42% Konsumen di Asia Tenggara Khawatir Transaksi Melalui ATM

MasterCard Safety and Security Index™ mengungkapkan bahwa konsumen di kawasan Asia Tenggara dan Greater China menyatakan bahwa pencurian identitas dan berbagai penyalahgunaan kartu ATM menjadi dua masalah keamanan utama yang dikhawatirkan oleh masyarakat saat melakukan pembayaran elektronik.

Survei terkait dengan indeks tersebut dilakukan di enam negara di Asia Tenggara (Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam) serta tiga negara di Greater China (China, Hong Kong, dan Taiwan). Sebanyak 6.600 konsumen dan 100 pedagang dimintai pendapat mereka melalui polling online dan tatap muka mulai Januari hingga Mei 2015 dengan pertanyaan mengenai pendapat mereka terhadap keamanan pembayaran secara keseluruhan, pembayaran tatap muka atau online, kekhawatiran atas keamanan pembayaran serta pengalaman buruk dengan penipuan saat melakukan pembayaran dan lainnya.

Hasilnya sebesar 42% konsumen di Asia Tenggara, yaitu Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam merupakan negara yang paling khawatir terhadap penipuan ataupun kecurangan terkait dengan penggunaan ATM, seperti pencurian kartu, penggandaan kartu maupun skimming. Sedangkan negara-negara di Greater China, seperti China, Hong Kong, dan Taiwan memiliki kekhawatiran terhadap hal yang sama sebesar 31%.

Konsumen di kawasan Asia Tenggara (35 persen) dan Greater China (32 persen) memiliki kekhawatiran yang tidak jauh berbeda terkait dengan pencurian identitas. Hal ini termasuk pencurian data personal seperti rincian data bank, identitas personal, alamat, dan tanda tangan yang dicuri melalui website. Pada kedua kawasan tersebut, diketahui bahwa kekhawatiran tersebut tidak berasal langsung dari pengalaman pribadi masyarakat, melainkan dari hasil pemberitaan mengenai pencurian tersebut di media massa.

ATM

Dalam indeks ini juga diungkapkan bahwa secara keseluruhan, konsumen di kawasan Asia Tenggara serta Taiwan dan Hong Kong merasa lebih aman untuk bertransaksi langsung di toko dibandingkan dengan pembayaran secara online. Meskipun demikian, China menjadi satu-satunya negara dimana para konsumennya merasa bahwa pembayaran online lebih aman dibandingkan dengan pembayaran langsung di toko, bahkan melebihi Singapura.

Ketika berbicara mengenai transaksi online, hampir setiap konsumen di Greater China telah melakukan pembayaran online sejak tahun lalu. Sedangkan konsumen di China itu sendiri (62 %) lebih memilih untuk menggunakan digital wallets dalam pembayaran online, melebihi konsumen di Hong Kong (14 %) dan Taiwan (29 %).

Sementara itu, MasterCard Safety and Security Index™ juga memperkuat fakta bahwa bank senantiasa memainkan peran penting dalam menjamin keamanan pembayaran bagi konsumen di Asia Tenggara. Hal ini disebabkan oleh tingginya tingkat kepercayaan konsumen kepada bank serta kepercayaan konsumen bahwa bank dapat membantu mereka untuk mengatasi isu-isu yang muncul terkait dengan keamanan transaksi pembayaran.

Bank seringkali menjadi garis perlindungan terdepan dan solusi bagi korban penipuan transaksi online – hampir setengah dari seluruh konsumen di Asia Tenggara yang pernah mengalami kejahatan terkait dengan penggunaan ATM langsung mendatangi bank penerbit kartu mereka sebagai langkah pertama untuk meminta saran.

“Fakta bahwa mayoritas pemegang kartu memiliki hubungan baik dengan bank, juga memiliki korelasi yang mendalam terhadap sentimen mengenai siapa yang paling bisa mereka percaya untuk menjamin keamanan saat melakukan pembayaran elektronik. Hal ini tercermin dari hasil penelitian dari para konsumen di kawasan Asia Tenggara dan Greater China,” ujar Ari Sarker, Co-President, MasterCard, Asia Pacific.

Ia menambahkan khususnya di Singapura, selain bank, konsumen juga menaruh kepercayaan yang besar pada pemerintah yang telah memberikan sebuah aturan negara yang kuat serta reputasi secara keseluruhan yang baik terkait dengan keamanan pembayaran.

Melalui penelitian tersebut juga dinyatakan bahwa tidak ada satupun responden di Asia Tenggara mempercayai website lokal. Hal ini disebabkan mereka masih menganggap bahwa pelaku bisnis e-commerce lokal masih harus melakukan banyak perbaikan untuk menjamin bahwa standar keamanan pembayaran yang digunakan telah memenuhi ketentuan internasional dan membangun kepercayaan konsumen saat bertransaksi online.

Di Greater China, terlepas dari bank dan pemerintah, pelaku bisnis atau pedagang juga dianggap memiliki tanggung jawab dalam menjamin keamanan transaksi pembayaran, dimana 28 persen konsumen dalam kawasan tersebut akan menemui pedagang sebagai usaha pertama mereka dalam mencari solusi pembayaran yang aman. Selain itu, pedagang dalam kawasan ini juga membantu menyelesaikan 40 persen dari permasalahan transaksi pembayaran online. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)