Accenture Paparkan 5 Tren Teknologi Digital Sektor Refinery Migas

Neneng Goenadi, Country Managing Director Accenture Indonesia dan Mark Teoh, Managing Director Resources Operating Group Accenture melaporkan hasil survei The Intelligent Refinery di Jakarta, (31/7). (foto: Jeihan Kahfi/SWA)

Accenture bersama PennEnergy Research dengan mitra Oil and Gas Journal untuk kedua kalinya melakukan survei tahunan mengenai peran teknologi digital dalam mendukung industri minyak dan gas bumi. Survei berjudul “The Intelligent Refinery” ini melibatkan 169 eksekutif di berbagai perusahaan pengolahan (refinery) migas di 48 negara, termasuk Indonesia.

Neneng Goenadi, Country Managing Director Accenture Indonesia, mengungkapkan, perbedaan hasil survei tahun ini adalah Indonesia menjadi responden di dalam survei yang dilakukan secara online pada Maret 2018. “Riset ini memperlihatkan adanya lima tren transformasi digital di bidang migas yakni konvergensi teknologi informasi dan sistem operational sudah menjadi bagian dari bisnis, kematangan transformasi digital, tingkat kesadaran perusahaan terhadap digital, kurangnya investasi di bidang digital meningkatkan risiko perusahaan dan pentingnya keterampilan tenaga kerja,” ujarnya di kantor Accenture, Jakarta, (31/7/2018).

Mark Teoh, Managing Director Resources Operating Group Accenture, memaparkan, 41 persen dari responden menyebutkan bahwa perusahaan mereka sudah dapat menentukan hasil secara finansial dari implementasi teknologi digital, termasuk 30 persen responden yang mengungkapkan bahwa teknologi digital telah meningkatkan marjin keuntungan perusahaan mereka lebih dari 7 persen dalam 12 bulan terakhir. Sementara 20 persen dari responden mengatakan bahwa implementasi teknologi digital dapat menambahkan nilai bisnis dari US$ 50 juta hingga US$100 juta atau lebih, dengan sepertiga (33 persen) dari responden yang menyatakan nilai tambahan sebesar US$5 juta hingga US$ 50 juta.

Manfaat finansial yang dapat langsung dirasakan ini menunjukkan mengapa lebih dari separuh (59 persen) perusahaan yang terlibat dalam survei yang sama tahun lalu saat ini tengah meningkatkan investasi mereka pada teknologi digital dibandingkan dengan 12 bulan yang lalu. “Selain itu, tiga perempat (75 persen) mempunyai niat akan meningkatkan pengeluaran mereka untuk implementasi digital dalam waktu tiga hingga lima tahun mendatang,” kata Mark.

Demikian juga, hampir setengah (48 persen) dari responden menilai implementasi teknologi digital dalam perusahaan mereka sudah cukup matang (mature) atau tengah diperkuat (semi-mature). Namun, pada saat yang sama, sebagian besar perusahaan minyak dan gas bumi masih dalam tahap belum memperkuat implementasi teknologi digital, seperti misalnya ke bidang analitik.

Terkait teknologi digital yang mempunyai pengaruh paling besar akan peningkatan marjin operasional perusahaan, 61 persen responden paling sering menyebutkan sistem kontrol proses tingkat lanjut (advanced process control) dan 50 persen menyebutkan sistem analisa data tingkat lanjut (advanced data analytics).

Teknologi mutakhir yang dapat memberikan nilai tambah termasuk di antaranya adalah teknologi sensor Internet of Things (IoT) dan teknologi edge-computing, gabungan realitas dan virtual (mixed reality), mobility dan blockchain/smart contacts belum diimplementasikan secara maksimal atau hanya sebagai program percontohan sehingga cenderung menerima investasi lebih sedikit dibandingkan dengan teknologi lainnya selama setahun ke depan.

Mengingat hal ini, sangat penting bagi perusahaan minyak dan gas bumi untuk menyusun strategi digital perusahaan secara lebih efisien, melihat bahwa seperempat (24 persen) dari eksekutif yang disurvei menyebutkan bahwa saat ini tidak ada peran yang jelas di dalam organisasi dalam mengarahkan strategi digital perusahaan. 43 persen melaporkan bahwa strategi digital yang kurang jelas menjadi halangan akan meningkatnya implementasi teknologi digital di perusahaan-perusahaan minyak dan gas bumi.

Namun, saat ini perubahan ke arah positif sedang terjadi. Sekarang, 11 persen dari responden mengatakan bahwa di perusahaan mereka sudah ada Chief Digital Officer yang menentukan agenda digital perusahaan. Secara lebih spesifik, sepertiga (34 persen) dari perusahaan yang disurvei tengah membangun struktur organisasi baru, lebih dari seperempat (28 persen) membentuk komite pengarah perusahaan (steering committee) dan 15 persen memperkuat jajaran manajemen puncak (C-level) baru.

Mark menambahkan, “Saat ini, perusahaan minyak dan gas bumi hanya mendapatkan sebagian kecil dari nilai yang dapat dihasilkan perusahaan yang melakukan implementasi digital. Langkah selanjutnya adalah menggabungkan dan mengimplementasikan berbagai macam teknologi tingkat lanjut untuk memperbarui proses bisnis perusahaan dan mendorong transformasi di seluruh lini pabrik minyak dan gas bumi.”

Meningkatnya jumlah serangan siber
Seiring meningkatnya jumlah serangan siber, kebutuhan akan ketahanan dan tanggapan siber juga terus meningkat. Memang, 28 persen dari responden menyatakan melihat lebih banyak serangan siber dibandingkan tahun lalu. Lebih menghawatirkan lagi adalah pada saat operasional perusahaan menjadi semakin terhubung (connected) dan lebih rentan akan ancaman siber, sepertiga (33 persen) responden mengatakan bahwa mereka tidak menyadari berapa jumlah serangan siber yang sedang mereka alami.

Kebutuhan akan investasi digital terus meningkat, seperti yang dinyatakan 38 persen dari responden yang mengemukakan bahwa keamanan data menjadi halangan akan adopsi teknologi digital dalam perusahaan. Responden menyatakan bahwa risiko yang paling sering dikaitkan oleh keamanan siber adalah dampak terhadap operasional perusahaan (67 persen), dampak terhadap kesehatan dan keamanan tenaga kerja (39 persen) dan serangan data (39 persen).

Namun, hanya 28 persen dari eksekutif yang disurvei menyatakan bahwa perangkat digital dapat meningkatkan keamanan siber di salah satu dari tiga bidang prioritas utama untuk investasi teknologi digital. Responden lebih khawatir akan dampak kurangnya investasi digital akan daya saing perusahaan (dinyatakan oleh lebih dari 67 persen responden), bagaimana digital dapat membantu mengurangi pengeluaran dan meningkatkan marjin perusahaan (64 persen) dan dampak kurangnya investasi digital akan keandalan operasional perusahaan (58 persen).

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)