BTN Bantu UMKM Untuk Pertumbuhan Ekonomi Negara

Berdasarkan data BPS, geliat Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) terus meningkat dengan penyerapan 85 juta hingga 107 juta tenaga kerja sampai tahun 2012. Jumlah pengusaha saat itu sebanyak 56.539.560 unit. Dari jumlah tersebut UMKM sebanyak 56.534.592 unit atau 99.99%. Sisanya, sekitar 0,01% atau 4.968 unit adalah usaha besar. Ini membuktikan bahwa UMKM merupakan pasar yang sangat potensial bagi industri jasa keuangan, terutama bank untuk menyalurkan pembiayaan. Menurut studi Bank Indonesia, kontribusi usaha mikro dan kecil (UKM) terhadap PDB Nasional 2011 sebesar Rp4.321,8 triliun atau 58,05%, sedangkan tahun 2012 sebesar Rp4.869,5 triliun atau 59,08%.

Menurut Eko Waluyo, Corporate Secretary Division Bank BTN , kriteria usaha mikro yang digunakan oleh perusahaannya adalah usaha produktif atau badan usaha milik perorangan dengan kriteria sebagaimana telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008. Menurut Undang-Undang yang berlaku, mereka berhak mendapat Kredit Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (KUMKM) yang diberikan bank guna pembiayaan usaha produktif yang mereka jalankan. Selain itu, kriteria usaha mikro lainnya antara lain WNI, kekayaan bersih maksimum Rp50 juta (tidak termasuk tanah dan bangunana tempat usaha) dan memiliki penjualan tahunan maksimum Rp300 juta.

Tahun 2017  pelaku UMKM naik seiring dengan perbaikan ekonomi negara, tercatat telah mencapai 189 debitur per April dengan peningkatan 93% dibanding periode yang sama di tahun 2016. Untuk rasio kredit macet terus ditekan oleh BTN.  Alhasil jumlah Non Performing Loan (NPL)  telah menurun dibandng tahun lalu. “Per April, NPL kami sudah membaik di angka single digit,” ungkapnya.

Assessment BTN untuk menilai calon usaha mikro yang akan didanai cukup teliti dengan menyeleksi mulai dari usaha UMKM tersebut dinilai cukup produktif untuk jangka panjang, calon UMKM tidak boleh memiliki kredit bermasalah dengan BTN atau bank lain, memiliki izin usaha yang masih berlaku, mayoritas pemiliknya telah berpengalaman dalam perusahaan dengan pinjaman minimal selama 1 tahun, dan telah memperoleh laba bersih satu tahun terakhir.

BTN sebagai bank yang memiliki peran agent of development melakukan berbagai kegiatan bagi debitur terutama yang bergerak di usaha mikro, kecil, dan menengah. Tidak hanya  mengucurkan kredit, namun lebih jauh juga melakukan serangkaian kegiatan mulai dari monitoring, pembinaan, pendamingan pada UMKM yang mnerima fasilitas kredit, penelitian & sosialisasi, dan sponshorship.

BTN memiliki fokus utama dalam Kredit Pembiayaan Rumah (KPR) atau properti, segmen pelaku usaha kecil yang dibidikpun tidak jauh dari sektor properti. Sektor properti memiliki andil yang besar terhadap pertumbuhan ekonomi dan memiliki multiplier effect besar bagi pelaku usaha kecil untuk bisa terlibat. “Oleh karena itu, BTN menyasar kepada pelaku UMKM yang bergerak di sektor properti, mulai dari industri pembuat bata, keramik, genteng ataupun mereka yang memiliki usaha mebel, furnitur dan atau perabotan isi rumah,” jelasnya. Meski rasio UMKM BTN (termasuk syariah) hanya sekitar 9,24% dari total kredit.

Kontribusi kredit mikro bagi laba perusahaan memang tidak besar karena portfolio kredit mikro BTN belum terlalu signifikan, tercatat di bawah 1%. Pendapatan operasional kredit UMKM terhadap total pendapatan operasional sebesar 0,73%. “Meski demikian, BTN memberikan variasi produk pinjaman ke pelaku usaha mikro di sektor properti, tidak hanya pinjaman untuk usaha tapi juga KPR BTN Mikro, produk baru yang diluncurkan Februari lalu,” jelas Eko Waluyo. KPR BTN Mikro memberi kesempatan kepada pekerja informal untuk mendapatkan pinjaman yang bisa digunakan untuk membeli rumah, membangun rumah atau merenovasi rumahnya. Dengan suku bunga rendah, dan DP yang terjangkau, KPR BTN Mikro dapat dimanfaatkan pelaku UMKM untuk memenuhi kebutuhan papannya.

Telah berpengalama lebih dari 10 tahun dalam pengelolaan kredit mikro, BTN memiliki keyakinan bahwa usaha mikro memiliki potensi untuk berkembang, tidak hanya dengan kekuatan modal, tapi mereka perlu dibekali dengan pelatihan, pendampingan, dan edukasi mengenai manajerial bisnis untuk mengembangkan bisnisnya. “Sampai dengan April 2017, total pelaku usaha UMKM yang dibina BTN sebanyak 3.133 debitur, sekitar 70% menunjukkan perkembangan untuk bisnis yang mereka jalankan,” ungkapnya.

Bisa dikatakan kehadiran UMKM memiliki peranan sangat penting untuk pengembangan ekonomi karena intensitas tenaga yang relatif tinggi dan investasi yang kecil, sehingga mereka lebih fleksibel dalam menghadapi dan beradaptasi dengan perubahan besar. Oleh karena itu pengembangan UKM dapat memberikan kontribusi pada pertumbuhan ekonomi yang stabil dan berkesinambungan.

 

Reportase: Tiffany Diahnisa

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)