Investor Jerman Pesmis Melihat Potensi ASEAN

ASEAN merupakan salah satu pasar di dunia yang sedang berkembang secara signifikan. Terlebih dengan adanya rencana Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang menjanjikan pecepatan pembangunan. Secara global wilayah ASEAN mempresentasikan sekitar 3% produk domestic bruto. IMF memprediksi tingkat pertumbuhan tahunan di wilayah ini akan lebih dari 5%. Namun, perusahaan Jernam menahan diri untuk melakukan investasi lebih lanjut. Oleh karena itu mereka berisiko untuk kehilangan momentum emas ini. Saat ini hanya sekitar 1,9% dari € 18 milyar total keseluruhan investasi langsung Jerman yang diinvestasikan diperekonomian ASEAN.

IMG_0715

Namun, hal ini akan segera berubah, berdasarkan hasil survei dari EY (Ernst & Young), dari sekitar 135 perusahaan Jerman yang disurvei, 75% menyatakan mereka akan meneruskan investasi mereka di ASEAN. Bahkan mereka akan memulai investasi baru. Sekitar dua pertiga responden mengatakan MEA merupakan alasan utama untuk meningkatkan investasi mereka.

MEA akan menciptakan zona ekonomi yang secara signifikan mengurangi hambatan di dalam melakukan perdagangan antar negara ASEAN. Tingkat kepadatan penduduk juga menjadi alasan utama mereka, saat ini populasi di wilayah ASEAN sekitar 620 juta jiwa. Tidak mengherankan 91% responden menyatakan alasan utama mereka melakukan investasi karen pasar domestic regional.

Fakto-faktor lainnya adalah biaya tenaga kerja (89%), askses menuju pasar baru (83%), dan biaya produksi (82%). Saat ini Indonesia menghasilkan sektar 40% produk domestic bruto dan 40% dari populasi tinggal di Indonesia. Oleh karena itu, pasar Indonesia sangat menarik untuk Investor. Berdasarkan hasil survey, tahun 2013 GDP Indonesia sebesar $ 863.3 milyar, dan GDP perkapita sebesar $ 3,475. Highlight sector yang dimiliki oleh Indonesia adalah maritime infrastuctur and construction, FMCG (Fast-Moving Consumer Goods) , energy, mechanical engineering, dan steel production and processing.

Beberapa kendala yang diperhatikan oleh investor Jerman untuk berinvestasi di Indonesia adalah isu korupsi. Indonesia menduduki peringkat 104 dalam Transparency International’s 2014 rankings. Sedangkan Singapura menduduki peringkat 7. Dr. Georg Witschel, Duta Besar Jerman untuk ASEAN Indonesia dan Timor Leste, mengatakan “Tahun lalu Indonesia menduduki peringkat 114. Meskipun ada peningkatan, jalan Indonesia masih sangat panjang untuk permasalahan korupsi.”

"Kebijakan yang berbeda di setiap kementrian juga menjadi hambatan bagi para investor. Membangun perusahaan di Singapura jauh lebih mudah dibandingkan di Indonesia. Birokrasi yang rumit dan panjang menjadi salah satu faktornya,” kata jan Roennfeld, Ketua Kamar Dagang Jerman. Investor Jerman juga melihat masalah infrastuktur menjadi suatu kendala, meskipun saat ini sedang memabngun beberpa jalan tol atau moda transportasi baru.

Thomas Wirtz, Partner dan Kepala Pusat Bisanis Jerman EY di Indonesia mengatakan, “jika pemerintah dapat memenuhi janjinya untuk membuat bisnis di Indonesia lebih mudah, nantinya akan banyak investor Jerman untuk berinvestasi di sini. “Revolusi mental sangat perlu dilakukan oleh Indonesia. tidak saja dilakukan oleh pemerintah Indonesia, namun seluruh masyarakat Indonesia juga perlu revolusi mental,” tambah Dr. Georg Witschel. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)