Agility Adalah Keharusan Agar Bisnis Tetap Berlanjut

KPMG merilis hasil survei mengenai pandangan para pemimpin bisnis di dunia yang dikemas dengan tajuk '2019 Global CEO Outlook'. Survei ini melibatkan 1.300 Chief of Executive Officer (CEO) yang memimpin perusahaan kelas dunia dengan skala bisnis diatas US$ 500 juta dan sepertiga di antaranya adalah CEO dari perusahaan dengan pendapatan tahunan diatas US$ 10 miliar. Survei yang dilakukan pada Januari – Februari 2019 ini menghasilkan beberapa temuan menarik.

Pertama, pandangan para CEO mengenai pertumbuhan bisnis. “Sebagian besar mereka melihat bisnis saat ini menghadapi tantangan ketidakpastian arah,” ungkap Irwan Djaja, CEO KPMG Sidharta Advisory. Terkait dengan kondisi ekonomi global, hanya 62% responden yang confident, meski demikian, menurut Irwan, secara keseluruhan responden tetap percaya bisnisnya akan tumbuh.

Hal menarik lainnya dari survei ini adalah pandangan CEO mengenai hal-hal yang paling memengaruhi risiko bisnis. “ Ada dua unsur baru yang masuk dalam daftar risk landscape para CEO global ini dan dominan, yakni isu perubahan iklim dan lingkungan hidup, kedua adalah isu disrupsi teknologi, dua isu ini kini menjadi perhatian teratas bisnis dunia,” jelas Irwan. Sementara itu, isu keamanan siber turun diposisi keempat dalam daftar isu risiko bisinis.

“Bukan berarti faktor keamanan siber ini menjadi berkurang kadar pentingnya, tetapi karena sudah diadaptasi dengan baik oleh perusahaan, sehingga perhatiannya kini bergeser ke isu lingkungan dan perubahan iklim,” ujar Irwan.

Sebanyak 50% CEO di empat negara yakni Australia, Inggris, Perancis dan China merasa kurang percaya dengan prospek kondisi ekonomi global. Kemudian juga muncul era kompetisi baru sebagai concern yang baru, sehingga 63% CEO menjawab, mereka memilih untuk lebih duluan mendisrupsi sektornya dengan inovasi produk dan jasa.

Selain itu, 67% CEO mengatakan agility atau kelincahan adalah sebuah aspek yang kritikal saat ini. Kelincahan dianalogikan sebagai mata uang baru dalam bisnis dan jika mereka tidak beradaptasi, maka bisnisnya akan menjadi tidak relevan.

Di Indonesia sendiri, 10% CEO yakin bahwa pertumbuhan pendapatan (topline) mereka akan lebih dari 10% dalam tiga tahun kedepan, sementara 80% lainnya mengatakan akan kurang dari 2%. Hal ini karena mayoritas CEO Indonesia sedang fokus melakukan transformasi bisnis di dalam organisasi mereka.

Bill Thomas,Global Chairman KPMG International, mengatakan, untuk menjadi CEO yang sukses di masa sekarang haruslah bisa bergerak gesit. Berhasil dalam dunia yang penuh gejolak dan ketidakpastian membutuhkan keterampilan kepemimpinan yang berbeda, terutama di organisasi multinasional besar.

"Ini bukan lagi masalah hanya mempertahankan posisi Anda dan menggunakan skala untuk mempertahankan keunggulan kompetitif. Saat ini, CEO perlu mengubah model bisnis mereka dengan menjalin kemitraan strategis baru, mmempertimbangkan strategi Merger & Acquisition (M&A) alternatif dan meningkatkan keterampilan tenaga kerja mereka," ujarnya.

Dalam situasi sekarang di mana inovasi teknologi yang mendorong pertumbuhan, sebagian besar CEO Indonesia (70 % vs 84 % secara global) percaya bahwa budaya gagal-cepat (fail-fast culture) sangat diperlukan untuk saat ini, di mana suatu organisasi harus bisa belajar cepat dari kegagalan yang dialami. Namun, hanya 40 persen (secara global 56 persen) mengatakan bahwa jenis budaya tersebut ada di organisasi mereka.

CEO Indonesia juga lebih berhati-hati dalam penggunaan teknologi cloud dengan hanya 30 % lebih percaya tentang peningkatan penggunaan teknologi cloud dalam organisasi mereka, dibandingkan dengan 78% dari kolega global mereka. Menariknya, 90 % memiliki kekhawatiran tentang migrasi semua data bisnis mereka ke cloud.

“Membudayakan Artificial Intelligence (AI) dan teknologi baru dalam organisasi yang sudah mapan adalah tugas yang menantang dan CEO perlu mengambil posisi terdepan dalam mendorong pemanfaatan teknologi di organisasi mereka,” kata Irwan.

Irwan menambahkan, hal ini memberikan peluang yang unik bagi organisasi di Indonesia untuk memperbaharui kemampuan digital mereka, supaya bisa ikut mengambil keuntungan dari ekonomi digital Indonesia yang sedang berkembang pesat.

Bagi banyak CEO, merger & acquitition (M&A) menghadirkan peluang terbaik untuk meningkatkan kemampuan digital dengan cepat. Strategi M&A proaktif menjadi agenda penting bagi 84 % CEO yang memiliki selera M&A sedang atau tinggi selama tiga tahun ke depan. Hal ini lebih didorong oleh pandangan bahwa M&A dapat mengubah model bisnis lebih cepat daripada pertumbuhan organik.

Ketika diminta untuk memprioritaskan antara membeli teknologi baru atau mengembangkan tenaga kerja mereka untuk meningkatkan ketahanan organisasi mereka, CEO secara global lebih menyukai opsi teknologi dengan perbandingan dua banding satu (68% vs 32%) dengan CEO Indonesia memiliki persentase yang lebih tinggi (80% vs 20%). “Setengah dari CEO Indonesia berpendapat bahwa sulit untuk mencari talenta yang mereka butuhkan,” jelas Irwan.

Kecerdasan buatan (AI) ada di benak para CEO, namun hanya 16% yang telah mengimplementasikan program AI dan otomatisasi. Selanjutnya 31% masih dalam tahap uji coba, sementara 53 % mengakui melakukan implementasi AI terbatas. Namun 65% CEO percaya bahwa masuknya AI dan otomatisasi akan menciptakan lebih banyak pekerjaan daripada yang dihilangkan. Bill melanjutkan, “Secara keseluruhan, survei tahun ini memberi tahu kami bahwa kami telah memasuki era kepemimpinan baru. Kelincahan (Agility) dapat dicapai dengan menyeimbangkan naluri CEO dengan keyakinan pada apa yang telah ditunjukkan data. Data yang bias perlu dikeluarkan dalam mengambil keputusan strategis. Tidak lagi cukup untuk dengan hanya mencari ”big” data, sebaliknya CEO harus menggunakan teknologi untuk mengungkap data yang berkualitas. Hanya melalui ini mereka akan menciptakan ketahanan organisasi untuk mendorong pertumbuhan."

Editor: Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)