Antisipasi Pelaku Pasar Properti di Tahun Pemilu

Perkembangan ekonomi Indonesia yang tidak terlepas dari fluktuasi yang terjadi di kawasan Asia Pasifik maupun ekonomi global turut mempengaruhi perlambatan yang terjadi di pasar properti Indonesia, khususnya Jakarta. Melemahnya rupiah dan naiknya suku bunga membuat pelaku pasar cenderung melakukan aksi menahan rencana ekspansi atau pembelian. Ditambah dengan melemahnya sentimen sebagian kalangan sebagai antisipasi dampak pemilu yang akan berlangsung tahun ini membuat volume permintaan pasar di semua sektor belakangan ini menurun. Kondisi tersebut merupakan kesimpulan paparan yang diberikan oleh Jones Lang LaSalle, konsultan properti internasional yang berkantor pusat di Chicago, Amerika Serikat, dalam acara bertajuk Quarterly Media Briefing, yang diadakan di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (23/1/2014).

Anton Sitorus Anton Sitorus

"Mengacu kepada hasil survei pasar properti di Jakarta yang dilakukan oleh Jones Lang LaSalle baru-baru ini, tren perlambatan yang mulai terjadi sejak triwulan III lalu masih berlanjut ke triwulan IV," kata Anton Sitorus, Head of Research Jones Lang LaSalle.

Dia mengatakan, volume permintaan di berbagai sektor menurun dibandingkan triwulan sebelumnya. Akan tetapi, semuanya masih berada di kisaran yang positif, karena penurunan yang terjadi berasal dari tingkat yang tinggi terkait periode booming yang terjadi dalam dua tahun belakangan ini.

Di sektor perkantoran komersial, Angela Wibawa, Head of Markets Jones Lang LaSalle, mengatakan bahwa penyerapan ruang kantor di daerah CBD sepanjang triwulan IV tahun lalu kembali menurun dari sekitar 61.000 m2 di triwulan sebelumnya menjadi sekitar 24.000 m2. Akan tetapi, lanjutnya, hal tersebut belum membuat tingkat hunian turut turun. Malah, di akhir tahun 2013, tingkat hunian perkantoran di CBD naik tipis menjadi 94%.

Sementara di daerah non-CBD, Angela mengatakan, total penyerapan sepanjang tahun 2013 turun 27% menjadi sekitar 150.000 m2, yang mana jumlah tersebut lebih rendah dibanding tahun 2012, namun masih lebih tinggi dibanding periode booming 2011. Baik di daerah CBD maupun non-CBD, kata dia, menurunnya volume permintaan tidak membuat harga sewa rata-rata turun. Menurutnya, kenaikan nilai tukar dollar (US) memang memberikan tekanan bagi sebagian pemilik gedung untuk membuka ruang negosiasi dengan para penyewa, akan tetapi harga sewa yang dipublish tidak mengalami penurunan.

Sementara itu, Luke Rowe, Head of Residential Jones Lang LaSalle, menyampaikan bahwa penjualan sepanjang periode Oktober-Desember 2013 turun tipis dibandingkan periode triwulan III menjadi sekitar 2.250 unit. Dengan demikian, tambahnya, total penjualan kondominium di pasar primer di Jakarta selama tahun lalu mencapai sekitar 13.260 unit, di mana jumlah tersebut melampaui total penjualan di periode puncak tahun 2012.

Lebih lanjut, Luke mengatakan, tidak dipungkiri bahwa berkurang volume penjualan dalam dua triwulan terakhir membuat perkembangan harga tidak sepesat periode sebelumnya. Di tahun 2013, kenaikan harga rata-rata kondominium hanya 15%, atau lebih rendah dibandingkan tahun 2012 ketika harga naik sampai dengan 22%.

"Sektor ritel merupakan sektor yang pertumbuhannya relatif cukup stabil dibanding yang lainnya," kata Vivin Harsanto yang membawahi Department Consulting. Di tahun lalu, total penyerapan di mal sewa Jakarta mencapai sekitar 179.000 m2 dan tingkat hunian tetap di kisaran 93%. Pertumbuhan pasar ritel di Jakarta terus didukung ekspansi peritel baik yang sudah ada maupun yang baru masuk ke Indonesia. Kuatnya konsumsi masyarakat khususnya segmen menengah ke atas di Jakarta menumbuhkan bisnis ini dan mendorong permintaan akan ruang untuk toko-toko baru.

Akan tetapi, perkembangan nilai tukar rupiah belakangan ini membuat tantangan bagi peritel, khususnya produk-produk impor, di mana hal tersebut juga memberikan pengaruh kepada tingkat penjualan, sehingga berdampak atas tekanan harga sewa yang pertumbuhannya relatif lambat dalam dua triwulan terakhir.

Kondisi pasar properti di tahun pemilu

Memasuki tahun 2014, Todd Lauchlan, Country Head Jones Lang LaSalle Indonesia mengatakan bahwa perlambatan pasar berpeluang untuk berlanjut dalam beberapa triwulan ke depan, di mana kelihatannya para pelaku pasar pun sudah memahaminya. Kondisi ekonomi dan sosial-politik menjelang pelaksanaan pemilu diperkirakan membuat dinamika bisnis termasuk sektor properti akan sedikit mereda.

Menurut Todd, secara umum, permintaan dan pertumbuhan harga properti diperkirakan menurun dibandingkan tahun 2013. Akan tetapi, momen setelah pemilu bisa menjadi awal baru pertumbuhan pasar properti dengan asumsi pelaksanaan pemilu dan hasilnya berjalan positif, dan pertumbuhan ekonomi terus berlanjut. "Prediksi sejumlah institusi ekonomi global terhadap Indonesia memberikan optimisme yang kuat untuk investor baik dalam negeri maupun internasional untuk mengembangkan bisnis di Indonesia, yang tentunya akan memberikan imbas positif bagi sektor properti tanah air," tutup Todd. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)