IAS: 94% Konsumen Singapura dan Indonesia Utamakan Privasi Data

Integral Ad Science. (sumber foto: Glassdoor)

Integral Ad Science (IAS), pemimpin global di sektor verifikasi iklan digital, menyurvei lebih dari 1.000 konsumen di Singapura dan Indonesia tentang pengumpulan data, privasi data, dan penargetan iklan (targeted advertising) di internet. Survei ini ingin memahami bagaimana konsumen memandang privasi data dan praktik periklanan digital di tengah perkembangan regulasi tentang privasi data.

Konsumen semakin sering menghabiskan waktunya di internet. Kian sering mereka menelusuri informasi di internet, semakin banyak pula peluang untukmengumpulkan data dan konsumen pun memahaminya: delapan dari 10 konsumen di Singapura dan Indonesia berkata bahwa mereka menyadari datanya dikumpulkan dan dibagikan oleh situs web dan aplikasi untuk keperluan iklan. Lebih lagi, konsumen sangat mencermati isu privasi, sebab 71% konsumen di Singapura dan 93% konsumen di Indonesia mengetahui beberapa regulasi tentang privasi data yang mengatur pengumpulan dan penggunaan informasi pribadinya.

Sebanyak 56% konsumen di Singapura dan 49% konsumen di Indonesia menyatakan paling bertanggung jawab untuk menjaga informasi pribadinya, dan mulai membatasi pengumpulan data di internet. Sebagian besar dari mereka membersihkan/menghapus histori perambannya (68% konsumen di Singapura dan 62% konsumen di Indondesia).

Dalam hal preferensi penargetan iklan (targeting), hampir setengah konsumen memilih relevansi sebagai aspek penting. Sebanyak 49% konsumen di Singapura dan 50% konsumen di Indonesia menerima beberapa bentuk penargetan iklan kontekstual (contextual targeting), yakni iklan digital yang relevan dengan konten situs web yang dikunjungi dan/atau konten yang tengah dikonsumsi mereka.

Di tengah usangnya penggunaan cookie, penargetan iklan berdasarkan pola perilaku pengguna (behavioral targeting) akan jauh lebih sulit dilakukan. Metode tersebut mengacu pada pembelian yang dilakukan seseorang di internet dan/atau informasi yang baru dicari dan histori penelusuran informasinya. Untuk itu, penargetan iklan kontekstual (contextual targeting) kelak menjadi aspek penting (proxy) untuk data audiens.

Mayoritas konsumen di Singapura ingin membagikan data pribadinya dengan sejumlah situs web/aplikasi yang menawarkan layanan belanja di internet (53%) dan media sosial (50%) agar mereka memperoleh pengalaman iklan yang lebih relevan dan personal. Di Indonesia, 65% konsumen ingin membagikan informasi pribadinya pada media sosial demi penargetan iklan yang relevan, sementara, 57% konsumen lainnya lebihmenginginkan surel/layanan pesan yang lebih terarah.

"Metode-metode biasa yang dipakai untuk menjangkau konsumen dapat dibatasi oleh aturan privasi data yang baru dan berubahnya preferensi konsumen. Namun, periklanan strategis tak berakhir di situ," kata Laura Quigley, Managing Director SEA. Menurutnya, konteks itu penting. Penargetan iklan berbasiskan konteks ialah solusi inovatif untuk kondisi pasar saat ini, dan hal tersebut lebih disukai konsumen. Pengiklan memiliki peluang nyata untuk membuat dampak positif tanpa mengorbankan metode yang tepat sasaran.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)