BI: Inflasi Bakal Kembali ke Pola Normal

Badan Pusat Statistik (BPS), di Jakarta, Selasa (1/10/2013), mengumumkan terjadinya deflasi sebesar 0,35 persen (month to month) pada bulan September 2013. Bila membandingkan dengan bulan September tahun lalu, inflasi tercatat di angka 8,4 persen. Bank Indonesia pun berpandangan, capaian itu sejalan dengan prediksinya.

"Deflasi tersebut lebih besar dari perkiraan Survei Pemantauan Harga (SPH) Bank Indonesia, dan jauh lebih rendah dari perkiraan inflasi oleh banyak analis," ujar Difi A Johansyah, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, di Jakarta.

Bank IndonesiaDeflasi bisa terjadi pada September lalu karena koreksi harga pangan tercatat cukup dalam. Di mana terjadi pasokan produk pangan yang melimpah karena panen beberapa komoditas hortikultura, terutama bawang merah dan cabai. Selain itu, mulai turunnya harga daging sapi juga mendorong deflasi lebih lanjut sehingga kelompok volatile food mencatat deflasi 3,38 persen (mtm).

Meredanya tekanan inflasi bulanan juga terjadi pada kelompok inti dan administered prices masing-masing mencapai 0,57 persen (mtm) dan 0,34 persen (mtm). Hal itu terjadi seiring meredanya dampak kenaikan harga BBM dan koreksi harga pasca lebaran. "Terkendalinya harga-harga tersebut sejalan dengan perkiraan Bank Indonesia bahwa inflasi akan sangat rendah dan kembali ke pola normal mulai September dan bulan-bulan ke depan," tambah Difi.

Sementara itu, neraca perdagangan mencatat surplus US$ 0,13 miliar pada Agustus 2013, sejalan dengan penurunan impor. Neraca perdagangan non migas mengalami surplus sebesar US$ 1,03 miliar, dan defisit neraca perdagangan migas pun menyempit menjadi US$ 0,90 miliar.

Surplus neraca perdagangan non migas terjadi seiring laju penurunan impor non migas (29,5 persen, mtm) yang jauh lebih cepat dibandingkan laju penurunan ekspor non migas (18,9 persen, mtm). Impor non migas mencapai titik terendah sepanjang tahun ini, terutama disebabkan impor barang modal, khususnya alat angkutan untuk industri.

Penurunan ekspor non migas sendiri dipengaruhi pertumbuhan ekonomi global dan harga komoditas ekspor yang belum kuat, terutama pada ekspor kelompok barang primer (batubara, karet mentah, dan minyak & lemak nabati) dan kelompok produk manufaktur (mesin dan alat transportasi, produk kimia, barang konsumen lain yang lebih rendah, dan produk semi-manufaktur lainnya).

Di sektor migas, defisit neraca perdagangan migas pada Agustus mengecil terutama karena ekspor minyak meningkat (25,2 persen, mtm) seiring dengan kenaikan lifting minyak, sementara impor minyak turun (12,8 persen, mtm) sejalan dengan masih besarnya stok penyangga setelah Pertamina melakukan impor minyak yang besar di bulan Juli. "Perbaikan kinerja neraca perdagangan tersebut sejalan dengan perkiraan Bank Indonesia bahwa defisit transaksi berjalan triwulan III-2013 akan lebih kecil dari defisit yang terjadi pada triwulan II-2013," tandasnya. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)