Inflasi dan Pengangguran Tetap Jadi Pokok Masalah Ekonomi Global

Dinamika ekonomi suatu negara di antaranya tergantung dari dua hal, yaitu inflasi dan angka pengangguran. Seperti yang dikatakan Prof. Erani Yustika, Guru Besar Ilmu Ekonomi Kelembagaan di Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya, inflasi diibaratkan sebagai suhu badan ekonomi. Jika inflasinya tinggi, berarti badan ekonomi suatu negara demam. Demikian juga jika inflasinya terjaga, misalnya sekitar 3-5%, maka suhu ekonominya bisa dikatakan bagus.

“Kalau sudah di atas 5% itu alarm sebetulnya. Nah, selama 10 tahun ini, Indonesia pernah 2 kali mengalami suhu yang sangat panas, yaitu tahun 2005 dan tahun 2008. Tahun 2005 inflasi kita sekitar 17,1 %. Kemudian tahun 2008 inflasi kita sekitar 15,6%. Keduanya akibat kenaikan harga minyak pada saat itu. Yang kemarin memang ada kenaikan harga minyak tapi tidak sampai tembus ke 10%, jadi sekitar 8,3% saja. Tapi tetap saja angka tersebut sangat tinggi jika dibandingkan dengan negara lain, apalagi negara maju yang ritme suhu badannya tidak pernah melebihi 3%,” terang Erani.

IMG_5259

Kalaupun ada beberapa negara yang inflasinya lebih tinggi, Erani memastikan bahwa itu berasal dari Amerika Latin yang memang mempunyai riwayat inflasi selalu tinggi. Disusul Asia seperti Indonesia yang mencapai 10,9% pada tahun kemarin, serta Rusia dan Turki yang juga memiliki angka inflasi lumayan tinggi. Selebihnya, inflasinya berada dalam kondisi yang lebih rendah.

Masalah berikutnya adalah pengangguran. Di Amerika Serikat maupun Eropa, pengangguran memang tidak pernah tinggi. Tetapi akibat krisis supreme morgage yang terjadi 2008 akibat fiscal crisis, maka tingkat pengangguran negara-negara tersebut menjadi sangat tinggi. Bahkan di Eropa, seperti Portugal, Spanyol, dan Yunani mengalami puncaknya sehingga mengakibatkan pengangguran menembus angka 24-25%.

“Sekarangpun hal ini masih menjadi masalah. Di AS, level yang paling tinggi mencapai sekitar 12%, tapi dengan nilai inflasi yang tidak jauh turun yaitu sekitar 6,7%. Indonesia sendiri levelnya 6,25%. Ini pengangguran terbuka yang kalau dilihat sebetulnya tidak dalam posisi yang buruk jika dibandingkan dengan negara-negara G20. Cuma catatannya, data pengangguran di Eropa dan Amerika itu sebetulnya anomali dibandingkan dengan keseluruhan angka pengangguran negara-negara yang memang cenderung rendah,” tutup Erani. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)