Inilah Deretan Merek Pilihan Kelas Menengah

Majalah SWA melakukan survei Middle-Class Brand Index (MBI) 2015 bekerjasama dengan Inventure selama periode Maret-April 2015. Ada berbagai merek dari 69 kategori yang dipilih oleh konsumen kelas menengah dengan pengeluaran rumah tangga sebesar Rp 4-20 juta per bulan. Survei ini melibatkan 2.277 responden yang tersebar di 9 kota besar di Jabodetabek, Surabaya, Bandung, Medan, Makassar, Semarang, Palembang, Balikpapan, dan Denpasar. Mayoritas responden berusia antara 35-39 tahun dengan komposisi gender 50,6% pria dan 49,4% wanita.

Hasilnya? Ada sejumlah merek yang mendominasi di berbagai kategori. Pertama, Bank Central Asia Tbk menjadi juara di kategori tabungan konvensional, kartu kredit, internet banking (Klik BCA), mobile banking, kartu prabayar (Flazz BCA) dan deposito. Sementara, BRI Syariah menang di kategori tabungan syariah dan KPR syariah. Samsung adalah jawara di kategori TV layar datar, notebook/netbook, ponsel pintar, dan tablet. Sementara, LG menang di kategori kulkas, dan Air Conditioner (AC).

Pengamat Pemasaran Prasetiya Mulya Business School, Istijanto Oei Pengamat Pemasaran Prasetiya Mulya Business School, Istijanto Oei

Pada kategori lainnya, Apotek K-24 menjadi juara di kategori apotek, Keris (batik bermerek), Tiket.com (tiket online), Prodia (laboratorium kesehatan), OLX (belanja online), Kartu HALO (kartu SIM/kartu seluler pascabayar GSM), Flash (mobile data/internet provider), Daihatsu Terios (mobil SUV).

Pengamat Pemasaran Prasetiya Mulya Business School, Istijanto Oei mengatakan, ada beberapa keunggulan para jawara di atas. Pertama, mereka menawarkan produk atau layanan bermutu tinggi dengan harga terjangkau (high quality-affordable price-HQAP). Merek-merek tersebut menjadi jawara karena segmen kelas menengah yang terhubung secara sosial (socially well connected). Jika anggota jejaring sang konsumen memakai satu mereka, dia pun memilih merek tersebut.

“Khusus BCA menjadi juara sudah bisa ditebak mengingat citra bank ini sudah terpercaya dan didukung teknologi serta fasilitas yang sesuai dengan kebutuhan nasabah kelas menengah yang menawarkan kepraktisan. Seperti fasilitas e-banking dan sebaran mesin ATM yang banyak menjawab tuntutan kelas menengah yang sibuk,” katanya.

Pengukuran MBI 2015 bersumber pada sebuah model yang tersusun atas tiga parameter psikografis/perilaku konsumen kelas menengah di Indonesia, yaitu kepemilikan sumber daya (ownership of resources), tingkat pengetahuan (knowledgeability), dan tingkat koneksi sosial (social connection). Ketiga parameter tersebut kemudian diturunkan menjadi model proposisi nilai (value proposition) kelas menengah RI serta model segmentasi yang menghasilkan delapan segmen pasar kelas menengah RI, yaitu Expert, Aspirator, Climber, Performer, Flow-er, Follower, Settler, dan Trendsetter.

Dengan mengacu pada model proposisi nilai dan model segmentasi tersebut, pengukuran MBI dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama, mengukur Middle Class Value Proposition (MVP) Index untuk mengetahui seberapa kuat kemampuan merek dalam memberikan nilai kepada konsumen kelas menengah. Tahap kedua, mengukur Middle-Class Market Position (MMP) Coefficient, untuk mengetahui ketepatan merek dalam memosisikan diri pada delapan segmen konsumen kelas menengah Indonesia. (Reportase: Lia Amelia Martin)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)