Indeks Keyakinan Konsumsi Masyarakat Terpengaruh Isu Agama

Agus Nurudin, Managing Director Nielsen Indonesia

Jelang Pilkada DKI Jakarta, mencuat kasus penistaan agama yang dituduhkan kepada Gubernur DKI Ahok yang kemudian diikuti dengan aksi 411 berdampak cukup siginifikan pada keyakinan konsumen Indonesia pada kuartal terakhir 2016 lalu. Hal itu kemudian memunculkan kekhawatiran akan kondisi toleransi antar agama dan stabilitas poltik. Ini adalah salah satu temuan dari survei Nielsen mengenai Indeks Keyakinan Konsumen Global di kuartal akhir 2016.

Managing Director Nielsen Indonesia, Agus Nurudin, mengatakan, untuk pertama kalinya kekhawatiran akan toleransi antar agama muncul pada urutan lima teratas hal-hal yang menjadi kekhawatiran utama konsumen. Sebanyak 25% konsumen mengatakan bahwa mereka khawatir akan kondisi tersebut pada kuartal keempat 2016; sama banyaknya dengan konsumen yang menyatakan khawatir akan kondisi stabilitas politik (25%), yang meningkat dibandingkan kuartal ketiga tahun lalu yang hanya sebesar 13%.

Pada kuartal terakhir tahun lalu, persepsi konsumen Indonesia mengenai resesi ekonomi juga memburuk. Konsumen Indonesia yang berpendapat bahwa saat ini negara sedang berada dalam keadaaan resesi ekonomi meningkat menjadi 54% dibanding kuartal sebelumnya yang hanya 47%.

Kekhawatiran dan persepsi tersebut akhirnya berdampak pada cara konsumen membelanjakan dana cadangan mereka, di mana konsumen yang menggunakan dana cadangan untuk menabung menjadi lebih sedikit. Jika di kuartal ketiga 2016 ada 77% konsumen yang memilih menggunakan dana cadangan untuk menabung, pada kuartal keempat jumlah ini menurun menjadi 71%. Di sisi lain, konsumen yang menggunakan dana cadangan untuk berinvestasi di pasar saham atau reksa dana sedikit meningkat dari 28% di kuartal ketiga menjadi 30% di kuartal keempat tahun lalu.

Tak hanya itu, kelesuan belanja juga dipicu oleh keputusan konsumen untuk melakukan penghematan biaya rumah tangga. Pada kuartal keempat 2016 konsumen online Indonesia yang memilih mengurangi belanja baju baru meningkat 49% dibandingkan kuartal sebelumnya yang sebesar 47%. disusul oleh konsumen yang memilih mengurangi hiburan di luar rumah (46%), menunda mengganti teknologi baru (43%), mengurangi biaya liburan (40%) dan mengurangi membeli makanan siap antar (35%).

Menurut Agus, kondisi tersebut juga tak lain didorong oleh kebijakan pengurangan APBN dan tax amnesty oleh pemerintah. “Kedua kebijakan tersebut secara tidak langsung mengakibatkan uang ditarik dari masyarakat, ada sebagian proyek yang dibatalkan dan penarikan pajak melalui progam tax amnesty tetapi kemudian uang tersebut tidak langsung kembali ke masyrakat, akibatnya belanja masyarakat menurun,” jelasnya.

Lebih lanjut Agus menjelaskan, hingga Januari 2017 kondisi keyakinan konsumen untuk berbelanja masih lesu. Salah satu industri yang merasakan langsung adalah ritel. “Padahal ritel berkontribusi lebih dari setengahnya GDP Indonesia, sehingga ini menjadi indikator bahwa di awal tahun ini belanja masyarakat masih lesu.“Tetapi ini kan baru satu bulan berjalan, sehingga masih ada harapan untuk tahun 2017 ini akan lebih baik, yang terpenting pemerintah dan semua bisa menjaga kondisi yang kondusif,” jelasnya.

Editor : Eva Martha Rahayu

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)