Harga Properti Bisa Naik 10-15%

Harga properti di Tanah Air terus melesat selama beberapa tahun belakangan. Ada beberapa faktor yang mendorong kenaikan harga tersebut. Salah satunya adalah faktor pertumbuhan ekonomi.

Fauzi Ichsan, ekonom senior Standard Chartered Bank

Kepada SWA Online, Fauzi Ichsan, ekonom senior Standard Chartered Bank, di Jakarta menjelaskan, "Harga properti satu-dua tahun ini naik 15-20 persen per tahun. Dan, itu dipicu oleh empat hal."

Pertama adalah rendahnya suku bunga. Disebutkan dia, dengan rendahnya suku bunga maka otomatis KPR (Kredit Pemilikan Rumah) bisa digenjot. Apalagi, KPR di Indonesia masih sangat rendah yakni hanya 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). "Jadi potensi KPR untuk naik terus, itu besar," lanjutnya.

Faktor kedua yakni rendahnya suku bunga berpengaruh pada pergeseran bentuk investasi. Misalnya, Fauzi mencontohkan, masyarakat kaya yang tadinya memarkirkan uangnya di deposito dengan bunga sekitar 6-7% (gross), ditambah adanya pajak yang cukup besar, yakni bisa mencapai 20%, bisa beralih untuk berinvestasi di sektor properti yang harganya merangsek naik sekitar 15-20 % dalam satu tahun. "Otomatis mereka menggeser dana mereka dari pasar deposito ke pasar properti," katanya menegaskan.

Faktor ketiga adalah dampak dari kenaikan harga komoditas. Menurut dia, sepanjang tahun 2009-2011, harga komoditas terus naik sehingga menciptakan kekayaan baru di daerah-daerah penghasil komoditas, seperti di Sumatera dan Kalimantan. Akan tetapi, pengusaha komoditas tersebut tidak lantas menginvestasikan uangnya kembali di sektor yang sama, melainkan di sektor properti.

Ia pun menyebutkan, faktor keempat adalah pertumbuhan ekonomi. Dikatakan Fauzi, selama ada pertumbuhan ekonomi maka pendapatan masyarakat juga naik. Naiknya pendapatan masyarakat membuat kemampuan masyarakat untuk membeli rumah baik secara tunai ataupun KPR juga naik.

"Jadi, walaupun harga komoditas naiknya tidak setajam dua tahun terakhir ini. Karena kan dua tahun terakhir ini banyak dipicu oleh kenaikan harga komoditas. Namun, terlihat 10-15 persen setahun, untuk dua sampai tiga tahun ke depan masih layak, masih logis," papar dia.

Prediksi yang lebih rendah dari apa yang terjadi sebelumnya itu karena, menurut dia, kenaikan harga komoditas tidak lagi seperti beberapa tahun sebelumnya. Ia pun mengatakan, "Kalau ada commodity boom lagi (atau) harga komoditas naik pesat lagi, terutama kelapa sawit dan batu bara, otomatis harga properti bisa naik di atas 15%." (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)