 2013 mencatat peningkatan harga Bitcoin hingga 93,1 kali setara 164 juta.  Halving di tahun 2017, harga Bitcoin meningkat 30,1 kali yang membuat Bitcoin mencapai level Rp 300 juta. Tahun 2021 meningkat 7,8 kali, menyentuh All-Time-High (ATH) di angka Rp 939 juta. Pada halving tahun 2024 mendatang, Bitcoin diproyeksi akan meningkat sebanyak 4,2 kali.

Namun sebelum terjadinya lonjakan harga atau dikenal dengan istilah to the moon ini, masyarakat perlu mempersiapkan untuk menghadapi kondisi bearish. “Kondisi bearish merupakan cycle klasik yang terjadi sebelum halving. Jadi sebelum halving, investor juga

perlu bersiap menghadapi fluktuasi ini,” tambah Robby.

Crypto analyst Reku, Afid Sugiono, mengatakan akan selalu ada tren yang berpotensi sebagai katalis di balik halving Bitcoin. “Pada halving 2017, Initial Coin Offering (ICO) menjadi katalis di balik bull run Bitcoin. Kemudian pada tahun 2021, DeFi dan NFT menjadi faktor pendorong bull run. Di tahun 2024 mendatang, beberapa tren yang berpotensi menjadi penggerak yakni ETF Bitcoin yang menawarkan variasi lain dalam berinvestasi Bitcoin serta kondisi makroekonomi atas keputusan The Fed dalam mempertahankan suku bunga,” jelas Afid.

Melansir laporan Fidelity yang dilakukan pada 1 Agustus 2010 hingga 31 Agustus 2022, jika investor meletakkan 3% Bitcoin di antara portofolio tradisional yang terdiri dari 60% obligasi atau 40% saham, maka akan meningkatkan kinerja portofolio rata-rata 15,5% per tahun. “Laporan tersebut memperkuat peran Bitcoin sebagai instrumen diversifikasi yang menarik dan bisa saling mendukung performa instrumen tradisional.  Namun tentunya Reku terus mengingatkan agar investor mengalokasikan dana investasi sesuai dengan tujuan investasi masing-masing. Temukan kecocokan dengan aset kripto termasuk Bitcoin yang juga bisa dimanfaatkan oleh dengan berbagai tujuan investasi, baik jangka pendek, menengah, dan panjang,” kata Robby.

Robby menambahkan, terdapat sejumlah momen “AHA” yang mendorong potensi Bitcoin sebagai alternatif investasi. “Selain tahun 2009 sebagai tanda kemunculan Bitcoin, momen “AHA” selanjutnya yakni saat Indonesia menjadi negara pertama yang memiliki Bursa Kripto, yang diresmikan pada bulan Juli lalu. Ini merupakan momen bersejarah yang melengkapi regulasi aset kripto di Indonesia. Sehingga bisa dikatakan bahwa keamanan masyarakat dalam berinvestasi kripto semakin terjamin dan kehadiran Bursa diharapkan bisa mendorong adopsi aset kripto di Indonesia,” ungkap Robby.

Teknologi Bitcoin yang menawarkan transparansi, desentralisasi, dan borderless, turut berperan terhadap sistem keuangan global. “Bitcoin sudah melewati perjalanan ‘karir’ yang panjang di pasar finansial global. Jika sebelumnya otoritas negara, perusahaan, dan masyarakat cenderung skeptis terhadap Bitcoin, saat ini justru sudah banyak regulasi yang mengatur dan meningkatnya partisipasi institusi perusahaan ke aset kripto termasuk Bitcoin. Di antaranya kripto menjadi

pembahasan negara anggota G20, teknologi blockchain juga dimanfaatkan di Central Bank

Digital Currency (CBDC), serta partisipasi perusahaan investasi besar seperti BlackRock dan Vanguard yang meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap Bitcoin,” ujar Robby.

Kegiatan Indonesia Bitcoin Conference (IDBC) 2023 akan menghadirkan pendiri Twitter sekaligus Chairman Block Inc, Jack Dorsey serta Mantan Menteri Perdagangan Gita Wirjawan, Tirta Karma Senjaya selaku Kepala Biro Pembinaan dan Pengembangan Pasar, Bappebti, serta Stephan Livera, Head of Education dari Swan Bitcoin dan Alex Gladstein dari Human Rights Foundation.

Ada lebih dari 50 pembicara dengan sekitar 700 peserta dari berbagai negara yang akan meramaikan IDBC 2023. Gelaran IDBC akan menjadi momen penting untuk berdiskusi potensi Bitcoin baik sebagai aset berinvestasi, peluang bagi industri keuangan serta bisnis di Indonesia. 

"Dukungan Reku terhadap IDBC sejalan dengan misi kami dalam mendorong pertumbuhan komunitas Bitcoin dan aset kripto. Selain melalui diskusi publik ini, Reku juga mendukung IDBC dalam gelaran Lightning Hackathon bagi para programmer di Indonesia sebagai pra-kegiatan di Bali mendatang. IDBC diharapkan menjadi wadah untuk bertukar wawasan bersama pegiat kripto global dan mempercepat adopsi Bitcoin serta aset kripto di Indonesia,” ujar Robby.

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)