Ilmuwan Masih Berjarak dengan Industri Indonesia

Industri hanya memburu riset yang bisa menghasilkan uang, sementara ilmuwan melakukan riset atas dasar rasa ingin tahu. Kesenjangan ini diakui lima profesor asal Australia tidak hanya terjadi di Indonesia tetapi juga di negara mereka.

Science for Our Future Festival 2012 Ke kanan: Profesor Kadambot Siddique, Tim StPierre, Carmen Lawrence, Barry Marshall, Sangkot Marzuki AO

"Persepsi industri, riset terbatas bagaimana mengembangkan produk mereka, belum sampai ke riset yang lebih luas dan inovasi," kata Profesir Sangkot Marzuki AO, Direktur Lembaga Eijkman sekaligus Presiden Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia.

"Industri hanya tertarik pada riset yang bisa menghasilkan lebih banyak uang untuk mereka," tutur Profesir Tim St Pierre, fisikawan biomedis pemenang Medali Ross Clunies 2010 dalam Young Researcher Forum, Senin (8/10).

Dalam rangkaian program Science for Our Future Festival 2012 tersebut dipaparkan pula solusi mengikis kesenjangan kebutuhan riset industri, national, dan ilmuwan maupun akademisi. Profesor Kadambot Siddique, anggota Order of Australia 2011 mengungkapkan, "Pertama kita harus tahu apa yang menjadi prioritas nasional dan industri. Analisa masalahnya, temukan solusinya, maka uang akan datang."

Tidak hanya dengan industri, dunia sains pun masih punya setumpuk pekerjaan rumah mengatasi berbagai masalah diskoneksi. Salah satu contohnya adalah situasi di Indonesia dengan naiknya masyarakat kelas menengah masih ada 30 juta orang yang kelaparan. Profesor peraih nobel Kesehatan 2005, Barry Marshal, menjelaskan, "Kesenjangan ini harus dijembatani dengan teknologi, distribusi, ilmu, dan teknologi medis, misalnya."

Diakui para profesor dari University of Western Australia, di negara asal mereka pun masih ada jarak antara ilmuwan, industri, dan pemerintahan. "Kalau di Australia ada program yang membawa ilmuwan ke parlemen. Sedangkan di Amerika ada program ilmuwan muda magang di kongres selama 6 bulan," tutur Profesor Carmen Lawrence, mantan Perdana Menteri Australia Barat dan Menteri Kesehatan Federal Australia. Program semacam ini terbukti mampu membawa pemikiran-pemikiran ilmuwan ke dalam kongres. Timbal baliknya, pengambilan keputusan di kongres pun lebih ilmiah.

"Indonesia ini perlu banyak ilmuwan. Bukan hanya bekerja dalam riset, tapi juga di dalam hal policy, industri, dan banyak hal lain. Sebetulny peluang kerja ilmuwan lebih luas dari yang kita lihat sekarang. Nah kesadaran itulah yang musti kita bangun," pungkas Sangkot kepada reporter SWA Online.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)