Blockchain Indo 2018 Segera Digelar di Jakarta

Konferensi berskala internasional yang membahas isu-isu terkini dan teknologi baru mengenai blockchain, digital asset dan fintech serta kaitannya dengan ekonomi syariah akan berlangsung di Kempinski Grand Ballroom, Thamrin, Jakarta pada 11-12 Mei 2018.

Konferensi ini mendapatkan momentum dengan banyak pembicara dari berbagai spesialisasi dari seluruh dunia yang telah mengonfirmasikan kehadirannya. Sebut saja Gebhard Scherrer (co-founder Datum), Ville Oehman (praktisi dana investasi yang terdaftar di Otoritas Moneter Singapura), Matthew J. Martin (CEO Blossom Finance), Robert Ryu (Korean Venture crypto-fund ) dan Dr Zaharuddin AR (ICO berbasis syariah asal Malaysia). Selain itu, akan hadir pula peseerta-peserta dan eksibitor dari berbagai negara.

Nikolay Volosyankov, CEO Cryptoevent yang merupakan penyelanggara Blockchain Indo 2018 mengatakan, “Kami menerima banyak minat dari para peserta dari perusahaan teknologi yang kebanyakan adalah perusahaan blockchain, fintech dan digital asset dari seluruh dunia termasuk Indonesia. Untuk pertama kalinya dalam konferensi yang pernah kami selenggarakan, memiliki pembicara dan peserta pameran yang terkait dengan keuangan Islami.”

Cryptoevent sebelumnya telah menyelenggarakan konferensi serupa di St. Petersburg, Moskow (Rusia), Minsk (Belarus) dan Almaty (Kazakhstan) di mana ribuan peserta telah berpartisipasi untuk mengejar isu-isu terbaru dan teknologi baru.

Selain bekerja sama dengan berbagai mitra internasional, dalam konferensi ini CryptoEvent juga bersinergi dengan perusahaan lokal yaitu dengan Global Citra Media sebagai penyelenggara acara lokal dan Halojasa.com sebagai mitra pemasaran lokal dan juga Asosiasi Digital Entrepreneur Indonesia (ADEI) yang memungkinakan para pemain global dalam teknologi Blockchain untuk bertemu dan berinteraksi dengan orang-orang dari Asia Tenggara, terutama Indonesia.

Bari Arijono, Pendiri dan CEO Digital Enterprise Indonesia (DEI) mengatakan bahwa revolusi digital di Indonesia baru pada tahap awal, banyak sektor industri yang mulai meluncurkan program transformasi digital, belum lagi industri keuangan yang sedang menjajaki kolaborasi dengan fintech.

“Kehadiran blockchain masih pada tahap awal di Indonesia yang memiliki potensi ekonomi digital diperkirakan bernilai US$130 miliar tahun 2020. Akankah blockchain dapat mengubah gaya hidup orang Indonesia? Jika Anda melihat apa yang telah diterapkan di negara lain, jawabannya sangat terlihat,” ucap Bari.

Indonesia adalah negara terpadat ketiga di Asia dengan penetrasi internet yang tinggi dan telepon pintar di antara warganya. "Pemerintah Indonesia harus siap untuk membuat peraturan baru mengenai perkembangan teknologi digital ini, seperti bagaimana mata uang digital di masa depan dapat merespon tantangan ekonomi yang semakin berat," ujarnya.

Selain pemain biasa dalam mata uang digital, acara internasional ini akan mempertemukan para pemain dalam bisnis digital, atartup TI, pengembang aplikasi Internet, marketeers digital, dan perusahaan fintech-base untuk mengumpulkan dan memperluas jaringan mereka. Ini akan menjadi tempat internasional & forum untuk diskusi tentang berbagai topik dan masalah mengenai Blockchain yang memiliki prospek besar dalam waktu dekat.

ICO dan perusahaan teknologi dari seluruh dunia termasuk yang terkait dengan Keuangan Islam seperti Bayanat Fintech dan Blossom Finance akan mempresentasikan proyek blockchain mereka, namun tidak akan ada perdagangan mata uang kripto selama acara tersebut untuk mematuhi peraturan lokal. Konferensi ini akan memungkinkan pihak yang berkepentingan dan pemangku kepentingan untuk mendapatkan lebih banyak pengetahuan dan informasi tentang pasar global aset digital serta mata uang kripto.

"Masalah regulasi dan ekonomi serta dampak terhadap lingkungan bisnis akan dibahas dalam forum. Konferensi ini akan memberikan masukan kepada berbagai perusahaan, pelaku industri dan peserta biasa tentang bagaimana teknologi blockchain akan merevolusi bisnis dan meningkatkan efisiensi dalam ekonomi. Kami juga mengharapkan banyak investor dan modal ventura untuk menghadiri konferensi ini untuk menjajaki peluang di pasar Indonesia yang sangat besar ini, ” ucap Denis Gutnik, Relationship Manager event Blockchain Indo 2018.

Abas A Jalil, CEO Amanah Capital Group Limited sekaligus pakar keuangan di pasar Asia Tenggara yang akan berbicara pada konferensi tersebut, mengatakan bahwa Asia Tenggara, terutama pasar Indonesia memiliki potensi besar untuk sektor blockchain dan fintech, khususnya di keuangan Islam dan bisnis digital.

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!