IDC: Operator CDMA FWA Butuh Strategi Jelang Kiamat 2015

Tahun 2015 menjadi tahun yang paling diantisipasi operator Code Division Multiple Acces (CDMA) berlisensi Fixed Wireless Access (FWA). Pasalnya, di tahun tersebut pemerintah akan menghapus lisensi FWA. Semua operator CDMA diperbolehkan menggunakan lisensi seluler, bukan lagi FWA. Hal tersebut diungkapkan oleh Senior Market Analyst Internasional Data Corporation (IDC) Indonesia untuk telekomunikasi, Mariska Elfiarini.

“Sekarang Flexi dan Esia masih dalam proses menuju lisensi selular. StarOne masih belum jelas, apalagi dia mau dilepas Indosat," jelas Mariska.

Mariska mengungkapkan, penghapusan lisensi FWA akan membuat operator CDMA bersaing secara lebih ketat dengan operator GSM (Groupe Spécial Mobile). Sayangnya, fitur voice call bertarif rendah yang selama ini digaungkan operator CDMA gagal menyumbang revenue yang berarti.

"Sekarang belum ketahuan strategi yang mereka terapkan, namun prediksi saya mereka akan kuat di paket data," kata Mariska.

Meski bukan FWA, Mariska menilai SmartFren sebagai operator CDMA yang lebih dulu mengantisipasi hal tersebut dengan strategi bundling. “Bundling SmartFren dengan hardware seperti AndroMax, tablet, sangat berpengaruh terhadap revenue mereka. Esia juga mulai mengikuti dengan meluncurkan ponsel Android.”

Usai diskusi media beberapa waktu lalu, Mariska menuturkan bahwa selama ini jualan paket data masih menjadi senjata andalan operator CDMA. Karena paket data hanya bisa dinikmati pengguna smartphone, tak mengherankan bila akhirnya Esia berhenti meluncurkan produk bundling feature phone dan mulai menggaet ponsel berbasis sistem operasi Android. “Feature phone sudah bukan andalan CDMA lagi. Penjualannya turun 20%,” jelas Mariska. Menjual paket data pun bukan hal mudah bagi operator CDMA mengingat sulitnya mengikuti perang tarif.

Selama ini lisensi FWA hanya ada di Indonesia yang lahir dari kompromi pemerintah dengan Telkom Network Service lantaran lesunya minat terhadap telepon rumah (PSTN). Dengan Biaya Hak Penggunaan (BHP) frekuensi berbasis Izin Stasiun Radio (ISR) yang jauh lebih murah dari GSM, FWA lincah memainkan tarif voice call. Operator berlisensi FWA menggunakan nomor berkode area. Dengan dihapusnya lisensi FWA, maka operator CDMA akan memasarkan nomor yang diawali 08x seperti operator seluler umumnya. (EVA)

Leave a Reply

1 thought on “IDC: Operator CDMA FWA Butuh Strategi Jelang Kiamat 2015”

banyak orang mengira teknologi CDMA yang diusung Flexi & Esia menghasilkan tarif yang jauh lebih murah daripada teknologi GSM, padahal disparitas tarif tersebut adalah 'produk' dari regulasi pemerintah. pembebanan bea hak penggunaan (BHP) frekuensi selain biaya interkoneksi menjadikan tarif seluler mahal. secara pribadi, saya tidak setuju adanya lisensi FWA (fixed wireless access) sejak tahun 2004 dari pemerintah kepada empat operator (telkom, bakrie-tel, mobile-8, indosat), hanya untuk meningkatkan jumlah sambungan PSTN (public-switched telephone network) ke rumah. apalagi kemudian ditambahkan fitur 'roaming' yang menjadikan FWA sebagai seluler terselubung, hal yang tidak bisa diterima oleh operator seluler disebabkan perbedaan pembebanan BHP tadi. akhirnya pemerintah menyadari hal ini dan dalam rangka kompetisi yang sehat, FWA pun dihilangkan. sayangnya teknologi CDMA pun sebentar lagi menjadi usang karena teknologinya tidak berlanjut ke generasi ke-4, berhenti di EVDO Rev B. Qualcomm sebagai penggagas 3GPP 2( teknologi CDMA2000 1x) sudah angkat tangan dan alih alih mengikuti generasi baru teknologi komunikasi nirkabel di bawah 3GPP yang mengarah ke standar Long Term Evolution (LTE). jadi, di tahun 2015, ketika operator seluler sudah mulai menggelar teknologi LTE, operator FWA akan kemana??
by harryd., 13 Jan 2013, 08:20

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)