Ini Alasan Perempuan Berkarier di Sains & Teknologi

Dunia kerja memang tak lagi mengenal gender. Pekerjaan yang tadinya lazim dilakukan pria kini telah piawai dilakukan kaum hawa, pun sebaliknya. Salah satunya kini semakin banyak perempuan yang berkarir di bidang sains dan teknologi. Marissa Mayer sang CEO Yahoo, maupun Sheryl Sandberg, COO Facebook merupakan dua perempuan ikonik di dunia teknologi yang banyak didominasi kaum pria.

Ternyata, salah satu penyebab mengapa seorang perempuan tertarik berkarir di dunia sains dan teknologi adalah lantaran pengaruh orang tua. Menurut hasil studi dari MasterCard bertajuk “Girls in Tech”yang dilangsungkan di kawasan Asia Pasifik, kunci menarik perhatian anak perempuan untuk belajar mengenai Sains dan Teknologi (Science, Technology, Engineering and Mathematis – STEM) serta mengejar karir di bidang tersebut banyak bergantung pada keluarga. Hasil penelitian tersebut berdasarkan pada wawancara yang dilakukan pada bulan Desember 2015 kepada 1.560 orang anak perempuan berusia 12-19 tahun yang dilaksanakan di enam negara di Asia Pasifik yakni Australia, Cina, India, Indonesia, Malaysia dan Singapura.

Ketika ditanya alasan yang mempengaruhi keputusan mereka untuk belajar STEM atau mengejar karir di bidang tersebut, para responden mengatakan bahwa orang tua mereka merupakan yang paling berpengaruh (68 %), sementara teman (9 %) dan guru (8 %). Survei tersebut juga menemukan bahwa lebih dari setengah responden (63 %) yang saat ini tengah belajar STEM di sekolah memiliki orang tua dan/atau saudara yang juga bekerja di bidang yang berkaitan dengan STEM. Hal ini menunjukkan bahwa pilihan karir dari anggota keluarga memiliki pengaruh yang signifikan.

Survei mengungkapkan alasan utama mengapa anak perempuan di Asia Pasifik tidak mempertimbangkan untuk mengambil mata pelajaran STEM dalam studi mereka; adalah karena mereka menemukan mata pelajaran ini sulit (40%) dan kurangnya minat dalam mata pelajaran tersebut (32%). Dari beberapa negara yang terlibat dalam survei ini, Australia memiliki %tase terendah pada anak perempuan (15 - 19 tahun) yang mempelajari STEM (33%), sementara China (76) dan India (69) merupakan negara-negara yang memiliki %tase terbesar dalam mengambil pelajaran STEM.

Georgette Tan, Group Head, Komunikasi, Asia Pasifik, MasterCard Georgette Tan, Group Head, Komunikasi, Asia Pasifik, MasterCard

Selain itu, survei tersebut juga mengungkapkan bahwa meskipun anak perempuan mengakui STEM sebagai karir yang dapat memenuhi kepuasan finansial dan intelektual, namun mereka menganggap bahwa pelajaran STEM dan karir dalam bidang ini tidak membuat mereka menjadi 'kreatif'. Delapan puluh empat (84) % dari responden menganggap kreativitas merupakan kualitas pribadi atau keterampilan yang sangat ingin dimiliki, namun ketika ditanya ketrampilan apa yang mereka hubungkan dengan anak-anak perempuan yang belajar STEM, hanya kurang dari setengah (43 %) responden yang menyatakan kreativitas dimiliki oleh anak-anak perempuan yang mempelajari STEM.

Panutan dari profil wanita sukses di STEM merupakan dorongan yang efektif bagi anak-anak perempuan (17-19 tahun) untuk mempertimbangkan karir di bidang STEM (25 %), sementara beasiswa (17 %) dan gaji dalam karir STEM (16 %) juga dapat membantu dalam mendorong anak perempuan untuk mempertimbangkan karir di bidang STEM.

Georgette Tan, Group Head, Komunikasi, Asia Pasifik, MasterCard, mengatakan, data yang ada menggambarkan bahwa anak perempuan secara konsisten kurang terwakili di bidang Sains & Teknologi (Science, Technology, Engineering and Mathematis – STEM), dan hasil studi dari penelitian MasterCard yang dinamakan dengan “Girls in Tech” dimaksudkan untuk mencari alasannya.

Studi ini telah menunjukkan bahwa keluarga berperan penting dalam mempengaruhi dan mendorong minat anak perempuan dalam pelajaran dan karir di bidang STEM. Menekuni bidang STEM menawarkan peluang terbaik untuk lebih terlibat dalam inovasi teknologi termutakhir, selain itu semakin banyak wanita yang didorong untuk terjun di bidang ini merupakan salah satu kunci bagi kaum wanita untuk meraih keberhasilan di bidang ekonomi dan kesetaraan. “Untuk menarik lebih banyak perempuan agar berminat di bidang STEM kita perlu untuk memberikan panutan perempuan serta orang tua harus membantu untuk membangun kepercayaan diri anak-anak mereka. Kita harus memperbaiki kesalahpahaman mengenai karir di bidang STEM yang dianggap tidak membuat kreatif dan membantu membangun generasi perempuan pemimpin di bidang STEM berikutnya,” ujar Georgette dalam rilisnya.

Penelitian ini adalah bagian dari upaya MasterCard secara terus menerus untuk meningkatkan partisipasi perempuan di bidang STEM. Pada tahun 2014, MasterCard meluncurkan Girls4Tech, sebuah program pendidikan terbaik yang menampilkan teknologi pembayaran MasterCard dan melibatkan karyawan sebagai panutan dan mentor. Program ini dimaksudkan untuk mendorong lebih banyak anak perempuan untuk mempelajari mata pelajaran atau berkarir di bidang STEM.

Program berbasis inquiry yang diciptakan oleh insinyur-insinyur dan ahli teknologi MasterCard tersebut juga menyoroti pentingnya pelajaran STEM baik di industri teknologi maupun keuangan, di mana para karyawan berperan sebagai mentor dan panutan, serta membimbing peserta melalui berbagai latihan. Di Asia Pasifik, Girls4Tech telah diluncurkan di Australia dan India, dan akan diluncurkan ke seluruh kawasan ini. Melalui Girls4Tech, MasterCard berharap dapat menginspirasi anak perempuan muda untuk membangun keterampilan yang mereka butuhkan di bidang STEM untuk mengatasi segala permasalahan dan menjadi pemimpin di masa depan.

Eddy Dwinanto Iskandar

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)