ICAEW: Pertumbuhan Kelas Menengah Indonesia Dorong Peningkatan Kredit Konsumen

The Institufe of Chartered Accountants in England and Wales (ICAEW) merilis laporan Economic Insight : South East Asia yang dibuat Cebr, mitra dan pengamat ekonomi ICAEW. Dalam laporan tersebut digambarkan mengenai kondisi perekonomian terkini di wilayah ASEAN.

Tingkat suku bunga rendah dan kelonggaran secara kuantitatif yang diatur oleh Bank Sentral Negara-negara barat telah mendorong aliran modal ke Negara-negara Asia Tenggara untuk keuntungan yang lebih tinggi. Kebijakan ini memungkinkan perbankan di Asia Tenggara melakukan pinjaman dari pasar uang dunia dengan tingkat bunga sangat rendah sehingga pinjaman konsumen di wilayah Asia Tenggara meningkat drastis dan berada pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kesuksesan perbankan ini tidak lepas dari peralihan fokus bisnis dari pinjaman bisnis ke pinjaman konsumen.

ilustrasi laporan keuanganCharles Davis, Penasihat Ekonomi ICAEW dan Direktur Cebr, mengatakan, “Banyak perbankan yang mengalami kesulitan selama Krisis Keuangan Asia 1997 akibat meningkatkan kredit macet secara tajam dalam pinjaman usaha. Meskipun reformasi telah dilakukan, banyak perbankan menggenjot kredit konsumen paska krisis.” Para ekonom Asia Tenggara perlu waspada atas standar pinjaman dengan mengambil pelajaran dari krisis keuangan di AS dan Eropa pada akhir 2000-an.

Lebih lanjut Davis menyebutkan, perbankan Asia Tenggara saat ini merupakan salah satu yang paling menguntungkan di dunia dan wilayah ini kebanjiran modal. Menurutnya, ini merupakan kontribusi dari kemampuan perbankan Asia Tenggara dalam memberikan pinjaman dalam negeri dikombinasikan dengan pertumbuhan yang pesat dari kalangan kelas menengah yang diharapkan dapat terus tumbuh antara 16% dan 28% selama lima tahun ke depan.

Pengeluaran rumah tangga di Indonesia dinilai telah meningkat lebih dari dua setengah kali lipat dari PDB. Saat yang bersamaan, penetrasi perbankan yang rendanh menciptakan peluang pertumbuhan yang cukup besar. Hal ini meningkatkan daya tarik sector perbankan Indonesia, meskipun pembuat kebijakan mempertimbangkan untuk membatasi kepemilikan asing di perbankan Indonesia hingga 40%.

Menurut Mark Billington, Direktur Regional ICAEW untuk Asia Tenggara, konsumsi domstik sebagai bagian dari PDB di sebagian besar Negara Asia Tenggara masih cukup rendah menurut standard internasional. Sektor perbankan retail menurutnya telah memfasilitasi peningkatan secara bertahap dalam konsumsi domestik yang membantu menyeimbangkan ekonomi ASEAN antara produksi untuk ekspor dan konsumsi domestik.

Mark mengingatkan bahwa ekonomi dengan tingkat konsumsi yang sudah tinggi pun perlu berhati-hati untuk menghindari peningkatn hidup yang artifisial. Membiarkan pertumbuhan kredit tinggi untuk mengimbangi pertumbuhan upah yang lemah di kalangan kelompok berpendapatan rendah pada akhirnya dapat meningkatkan jumlah kredit bermasalah. Pada gilirannya, itu dapat mengakibatkan peningkatan risiko krisis keuangan lainnya.(EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)