Bos Bursa Efek Indonesia: Adil, Tegas, dan Transparan

Inarno DjajadiInarno Djajadi ditetapkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai Dirut PT Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2018-21. Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan akhir Juni lalu mengukuhkan Inarno bersama enam direksi BEI lainnya untuk memimpin BEI. Inarno dan koleganya berkomitmen mengembangkan industri pasar modal. Strateginya adalah mengembangkan produk baru, meningkatkan jumlah perusahaan tercatat dan investor, serta meningkatkan transaksi dan likuiditas. Berbagai program telah disusun direksi BEI, antara lain meningkatkan pelaksanaan tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance/GCG) dan menegakkan aturan main di pasar modal.

Inarno mengibaratkan peran BEI seperti wasit di pertandingan olahraga. “Saya sebagai wasit harus adil. Kami mengemban tugas yang tidak gampang karena wasit harus tegas, tidak ragu-ragu, dan adil. Kami harus melaksanakan tugas ini dengan baik,” katanya menegaskan.

Tugas ini membutuhkan transparansi dan akuntabilitas agar dipercaya oleh para pemangku kepentingan. Salah satu contoh praktik GCG itu adalah menetapkan saham-saham unggulan di indeks Liquidity 45 (LQ45) yang sesuai dengan parameter. “Sehingga, accountability-nya lebih terjamin,” ujar peraih gelar sarjana ekonomi dari Universitas Gadjah Mada pada 1988 itu.

Lebih lanjut Inarno mengemukakan, BEI telah menyusun 12 program utama yang diharapkan terealisasi pada 2018-20. Program utama itu terdiri dari program pengembangan electronic book building (EBB), papan akselerasi, perkembangan sistem distribusi keterbukaan informasi perusahaan tercatat terintegrasi (IDX-DNA), implementasi I-Suite (perubahan kode saham), pembentukan perusahaan teknologi informasi (TI), dukungan terhadap pendirian perusahaan efek daerah (sertifikasi profesi dan infrastruktur back office), penyelenggaraan perdagangan surat utang di bursa efek (implementasi electroning trading platform/ETP tahap II), pengembangan Indonesia Government Bond Future (IGBF) II, percepatan penyelesaian siklus transaksi dari T+3 menjadi T+2, pengembangan sistem penyampaian dokumen pencatatan secara elektronik (e-registration), IDX virtual trading system, dan penyederhanaan pembukaan rekening efek.

Program utama yang bakal dilaksanakan di tahun ini, menurut Inarno, di antaranya mengimplementasikan penyelesaian transaksi bursa menjadi dua hari (T+2) dari sebelumnya tiga hari (T+3) yang bakal diwujudkan pada 26 November 2018. “Pasar saham di ASEAN yang sudah melakukan implementasi transaksi bursa T+2 adalah Thailand, negara yang lain masih diproses seperti Singapura yang akan diimplementasikan pada Desember mendatang. Jadi, kami lebih cepat satu bulan daripada Singapura,” kata pria kelahiran Yogyakarta, 31 Desember 1962 ini. Sistem T+2 diharapkan mendorong likuiditas pasar melalui percepatan reinvestasi dari modal investor.

Kemudian, Inarno dkk. di November tahun ini bakal mengimplementasikan pengembangan EBB yang bertujuan memudahkan allotment saham bagi calon emiten yang melaksanakan penawaran saham perdana (IPO) yang diproses dalam suatu sistem yang transparan. Rencana berikutnya, pada Desember 2018 BEI menerapkan I-Suite, yakni pemberian kode atau “tato” baru kepada emiten yang ekuitasnya negatif, rugi, atau terlambat memublikasikan laporan keuangan agar saham yang paramaternya bermasalah itu mudah diidentifikasi investor. “Jika investor tidak terlalu biasa membaca laporan keuangan, ‘tato’ di saham itu memberikan warning kepada investor,” ia menegaskan. Masih untuk mendukung transparansi pasar modal, BEI di tahun ini juga berencana mengembangkan sistem distribusi keterbukaan informasi perusahaan terintegrasi (IDX-DNA). Inarno menyebutkan, keseluruhan informasi mengenai emiten terkonsentrasi di satu tempat yang mudah diakses investor.

Program selanjutnya, BEI berencana mengembangkan sistem penyampaian dokumen pencatatan elektronik (e-registration) untuk meningkatkan efisiensi IPO. “Nantinya, sistem di BEI dan OJK disinergikan agar proses peninjauan dokumen lebih mudah bagi calon emiten yang hendak IPO,” kata Inarno. Komitmen otoritas bursa di tahun ini yaitu mewujudkan pembentukan perusahaan TI yang mendukung pendirian perusahaan efek daerah yang mencakup sertifikasi profesi dan infrastruktur back office. Nantinya, perusahaan efek difasilitasi BEI untuk mendirikan perusahan efek di seluruh daerah guna menggaet investor di daerah. “Targetnya, semua daerah kami dorong agar mereka sebagai perusahaan efek non-anggota bursa. Mekanismenya, mereka ini menjadi klien anggota bursa, atau nanti nyantol sebagai klien anggota bursa untuk melakukan transaksi,” tambahnya.

Untuk simplifikasi pembukaan rekening efek, kata Inarno, proses pembukaan rekening efek dipangkas dengan mengintegrasikan antara sistem bank dan otoritas bursa efek. “Sedangkan rencana pembentukan papan akselerasi untuk mengakomodasi perusahaan skala kecil dan menengah (UKM) dan startup yang belum siap masuk papan pengembangan dan papan utama. Emiten pada papan akselerasi akan mendapatkan persyaratan listing yang khusus, terutama syarat, kewajiban, dan sanksinya,” Inarno menerangkan.

Selanjutnya, rencana BEI di tahun 2019 adalah virtual trading system sebagai wahana simulasi bagi investor untuk mencicipi transaksi jual-beli saham “Misalnya, kami mau sosialisasi ke investor, dia beli saham, punya portofolio, nanti di-review untung atau rugi. Kami menargetkan membuat virtual trading system di tahun 2019 untuk sosialisasi kepada investor,” tutur Inarno. Di tahun itu pula, BEI mengembangkan sistem perdagangan surat utang (obligasi) di electronic trading platform yang dilaksanakan bertahap, dari 2019 hingga 2020. Selama ini, transaksi obligasi terjadi di luar bursa dan tanpa regulasi atau over the counter (OTC). Implementasi itu selaras dengan pengembangan IGBF tahap II.

Sementara itu, kapitalisasi pasar BEI pada 23 Agustus 2018 mencapai Rp 6.746 triliun. ”Kapitalisasi pasar sudah lumayan, namun jumlah investor masih rendah karena baru 1,2 juta investor. Padahal, penduduk Indonesia ada 250 juta jiwa. Jadi, kami ingin meningkatkan jumlah investor karena populasi penduduk Indonesia luar biasa jumlahnya,” kata Inarno. Di sisi lain, dia menargetkan ada 35 perusahaan yang IPO di tahun ini dan mendorong calon emiten mengalokasikan saham ke publik sebesar 7,5% guna meningkatkan likuiditas.(*)

Anastasia Anggoro Suksmonowati & Vicky Rachman

Riset: Hendi Pradika

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)