BSSN Himbau Perkuat Ketahanan Siber Nasional

Gelaran Cyber Security Indonesia tahun 2018 mengusung tema “Towards a Cyber-Secured Indonesia”. Topik ini relevan dengan kondisi kita saat ini di tengah tuntutan zaman untuk membangun sistem siber yang aman dan kondusif. Hal itu ditegaskan oleh HE Dr. Djoko Setiadi, M.Si, Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) dalam pembukaan acara Cyber Security Indonesia 2018 di Jakarta Convention Center.

Djoko mengungkapkan, keamanan siber negara harus dijaga dan dikembangkan oleh seluruh komponen bangsa. Data Global Cybersecurity Index yang dirilis oleh International Telecommunication Union (ITU) mencatatkan bahwa keamanan siber Indonesia masih berada di peringkat 70 dari 195 negara dengan skor 0,424. Maka dari itu, dibutuhkan dukungan dari seluruh sektor untuk membangun keamanan siber di Indonesia. “Melalui acara ini, kami berharap peserta dapat menggali ilmu dan berbagi informasi mengenai isu-isu terkini mengenai keamanan siber sesuai dengan tema yang dibahas”, tambah Djoko dalam siaran pers hari ini (6/12/2018).

Menurutnya, satu hal yg tidak dapat dihindari serangan siber merupakan awal mula munculnya pergolakan di dunia nyata. Sebagai bentuk tanggung jawab bagi pengguna dunia siber, Djoko mengimbau kepada warganet untuk belajar dari kasus beberapa negara yang sempat bergejolak akibat serangan siber. Ia mengambil contoh pada kejadian krisis ekonomi yang menimpa negara-negara di Eropa. Menurutnya, krisis yang dialami benua biru itu disebabkan oleh serangan siber terhadap pemangku kebijakan yang menangani bidang ekonomi. Contoh lain adalah pencurian uang yang dialami oleh Bank Dunia beberapa waktu lalu sehingga menimbulkan kerugian besar.

Saat ini, rancangan undang-undang perlindungan data pribadi dan rancangan undang-undang keamanan siber sedang dalam proses dan diharapkan dapat disahkan pada tahun 2019. Rancangan undang-undang tersebut termasuk ke dalam Program Legislasi Nasional 2019.

Cyber Security Indonesia (CSI) 2018 membawa produk dan solusi inovatif dalam ruang lingkup industri keamanan siber dan informasi yang nantinya akan dipamerkan oleh para eksibitor pameran. Selain pameran, CSI 2018 juga menghadirkan program konferensi selama 3 hari acara berlangsung yang membawa seluruh stakeholders mulai dari regulator hingga end users untuk saling berbagi informasi dan pemahaman terhadap topik-topik hangat seputar industri keamanan siber dan informasi pada tahun ini seperti National Security Focus, Critical Infrastructure Focus, dan Smart City (Industrial IoT) Focus.

CSI 2018 juga mengadakan Jakarta Hacking Competition (JHCom) selama 3 hari ( 5 – 7 Desember 2018) di lokasi acara. JHCom merupakan kompetisi nasional yang membawa tema keamanan siber dengan metode online dan offline. Kompetisi ini menyuguhkan permainan Capture the Flag dan Computer Network Defense. Satu tim terdiri dari 3 pemain dan setiap ronde berfungsi sebagai ronde permulaan hingga tersisa tim-tim pemenang. Tim yang menang dalam ronde online akan diundang untuk bermain saat itu juga di final stage.

Cheah Wai Hong, Portfolio Director Tarsus Indonesia, mengungkapkan, “Tentunya perusahaan memiliki visi yang sejalan dengan pemerintah. Saya sepakat bahwa aspek-aspek yang dapat meningkatkan ketahanan siber Indonesia dan seluruh komponen bangsa harus ambil bagian dalam menghadapi serangan-serangan siber yang dapat mengancam keamanan negara. Oleh karena itu, kami berharap acara ini bisa menjadi milestone yang mampu mendongkrak kekuatan pertahanan siber Indonesia.”

Melengkapi CSI 2018, Indonesia Fintech Show 2018 juga turut menghadirkan beragam produk dan solusi inovatif pada industri fintech yang akan dibawakan oleh para perusahaan yang berpartisipasi sebagai eksibitor dalam acara ini. IFS 2018 juga menghadirkan program konferensi dari tanggal 6 – 7 Desember 2018 yang mengumpulkan para financial leaders, policy makers, professionals, innovators, service providers, end users, serta leading industry stakeholders untuk saling membagikan insight dan pandangan mengenai isu-isu penting terkait peraturan dan regulasi pemerintah terhadap industri fintech baik di skala nasional maupun internasional.

Acara CSI 2018 didukung oleh Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Republik Indonesia, Kementerian Komunikasi Republik Indonesia, Kementerian Pertahanan Republik Indonesia, dan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN). Juga, disponsori oleh PWC, Telin, Akamai, Microsoft dan Dimension Data.

Indonesia Fintech Show 2018 didukung oleh Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, Asosiasi Blokchain Indonesia, HIPMI Jaya, Asosiasi Fintech Syariah Indonesia, Asosiasi Fintech Indonesia, serta Asosiasi Blokchain Indonesia.

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)