Apa yang Terjadi Jika Pertumbuhan Ekonomi di Bawah 4% ?

Optimis memang perlu terus dipupuk menghadapi kondisi ekonomi saat ini. Wakil Presiden Jusuf Kalla dalam forum Indonesia Summit 2016, mengatakan, pemerintah tetap optimis pada target pertumbuhan hingga di atas 5 %. Meski perlambatan ekonomi memang sedang melanda seluruh negara di dunia, tetapi menurut JK, pemerintah tetap akan mencari solusi guna mencapai target yang sudah tercantum dalam APBN 2016 itu.

indonesia summit sesi 1 IMG20160225124827

Tetapi, dalam forum yang sama, sebuah pertanyaan menggelitik muncul untuk mencari tahu apa yang akan terjadi jika target tersebut tidak bisa tercapai atau pertumbuhannya kurang dari 4 %  Ekonom dan Direktur Mandiri Institute, Muhammad Chatib Basri, menjelaskan, ada dua dampak, yakni dampak dalam negeri dan dampak regional. Dampak dalam negeri di antaranya adalah pengurangan tenaga kerja alias PHK meningkat, yang berujung naiknya angka pengangguran dan kemiskinan.

Dua kondisi tersbut kemudian bisa memicu ketidakstabilan politik dalam negeri. Kedua dampak di tingkat regional, hal ini bisa terjadi karena total potensi ekonomi Indonesia adalah 50 % dari total seluruh potensi ekonomi Asia Tenggara, “Inilah mengapa jika ekonomi Indonesia melambat, maka akan berdampak cukup signifikan bagi ekonomi regional,” jelas Chatib.

Menurut mantan Menteri Keuangan era Presiden SBY itu, meski demikian tetap akan ada dampak positif dari kondisi ekonomi yang melambat, yaitu kesempatan bagi para teknokrat untuk berperan aktif membangun kembali reformasi negara, “Sebab di saat kondisi memburuk ,biasanya para politisi akan mau mendengarkan masukan teknokrat,” ungkapnya.

Di sisi lain, Raymond Siva, CEO Edelman Indonesia, yang juga hadir sebagai pembicara dalam forum tersebut, berpendapat, justru akan ada peluang-peluang bisnis baru yang akan tumbuh sebagai dampak melambatnya ekonomi. Menurutnya, kondisi demikian akan mengubah pola konsumsi, masyarakat akan mencari cara berhemat mulai dari biaya BBM, listrik hingga transportasi umum. Ia mencontohkan, saat ini orang lebih memilih menggunakan transportasi umum berbasis online seperti Uber atau Grabcar ketimbang taksi dengan argo. Kedua, berbelanja lewat situs online yang bebas ongkos kirim menjadi pilihan karena akan lebih hemat biaya transportasi dan masih banyak lagi upaya berhemat. “Dengan begitu industri kretif berbasis teknologi informasi justru mendapat peluang bertumbuh ditengah situasi ekonomi yang sulit,” jelasnya.

Senada dengan Raymond, menurut Chatib, semakin tinggi tekanan ekonomi biasanya akan membuat para pebisnis dan perusahaanya semakin kreatif dan inovatif agar bisa bertahan. “Mereka akan berusaha mencari segala bentuk kreatifitas agar produk dan jasanya tetap bisa dijangkau masyarakat,” ujarnya. Selanjutnya menurut Chatib, kedepan pertumbuhan ekonomi lebih banyak didorong oleh teknologi informasi, “Dalam 10 tahun terakhir pertumbuhan ekonomi Indonesia masih didorong oleh harga komoditi, tetapi ke depan industri berbasi komoditi akan mulai digeser eksistensinya oleh industri berbasis teknologi informasi dan manufaktur,” jelasnya. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)