Gagal Selesaikan Percakapan Krusial, 1 dari 7 Wanita Karier Pilih Out

 

Satu dari tujuh perempuan Indonesia memutuskan keluar dari pekerjaannya karena gagal menangani percakapan yang krusial. Hal ini ditunjukkan dari survei yang dilakukan oleh Dunamis Organization Services pada Juli-Agustus 2013 kepada para perempuan bekerja di Indonesia. wanita_karir-2

Ada beberapa isu krusial yang disebut–sebut sebagai penyebab perempuan akhirnya meninggalkan pekerjaannya, beberapa di antaranya seperti kesulitan dalam meminta kenaikan gaji, meminta dilibatkan dalam proyek yang besar, ataupun berkomunikasi saat bekerja bersama orang yang meragukan kemampuannya. Hal yang mencengangkan dari hasil survei ini, isu yang paling banyak menyebabkan perempuan keluar dari pekerjaannya ternyata adalah terjadinya pelecehan seksual atau perilaku yang mengarah ke sana. Dan perempuan memilih untuk diam saja.

Kebanyakan perempuan tidak melaporkan hal ini ke pihak HRD karena merasa bukti-bukti yang ada belum cukup kuat. Namun, hal ini tentu begitu mengganggu mereka sampai para perempuan memutuskan untuk meninggalkan pekerjaan mereka.

Fenomena ini sangat menarik. Dan, cukup disayangkan para perempuan bekerja yang memiliki pendidikan serta karier yang baik masih terjebak dalam sikap diam. Dunamis menemukan, para perempuan memilih untuk tidak terlibat dalam percakapan krusial karena beberapa hal.

53,9%

Perempuan khawatir kualitas hubungan yang baik akan rusak karena membahas isu krusial.

 31,6%

Perempuan merasa budaya di organisasi tidak mendukung adanya dialog yang terbuka dan jujur.

30,2

Perempuan merasa tidak memiliki keterampilan untuk menguasai percakapan krusial.

27,6%

Perempuan merasa takut menghadapi apa yang akan ia rasakan setelah percakapan tersebut.

Membicarakan topik krusial memang bukan hal sepele bagi kebanyakan orang. Apalagi ketika ada pendapat yang berseberangan, emosi yang tinggi, dan ada risiko besar yang dipertaruhkan. Dalam riset yang dilakukan Dunamis, ditemukan bahwa hanya 13% perempuan yang sangat yakin mampu membicarakan isu krusial yang mereka hadapi dan menyelesaikannya dengan baik.

Prosesnya pun memerlukan waktu. Sebagian besar perempuan bahkan menghabiskan waktu satu sampai lima hari untuk menghindari lawan bicara, bersikap diam saja namun mengisyaratkan adanya masalah, atau bahkan memilih untuk membicarakannya dengan orang lain, sebelum akhirnya memutuskan untuk terlibat dalam percakapan krusial.

Kecenderungan ini juga ditemui oleh Joseph Grenny, salah satu penulis buku New York Times Best Seller, Crucial Conversations.

Ia menemukan bahwa tidak semua orang berhasil melewati percakapan krusialnya dengan baik. Umumnya, ada tiga hal yang menyebabkan kegagalan ini terjadi:
a.        Ketidakmampuan seseorang untuk mengendalikan emosi.
b.        Kurangnya rasa aman untuk mengungkapkan apa yang sebenarnya diinginkan.
c.        Munculnya sikap diam dan sikap keras sebagai wujud dari sikap defensif yang ditunjukan.

Dalam bekerja, kegagalan-kegagalan ini -secara sadar ataupun tidak- memberikan pengaruh besar pada kualitas dan semangat kerja seseorang bahkan sampai ia memutuskan keluar dari pekerjaan. Ini tentu sangat merugikan. Bukan hanya bagi individu tetapi juga untuk organisasi. Bayangkan pengeluaran ekstra yang harus dihabiskan karena terjadi over budget dalam proyek, deadline kerja yang meleset karena komunikasi yang buruk, kerja tim yang tidak sinergis, bahkan turnover pegawai yang tinggi.

Ironisnya, Dunamis menemukan bahwa 31% responden cenderung diam karena budaya organisasi yang tidak mendukung adanya percakapan krusial yang terbuka dan langsung. Sangat disayangkan, hal yang mendorong kesuksesan secara signifikan malah tidak didukung oleh organisasi itu sendiri.

Ketika menghadapi suatu percakapan yang krusial, banyak orang menjadi khawatir. Lalu, mengambil pilihan yang konyol untuk meresponnya. Baik bersikap keras atau bersikap diam. Padahal, selalu ada pilihan untuk menghadapi percakapan yang krusial dengan satu dialog yang terbuka dan tetap saling menghargai. Untuk menguasainya, tentu tidak instan, perlu dilatih.

Sejak tahun 2012, Dunamis Organization Services menggandeng satu business partner baru, yaitu VitalSmarts yang merancang satu program untuk melatihkan keterampilan ini. VitalSmarts adalah inovator dalam industri corporate training yang menggunakan pendekatan skill based training untuk mengubah perilaku. VitalSmarts telah mendapat berbagai penghargaan atas produk pelatihannya yang berdasar pada riset berkelanjutan selama lebih dari 30 tahun.

Dalam program yang oleh VitalSmarts diberi nama Crucial Conversations ini, para peserta dilatih untuk menguasai satu keterampilan menghadapi percakapan yang krusial dengan berbicara terbuka dan saling menghargai sehingga kualitas hubungan tetap baik. (***)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)