Budidaya Lele Menyokong Perekonomian Warga di Masa Pandemi

Budidaya lele oleh warga Palangkaraya, Kalimantan Tengah. (Foto : KKP)

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya menggencarkan upaya menjadikan budidaya sebagai terobosan meningkatkan perekonomian masyarakat di tengah pandemi Covid-19. Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP, Slamet Soebjakto, menuturkan bahwa semua berharap pandemi Covid-19 segera berlalu agar ekonomi bisa pulih dan normal kembali. Harapan besar juga pada sektor kelautan dan perikanan khususnya perikanan budidaya bisa menjadi mesin ekonomi baru yang mampu memberikan dampak positif terhadap peningkatan ekonomi.

Slamet menceritakan sentuhan teknologi budidaya ikan sistem bioflok yang dilakukan KKP telah terbukti mampu lebih meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan pembudidaya ikan dibandingkan dengan teknologi budidaya konvensional seperti yang dilakukan oleh sebagian besar pembudidaya ikan di Palangkaraya. Slamet menjealaskan awalnya kelompok pembudidaya ikan (Pokdakan) Katoni Lestari Jaya Raya Palangkaraya berbudidaya ikan secara konvensional di lahan yang luas dan produktivitasnya rendah serta sering terkena banjir. Sekarang ini dengan adanya teknologi bioflok, yakni suatu inovasi teknologi, dengan lahan yang tidak begitu luas mampu meningkatkan produktivitas dan pendapatan yang signifikan.

Ditambah lagi Palangkaraya airnya masih sangat bagus, jernih, makanya sangat cocok dan potensial untuk budidaya ikan termasuk ikan lele atau komoditas ikan lainnya. “Sehingga melalui sub sektor perikanan ini diharapkan mampu menggerakkan ekonomi Palangkaraya, meski masih dibayangi pandemi Covid-19 seperti sekarang,” ungkap Slamet dalam siaran pers di Palangkaraya, Minggu (20/3/2021).

Hal ini, sambung Slamet, selaras dengan apa yang disampaikan Presiden Joko Widodo, dalam keadaan pandemi ini, pemerintah harus terus mengupayakan agar ekonomi bisa bangkit. “Kita berharap pandemi Covid-19 ini bisa segera berlalu dan kita bisa bekerja dengan normal, sehingga ekonomi bisa tumbuh,” sambungnya.

Harga lele di Palangkaraya berkisar Rp 18-20 ribu per kg. Di KKP pun, masih menurut Slamet, ada program gemar makan ikan, sehingga jangan khawatir perikanan khusus perikanan budidaya ini hasilnya tidak akan terserap baik untuk saat ini maupun nanti setelah normal. Permintaan ikan masih terus naik, karena makan ikan mampu meningkatkan imunitas. “Sektor perikanan memang digadang-gadang menjadi penopang ekonomi, dan ketahanan pangan. Ditambah lagi makan ikan sehat, makanya jangan takut kalau hasil produksi perikanan tidak terserap,” tuturnya.

Oleh karenanya, KKP terus memberikan stimulus, salah satunya berupa bantuan sarana dan prasarana untuk masyarakat agar bisa berbudidaya lele sistem bioflok. “Bagi Pokdakan yang sudah mendapatkan bantuan harus bersyukur bisa mendapatkan bantuan sarana dan prasarana dan kami harap ini bisa dimanfaatkan, dioperasionalkan dan dirawat dengan baik sehingga bermanfaat bagi kita semua,” paparnya.

Karena memang, program budidaya ikan sistem bioflok merupakan salah satu program prioritas KKP yang akan terus dimasyarakatkan karena berbagai keunggulannya. “Bantuan kegiatan bioflok, merupakan suatu inovasi teknologi yang dilakukan melalui rekayasa lingkungan dengan mengandalkan suplai oksigen dan pemanfaatan mikroorganisme. Keterbatasan lahan dan air serta di tengah pandemi Covid-19 ini, ikan menjadi ketahanan pangan nasional bergizi sehingga kebutuhan kian meningkat untuk konsumsi, dan budidaya lele sistem bioflok ini merupakan salah satu alternatif usaha. Disamping itu, penggunaan pakannya lebih efisien,” ungkapnya.

Pada kesempatan ini, Kepala BPBAT Mandiangin, Andy Artha Oktopura, menambahkan budidaya ikan sistem bioflok banyak menarik minat masyarakat karena berbagai keunggulan yang dimiliki seperti minim penggunaan lahan, produktivitas yang tinggi dan hemat air hingga ramah lingkungan. “Berdasarkan hasil pengkajian dan uji terap di lapangan, budidaya ikan sistem bioflok ini memiliki tingkat produktivitas yang lebih tinggi karena pertumbuhan ikan yang lebih cepat dan tingkat kelulusan hidup yang lebih tinggi apabila dibandingkan dengan budidaya ikan secara konvensional. Selain itu dari bantuan bioflok ini juga dapat dilihat adanya nilai tambah bagi masyarakat karena terintegrasi dengan sayuran dan tanaman cabai yang mampu tumbuh subur sehinga bisa menambah pendapatan pembudidaya ikan,” ujarnya.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalteng, Darliansjah mengatakan kunjungan Dirjen Perikanan Budidaya menjadi semangat bagi kita semua untuk bersinergi dalam rangka membangun perikanan di Kalteng. Apalagi kunjungan ini sekaligus peluncuran dan penyaluran pinjaman atau pembiayaan BLU LPMUKP kepada pelaku usaha kelautan dan perikanan Kalteng sekitar 22 kelompok usaha dengan nilai Rp6 miliar sehingga bisa menjadi penguatan modal dan peningkatan daya saing pelaku usaha perikanan di Kalteng.

Sementara itu, Miring, Ketua Pokdakan Katoni Lestari Jaya Raya, secara pribadi menyebutkan Pokdakan Katoni Lestari Jaya Raya mengucapkan banyak terima kasih kepada KKP yang telah memberikan kepercayaan untuk mendapatkan paket bantuan budidaya sistem bioflok. Selain itu juga, diberikan kesempatan belajar adalah berkah tersendiri karena menerapkan teknologi bioflok dalam budidaya ikan lele sesuai SOP selama pemeliharaan dengan tingkat kematian kurang dari 15% dan mampu menekan Food Covertion Ratio (FCR) sebesar 30% dibandingkan cara konvensional serta size yang diperoleh juga selalu bagus yakni dengan size 6-7 per kilogram.

Ditambah harga ikan lele di Kalteng bisa mencapai sekitar Rp 18 ribu hingga 20 ribu per kilogram. “Syukur Alhamdulillah kami bisa merasakan atas bantuan yang sudah diberikan oleh KKP. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih. Kelompok kami juga berencana akan memperbanyak jumlah kolam secara swadaya untuk mengembangkan usaha budidaya ikan dengan sistem bioflok ini karena lahan yang ada masih luas dan teknologi ini sudah terbukti memberikan keuntungan bagi kami apalagi ada program bantuan pinjaman modal dengan bunga rendah dari KKP yang bisa kami akses,” sebut Miring.

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)