Imbas Depresiasi Rupiah Mencekik Bagi Importir

Melemahnya nilai tukar rupiah yang terjadi sekarang ini memberikan dampak buruk bagi sejumlah sektor industri. Situasi sekarang tidak mengenakkan bagi sektor manufaktur. Tetapi, pelemahan rupiah justru menguntungkan bagi sektor yang berorientasi ekspor.

bank mandiri“Jadi, kalau flashback (lihat ke belakang) ke tahun 2008, di mana nilai tukar menembus Rp 12.500, kami lihat memang sektor-sektor sekunder dan tersier yang banyak terkena (dampak negatif). Jadi, dulu itu kalau untuk sektor manufaktur besi dan baja, itu yang kadar impor tinggi, kena cukup dalam,” terang Faisal Rino Bernando, ekonom senior Bank Mandiri, di Jakarta.

Dalam penjelasannya, Faisal mencoba menunjukkan apa yang pernah terjadi di tahun 2008-2009 ketika krisis ekonomi terjadi. Kala itu, nilai tukar rupiah menembus level Rp 12.000. Inflasi pun berada di angka 11,4 persen. Kondisi rupiah yang demikian tentu, kata dia, berimbas pada sektor industri yang melakukan impor cukup besar, yakni impor bahan baku untuk proses produksi.

Adalah sektor manufaktur sebagai salah satu yang terpuruk karena rupiah melemah. Manufaktur itu antara lain, industri besi dan baja, semen, TPT dan alas kaki, alat angkut, serta mesin dan peralatannya. Ketika rupiah melemah, industri pun mengalami penurunan produksi (output).

“Dari sisi sektor tersier, kami lihat yang terkena yang terkait dengan perdagangan dan angkutan, khususnya angkutan laut dan udara. Angkutan laut, selain biaya bahan bakarnya mengalami tekanan, juga impor dari kapalnya, karena galangan kapal di Indonesia ini masih terbatas. Jadi, kadar impor dari sektor-sektor yang terkait dengan pelayaran laut itu sangat tinggi,” papar dia.

bank mandiri slide“Jadi, kalau kami lihat, memang tahun 2008, sebanyak 7 dari 12 sektor yang dampaknya cukup besar atas depresiasi rupiah itu berasal dari sektor sekunder atau sektor manufaktur.”

Lebih lanjut, ia menerangkan, sektor-sektor yang  rentang waktu terkena dampaknya cukup cepat, yakni kurang dari satu tahun, dengan penurunan output yang relatif besar, diantaranya besi dan baja, LNG, wholesale dan ritel, TPT, serta angkutan udara.

Dan perlu diketahui, pelemahan rupiah tidak lantas merugikan semua jenis industri. Industri yang berorientasi ekspor adalah pihak yang diuntungkan dengan kondisi yang terjadi sekarang ini.

“Untuk sektor-sektor yang memiliki exposure ekspor, seperti pertambangan non-migas, seperti batu bara, lalu tanaman perkebunan, itu dampaknya positif. Jadi, tekanan pada cost structure pada sektor yang berorientasi ekspor itu ternyata terkompensasi oleh competitiveness yang didapat akibat depresiasi rupiah,” tandas dia. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)