Survei Accenture : 79% Profesional Percaya Tahun 2030 CTO Perempuan Bertambah

Accenture merilis hasil penelitian terbaru. Kali ini, perusahaan konsultan manajemen dan layanan teknologi asal Amerika Serikat tu, memaparkan bahwa 79% profesional Indonesia percaya bahwa pada tahun 2030 jumlah chief technology officer (CTO) perempuan akan bertambah.

Penelitian dilakukan pada November 2014 di mana penyelenggaraannya dilakukan secara online dengan melibatkan 3.600 pebisnis profesional – dari entry level hingga level manajemen- di 30 negara. Responden di Indonesia mencapai 100 orang, yang terbagi atas 50% wanita, sisanya pria. Penelitian ini melibatkan 32% generasi milenia, 33% gen x, dan sisanya generasi baby boomer. “Pada 15 tahun mendatang jumlah profesional perempuan yang bidang teknologi, khususya yang menduduki posisi CTO akan semakin bertambah. Pada saat ini jumlahnya juga cukup banyak,” terang Neneng Goenadi, Country Managing Director Accenture Indonesia.

IMG_5034-1

Dari riset tersebut juga menyebutkan bahwa 71% responden global percaya jumlah CTO perempuan akan kian tumbuh. Dan lebih dari setengah responden global dan Indonesia mengatakan bahwa perusahaannya mempersiapkan lebih banyak wanita untuk menduduki posisi manajemen senior.

Penelitian yang mengambil tema kampanye “Listen, Learn, Lead” dengan berbasis pada kemajuan teknologi informasi, itu menunjukkan bahwa 99% responden di Indonesia merasa dirinya memiliki keahlian mendengar yang baik, dan sebanyak 42% responden menyatakan mereka menghabiskan 50-74% waktu jam kerja mereka dengan banyak aktivfitas (multitasking) setiap hari. “Padahal faktanya lebih dari setengah responden Indonesia, dibandingkan 64% di global, menyatakan bahwa keahlian mendengar semakin sulit di tempat kerja pada era digital saat ini,” paparnya.

Sementara itu, tambah Neneng, walau 72% responden di Indonesia – dibanding 66% di global- setuju bahwa multitasking memungkinkan mereka untuk mencapai hasil lebih banyak di tempat kerja, sepertiga responden di Indonesia dan di global menyatakan bahwa gangguan di waktu kerja menurunkan kemampuan mereka untuk memberikan hasil kerja yang terbaik, menurunkan fokus, menurunkan kualitas kerja dan mengurangi kualitas hubungan kerja dalam tim.

Responden Indonesia mengutarakan bahwa yang menjadi gangguan utama sepanjang jam kerja meliputi panggilan telepon (24% responden), dan jadwal rapat/kunjungan mendadak (37% responden) jauh lebih sering dibandingkan pesan instan (8% responden) dan pesan singkat (4% responden).

“Penelitian juga menemukan bahwa 60% responden Indonesia percaya bahwa teknologi memungkinkan pemimpin berkomunukasi dengan timnya secara mudah dan cepat, dan hampir separuh responden juga meyakini keuntungan tambahan seperti fleksibilitas waktu dan tempat kerja dan meningkatkan aksesbilitas,”ungkap Neneng. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)