8 Megatrends yang Berdampak Bagi Pemimpin dan Organisasi di Indonesia | SWA.co.id

8 Megatrends yang Berdampak Bagi Pemimpin dan Organisasi di Indonesia

Henrik Ekelund, Founder & Chairman BTS Group (Foto: Audrey/SWA)

Megatrends merupakan kunci utama dari keberlanjutan dan kekuatan ekonomi makro yang berdampak pada sistem sosial dan lanskap ekonomi dunia. Ada perubahan yang bersifat radikal, masif, terstruktur, dan tidak dapat dibendung berimplikasi pada sumber daya yang dimiliki dengan kelangkaan sumber pangan, air, dan energi serta arus urbanisasi yang masif dan pertumbuhan ekonomi kelas menengah dunia.

Pemerintah, perusahaan dan pemangku kepentingan harus berhati-hati dalam merespon, menganalisis, mendesain strategi masa depan dan proses perencanaan yang konsisten dan berkelanjutan serta memperhatikan lingkungan alam dan sekitar agar nantinya terjadi perubahan yang berdampak positif dan berkelanjutan.

Henrik Ekelund, Pendiri & Chairman BTS perusahaan konsultan global dan terdepan dalam pengembangan kepemimpinan di aspek strategi, people and culture yang mengidentifikasi 8 megatrend global yang berdampak jangka panjang dan berbasis data. Pertama, demografis terkait pertumbuhan populasi yang melambat dan akan banyak generasi yang menua sehingga menyebabkan pertumbuhan ekonomi yang melambat.  Persaingan akan semakin ketat untuk mencari talenta/sumber daya manusia yang berbakat sesuai dengan bidangnya masing-masing.

Kedua, lebih banyak negara yang demokratis. Di berbagai tempat kerja juga demikian karena generasi muda sekarang cenderung tidak suka diperintah, namun ingin diberdayakan dan mempunyai peranan lebih.  “Tren ini di berbagai negara tidak selalu sama. Swiss dan Indonesia termasuk dua negara yang mempunyai generasi muda yang ingin lebih diberdayakan bukan hanya diperintah saja. Generasi muda mempunyai nilai tambah dan kekuatan karena melek teknologi dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Kita bisa melihat generasi muda memanfaatkan TikTok untuk memasarkan produk, menyebarkan konten positif dan lainnya,” ujar Henrik saat ditemui oleh SWA Online di Jakarta di sela-sela kunjungan kerjanya ke berbagai negara di Asia Tenggara, Selasa (14/02/2023).

“Untuk perusahaan yang ingin lebih sukses memikat dan mempertahankan generasi muda untuk bergabung di dalam timnya, perusahaan harus memiliki dua hal penting berikut ini, yaitu purpose atau clear strategy dan coaching yang baik, bukan sekedar instruksi.  Ini akan menjadi tarik bagi brand dari perusahaan itu sendiri,” lanjutnya.

Perusahaan di masa depan akan mencari talenta muda yang mempunyai kemampuan dan pengalaman yang baik di aspek marketing, teknologi dan produk. Penguasaan bahasa asing juga merupakan aspek penting.  Akan lebih bagus jika talenta muda memiliki pengalaman tinggal di luar negeri untuk belajar kultur berbeda di negara lain. Di samping itu, setiap perusahaan membutuhkan pemimpin yang mempunyai visi dan bisa memberikan nilai lebih kepada generasi muda serta mau mengembangkan potensi yang dimiliki dari setiap karyawannya dari berbagai generasi. Selain itu, setiap pemimpin perlu mempunyai tingkat kompetensi yang memadai di berbagai aspek.

Ketiga, deglobalisasi. Dunia akan menjadi dua blok atau poros kekuatan. Jadi akan memberikan banyak peluang kepada negara yang netral, seperti Indonesia dalam berkolaborasi dengan negara lain. Contohnya Amerika Serikat dan Eropa mulai tidak membeli produk buatan China, tapi lebih memilih untuk membelinya dari negara berkembang seperti Indonesia dan Vietnam.

Keempat, digitalisasi akan terus berkembang pesat dan berinovasi mengikuti zaman. Salah satunya Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan yang mempengaruhi cara berkomunikasi dan mengubah pola kerja. AI bisa membantu kita sebagai ‘asisten’ namun bisa menggantikan manusia di beberapa pekerjaan.

“Jadi akan dua tren besar untuk knowledge worker yaitu mempunyai AI sebagai asisten mereka dalam bekerja. Contohnya, pekerja jurnalistik bisa dibantu dengan teknologi AI seperti ChatGPT. Namun tren lain adalah beberapa pekerjaan akan digantikan total oleh AI, tapi tidak akan menimbulkan krisis yang terlalu besar. Hal ini justru akan membuka peluang jenis pekerjaan baru. Ada juga beberapa sektor pekerjaan yang tidak terlalu terpengaruh dengan AI seperti, healthcare, pariwisata dan layanan bisnis,” terangnya.

Kelima, diversitas, kesetaraan dan inklusi. Orang tidak lagi memandang gender, ras, suku dan bangsa, mereka akan berkolaborasi dengan kesetaraan. 

Keenam, dekarbonisasi. Kebanyakan pemerintah dari berbagai negara akan menerapkan konsep industri net zero emission. Pajak dan subsidi akan digunakan untuk mencapai tujuan tersebut. Masyarakat juga menyadari pentingnya menjaga kelestarian lingkungan dengan tidak membeli barang maupun produk yang menimbulkan polusi. 

Ketujuh, inovasi yang terus dijalankan akan memungkinkan terjadinya peningkatan pendapatan dan kesuksesan di masa depan.  “Setiap perusahaan yang mampu berinovasi dan bisa mengadopsi teknologi terbarukan nantinya akan sukses, berjalan mengikuti kondisi lingkungan dan aspek kondisi sosial terkini,” ujarnya.

Kedelapan, inflasi. Beberapa ahli mengatakan inflasi hanya bersifat sementara akibat situasi dunia saat ini, namun ada juga yang mengatakan inflasi akan terus meningkat hingga beberapa dekade mendatang.

Editor : Eva Martha Rahayu

Swa.co.id

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)