Dahsyatnya Kerugian Gunakan Software Palsu

Mahalnya perangkat lunak (software) komputer orisinil membuat kebanyakan masyarakat mengincar barang yang palsu. Perangkat lunak palsu tentunya jauh lebih murah, tetapi juga jauh lebih berbahaya.

Sebuah studi terbaru yang digagas oleh Microsoft Corp, dan dilaksanakan oleh IDC, menemukan bahwa kesempatan pembeli software palsu untuk terinfeksi malware bisa terjadi di  1 dari 3 konsumen. Dan 3 dari 10 pebisnis bisa berisiko terkena malware karena penggunaan produk palsu.

Studi IDC yang berjudul “Bahayanya Dunia Software Palsu dan Bajakan,” dirilis Kamis (7/3/20130), sebagai bagian dari Play It Safe Day, yakni inisiatif global Microsoft untuk meningkatkan kesadaran terhadap isu-isu perangkat lunak bajakan.

“Realitas cybercrime adalah bahwa para pembajak mensabotase kode software tersebut dan menempelkannya dengan malware,” ujar Jeff Bullwinkel, Director of Legal and Corporate Affair Microsoft Asia Pacific & Japan.

Penelitian global ini menganalisis 270 situs dan jaringan Peer-to-Peer (P2P), 108 situs unduh perangkat lunak, dan 155 CD atau DVD, serta mewawancarai 2.077 konsumen dan 258 manajer TI (Teknologi Informasi) atau CIO (Chief Information Officers) di Brazil, Cina, Jerman, India, Meksiko, Polandia, Rusia, Thailand, Inggris, dan Amerika Serikat.

Para peneliti menemukan bahwa software bajakan yang tidak datang dengan komputer, 45% berasal dari internet. Dan 78% perangkat lunak yang diunduh dari situs Web atau jaringan P2P mengandung beberapa jenis spyware, sementara 36% mengandung Trojans dan adware.

Jeff mengatakan, malware yang ditanam pembajak di perangkat lunak ini merekam setiap keystroke dari seseorang dan membuat pelaku kejahatan cyber bisa mencuri informasi pribadi maupun keuangan korban. Bahkan pelaku bisa menyalakan microphone dan webcam dari komputer yang telah terinfeksi melalui remote, sehingga memberikan pelaku memiliki mata telinga di ruang tidur ataupun ruang keluarga. “Cara terbaik untuk menghindari ancaman malware ini adalah, ketika membeli sebuah komputer mintalah software yang asli,” tegas dia.

Penelitian pun menunjukkan bahwa akibat dari infeksi malware, konsumen akan menghabiskan 1,5 miliar jam dan US$ 22 miliar untuk mengidentifikasi, memperbaiki dan memulihkan komputernya dari dampak malware. Sementara perusahaan global akan menghabiskan US$ 114 miliar untuk mengatasi akibat dari serangan cyber yang disebabkan oleh malware. Bila melihat suatu kawasan, misalnya di Asia Pasifik, studi tersebut meramalkan pengeluarannya bisa mencapai US$ 39 miliar. Secara regional angka tersebut meningkat tajam sebesar US$  129 miliar jika biaya kerugian kehilangan data juga dijadikan pertimbangan.

"Sebagian orang memilih versi bajakan untuk menghemat uang, tetapi malware ini akhirnya menempatkan ketegangan keuangan dan emosional pada perusahaan maupun pengguna komputer biasa,” tandas John Gantz, kepala peneliti di IDC. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)