Bain: 2015, Ekuitas Swasta Mencatatkan Tahun yang Solid

Perusahaan konsultan strategi  Bain & Company baru-baru ini merilis sebuah laporan tentang perkembangan ekuitas swasta global. Dalam laporan bertajuk 'Global Private Equity Report 2016', Head of Bain’s Asia Pacific Private Equity Practice, Suvir Varma, menggarisbawahi bahwa secara umum perusahaan private equity menunjukkan tren yang solid dan sehat pada tahun 2015, di tengah perlambatan ekonomi, voltalitas pasar modal, dan memanasnya persaingan dalam investasi. Hal itu di buktikan dengan peningkatan nilai kesepakatan pembelian saham secara global yang mencapai angka US$ 282 miliar atau naik 5 persen dari tahun sebelumnya, dengan jumlah kesepakatan yang turun 14 persen, atau lebih kecil sedikit dari tahun 2104.

Namun demikian Varma mengingatkan bahwa ke depan kemungkinan akan menghadapi tekanan-tekanan. Tekanan itu berasal dari kompetisi yang semakin ganas, dan juga ancaman atas potensi dari resesi. Dalam 10 tahun belakangan, ia menyebutkan ekuitas swasta telah melalui pergolakan voltalitas. Ini dimulai ketika tahun 2006, ketika terjadi industri ini mulai booming dan menikmati masa keemasannya dengan capaian 'Mega Boyout'. Booming ini kemudian diikuti dengan adanya krisis keuangan dan resesi di tahun 2008, sehingga pada tahun 2010 timbul kekhawatiran akan banyak kebangkrutan di portofolio perusahaan- ekuitas swasta, bahkan kebangkrutan di ekuitas swasta itu sendiri, lantaran gunung utang yang membutuhkan refinancing.

Namun tampaknya kekhawatiran tersebut bisa dibilang berlebihan. Ekuitas swasta membuktikan diri bisa bergerak lebih tangguh dari yang diperkirakan. Gunung utang telah dibiayai kembali dan dibayar dengan bantuan Federal Reserve AS dan Bank Sentral Eropa menurunkan suku bunga mendekati nol. Sebuah periode stabilitas ekonomi yang membawa kebaikan bagi pasar ekuitas global, dan juga keseimbangan kas perusahaan. “Ini adalah dekade yang dramatis bagi private equity, tapi seperti yang kita lihat investor pintar mencari cara menghadapi tantangan pasar, menghasilkan uang dan pertumbuhan. Ini merupakan mentalitas yang diperlukan untuk tahun 2016, sebagai bayangan dari kenaikan suku bunga dan juga risiko resesi,” ujar Varma.

Ekuitas swasta pada tahun 2015

Tahun lalu, GPs mencatatkan komitmen dalam dana pembelian saham baru sebanyak $175 miliar, angka ini turun 11 persen dibanding tahun 2014. Meskipun demikian, langkah GPS tetap menggalang dana baru tahun 2015, menunjukan kondisi terbaik untuk penggalangan dana, walau secara keseluruhan jumlahnya sedikit lebih rendah dari tahun lalu. Pasokan uang ke LP juga begitu besar bahkan berada diatas rata-rata target penggalangan dana mereka.

Berdasarkan wilayah, aktivitas pembelian saham meningkat di Amerika Utara pada tahun 2015, di mana sebagian besar mencerminkan kondisi fundamental perekonomian yang lebih kuat di AS, tetapi sebaliknya terjungkal di Asia dan Eropa. Dilaporkan nilai kesepakatan pembelian saham mencapai $282 miliar secara global dengan aset likuid berisiko rendah yang dapat dikonversi ke uang tunai (dry powder) meningkat mendekati catatan sebesar $ 460 miliar. Penaksiran nilai (valuasi) aset, yang sudah tinggi mulai awal tahun 2015, meningkat menjadi 10.1 kali EBITDA di AS.

Nilai buyout-backed exits sedikit di bawah rekor $456 miliar dibanding tahun 2014, dengan realisasi U$$ 422 miliar dan 1.166 penawaran yang dilaporkan pada akhir tahun. Aktivitas exit terjadi dinamis hampir di seluruh wilayah dunia. Di Amerika Utara di mana buyout-backed exits mencapai U$$ 223 miliar. Sementara exit di kawasan Asia-Pasifik angka $85 miliar- seiring dengan kinerja di kawasan itu selama lima tahun terakhir. Bahkan di Eropa, dilanda oleh hutang dan krisis mata uang, GPs tertarik ke angka $143 miliar dalam penjualan aset - jumlah yang terlampaui hanya dua kali selama 20 tahun terakhir, pada tahun 2014 dan tahun 2007.

“Namun, hal ini terus berlanjut menjadi lingkungan kesepakatan yang sulit. Dry powder dan kebutuhan untuk memanfaatkan uang, menciptakan peningkatan persaingan  untuk kesepakatan baru. Di atas semua ini, korporasi menggunakan biaya modal yang lebih rendah untuk mendanai booming M & A dan bersaing dengan dana untuk kesepakatan baru,” kata Varma.

Dry Powder sendiri dalam dunia keuangan sering diartikan sebagaicadangan kas perusahaan terutama selama masa ekonomi sulit. cadangan kas ini mungkin diperlukan oleh perusahaan untuk memenuhi kewajibannya, sehingga dapat mengantisipasi kondisi sulit di depan. Dalam dunia keuangan, dry powder sering digunakan tak hanya mengacu pada cadangan kas, tetapi juga dapat mencakup aset cair lainnya, seperti dana pasar uang atau disisihkan untuk tujuan investasi.

Bein

 

Amanat untuk menjadi berbeda

Dengan kondisi penggalangan dana yang diperkirakan akan melambat dalam beberapa tahun ke depan, GP perlu menunjukkan kepada LP bahwa mereka memiliki diferensiasi strategi untuk mencapai kinerja yang unggul dari pesaingnya. LP Juga akan menggeser prioritas mereka dengan semakin banyak berkonsentrasi untuk jenis investasi dalam jumlah dana yang lebih kecil namun performa teratas.

Dalam hal ini strategi yang kuat akan menjadi penting untuk menggalang dana untuk para LP.
Berikut beberapa hal yang akan menjadi semakin penting di tahun-tahun mendatang:

* Pertama, sebagian perusahaan ekuitas swasta mempertajam fokus untuk berinvestasi pada area sweet spot. Mereka untuk membidik tawaran dengan karakteristik yang terbaik sesuai dengan kekuatan dari keunikan, kapabilitas dan dan pola masa lalu sukses.

* Kedua, sebagian perusahaanekuitas swasta mengembangkan wawasan investasi tematik untuk memanfaatkan tren makro dan memperoleh keunggulan investasi. Mereka menerapkan pemahaman mendalam tentang tren kunci untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi sektor bisnis yang punya potensi pertumbuhan jangka panjang yang berkelanjutan.

* Terakhir, Banyak banyak perusahaan ekuitas swasta memobilisasi talent dan sumber daya mereka untuk mengembangkan pendekatan berulang guna menciptakan nilai di lintas di portofolio mereka.
Mereka mengadopsi model penciptaan nilai yang mencerminkan filosofi unik perusahaan dan memastikan bahwa metode tersebut berjalan konsisten dan terfokus.

114385161

Bersiap Menjelang Resesi yang Membayangi

Waktu untuk perusahaan PE untuk mempersiapkan diri dari penurunan adalah sebelum badai terjadi. Aset portofolio yang diperoleh dalam dua atau tiga tahun terakhir sangat rentan terhadap
hentakan oleh turbulensi ekonomi. Mengingat sangat sulit untuk memprediksi datangnya badai, terkadang diperlukan beberapa langkah-langkah intervensi. Salah satu yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan penyegaraan di uji kelayakan dengan cara meninjau kembali dua isu: apakah potensi yang awalnya membuat investasi yang menarik masih berlaku dan apa saja
koreksi terhadap rencana penciptaan nilai yang mungkin diperlukan untuk posisi aset.

Pengetatan neraca juga bisa menjadi alternatif yang dipertimbangkan. Periode menuju ke perlambatan ekonomi juga merupakan waktu penting bagi GP untuk meneliti neraca portofolio prioritas mereka, dengan tujuan utama mengoptimalkan struktur permodalan. GP yang pintar akan mengeksplorasi cara untuk mengakomodasi pinjaman yang ringan dan tidak terlalu mencubit saat terjadi resesi. Mereka sadar untuk keluar dari sebuah investasi terkadang dapat memburuk di masa depan. Mereka juga mencari kesempatan untuk de-risiko investasi mereka dengan membebaskan uang tunai dari neraca dan menggunakannya untuk membayar utang. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)