Indonesia’s 100 Most Valuable Brands 2019

Majalah SWA kali ini kembali menyajikan peringkat 100 merek Indonesia dengan nilai tertinggi. Penilaian terhadap merek-merek tersebut dilakukan oleh Brand Finance, konsultan merek yang bermarkas di Inggris. Jika Anda mengikuti dari awal, tahun ini sudah ketujuh kalinya SWA dan Brand Finance menghadirkan Indonesia’s 100 Most Valuable Brands.

Di peringkat atas, tak banyak perubahan yang terjadi. Merek-merek di peringkat atas nyaris sama dengan pemeringkatan tahun sebelumnya. Telekomunikasi Indonesia, Sampoerna, Bank Rakyat Indonesia, Bank Central Asia, dan Bank Mandiri adalah brand-brand terkuat di Indonesia. Berikut ini tabel Indonesia’s 100 Most Valuable Brands selengkapnya.

Metode Penilaian Merek

Brand Finance menggunakan formula sebagai berikut:

Untuk mendapatkan nilai merek, proses penilaian dilakukan dengan mengikuti langkah-langkah berikut ini.

Pertama, menghitung kekuatan merek dengan menggunakan balanced scorecard terhadap penilaian investasi pemasaran, stakeholder equity (modal disetor), dan dampaknya terhadap kinerja bisnis. Penghitungan merek ini meliputi 38 parameter yang datanya diambil dari Brand Finance dan analisis pihak ketiga, seperti Reuter, Bloomberg, CSR hub, V360, dan Alexa sesuai dengan parameternya. Hasil penghitungan ini adalah skor Brand Strength Index (BSI) dengan skala 0 hingga 100.

Kedua, menentukan kisaran royalti untuk setiap industri, yang mencerminkan pentingnya merek dalam keputusan pembelian. Penghitungan royalti ini menggunakan komparasi perjanjian lisensi dari basis data Brand Finance di seluruh dunia. Perjanjian lisensi ini berlaku di seluruh dunia. Ketika diminta untuk menghitung nilai brand oleh klien dari berbagai negara, Brand Finance harus melihat seluruh dokumen resmi mengenai intangible asset yang dimiliki atau dikelola oleh klien tersebut, seperti intellectual property, customer database, termasuk licensing agreement dan agreement yang menghasilkan cashflow. Untuk brand yang bukan klien, data tersebut didapat dari pihak ketiga, misalnya Bloomberg.

Ketiga, menghitung tarif royalti. Menerapkan skor BSI pada royalty range tiap-tiap industri untuk mendapatkan royalti dari setiap merek. Misalnya, jika kisaran royalti dalam suatu sektor adalah 0-5% dan merek tersebut memiliki skor BSI 80 dari 100, tarif royalti yang sesuai untuk penggunaan merek ini di sektor yang diberikan adalah 4%.

Keempat, menentukan pendapatan merek dengan memperkirakan proporsi pendapatan perusahaan induk yang dihasilkan suatu merek. Metodenya adalah dengan melihat data pendapatan lima tahun terakhir yang dihasilkan oleh merek yang diukur, kemudian digunakan untuk melakukan revenue forecast lima tahun ke depan.

Kelima, menentukan proyeksi pendapatan dengan menggunakan fungsi pendapatan historis, perkiraan analis ekuitas, dan tingkat pertumbuhan ekonomi.

Keenam, menerapkan tarif royalti ke proyeksi pendapatan untuk memperoleh pendapatan merek.

Ketujuh, pendapatan merek didiskontokan setelah pajak menjadi Net Present Value yang menghasilkan brand value. (Sutan Banuara, Direktur Brand Finance Indonesia)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)