Investor Mengharapkan Imbal Hasil Investasi 14,5% di Tahun 2015

IMG_0168

Bertempat di Gedung Sampoerna Strategic Square , Manulife Indonesia memaparkan hasil survei  Manulife Investor Sentiment Index (MISI) yang diadakan pada kuartal terakhir pada tahun 2014 silam. Survei MISI ini diadakan sejak tahun 2013  setiap 4 bulan sekali. Tujuannya untuk mengetahui kecenderungan investor dalam berinvestasi dan mengedukasi masyarakat Indonesia untuk merencanakan keuangan di masa depan. Sigi ini mengambil sample 500 investor dari 3 kota yaitu Jakarta, Surabaya, dan Medan.

Ada 6 kelas aset utama yang ditanyakan pada responden, yaitu: pertama dana tunai/tabungan. Kedua, rumah. Ketiga, properti lain. Keempat, investasi pendapatan tetap. Kelima, saham. Keenam, reksa dana. Dari hasil survey MISI, dana tunai/tabungan mendapatkan skor indeks 87, rumah mendapatkan skor indeks 81, properti lain mendapatkan skor indeks 79, investasi pendapatan tetap mendapatkan skor indeks 43, saham mendapatkan skor indeks 8, dan reksa dana mendapatkan skor indeks 0. Dari hasil tersebut, dana tunai/tabungan menjadi aset utama yang disukai oleh investor.

Terkait dengan perubahan sentimen terhadap kelas aset, saham, investasi pendapatan tetap, properti lain, rumah, dan reksa dana mengalami penurunan. Sedangkan dana tunai/tabungan mengalami peningkatan karena dianggap yang lebih aman, tidak merepotkan, dan tidak fluktuatif. Indeks sentimen Indonesia turun 14 poin ke angka 50 pada kuartal keempat tahun 2014. Penurunan ini diperkirakan karena pengurangan subsidi BBM pada November 2014. Meskipun turun cukup jauh, angka tersebut masih lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata sentimen di Asia yang merosot hingga angka 26.

Sebanyak 81% investor Indonesia mengatakan bahwa mereka puas dengan imbal hasil investasi mereka di tahun 2014 yang ditempatkan pada tabungan/deposito, properti dan asuransi. Namun, alasan di balik kepuasan tersebut menunjukkan bahwa 54% investor mengaitkan kesuksesan mereka dengan faktor keberuntungan (luck). Tidak terlihat adanya indikasi yang berdasarkan keahlian yang mumpuni.

Dua puluh empat persen investor Indonesia berharap mendapatkan imbal hasil investasi sebesar 20% atau lebih, dan secara rata-rata investor Indonesia mengharapkan imbal hasil investasi 14.5%. Jauh di atas angka investor di Asia yang mengharapkan 10.2%.

“Porsi alokasi yang besar pada dana tabungan/deposito dan properti sebenarnya tidak sejalan dengan harapan yang menginginkan imbal hasil investasi sebesar 14.5% di tahun 2015. Tingkat suku bunga deposito di Indonesia ini hanya setengahnya, sekitar 7-8% dan menurut pemerintah Indonesia akan ada kenaikan inflasi sebesar 3-5% pada tahun 2015, yang bearti imbal hasil dari simpanan di bank akan jauh lebih rendah” jelas Putut E. Andanawarih, Director of Business Development Pt. Manulife Aset Manajemen Indonesia.

Lalu bagaimana cara investor Indonesia dapat mendapatkan imbal hasil investasi sebesar 14.5%? Putut menjelaskan jika investor lebih jeli dan pintar untuk bermain di instrument investasi yang lain seperti pasar modal dan reksa dana, imbal investasi 14.5% dapat didapat di tahun 2015 ini.

Menurut Putut, saat ini pasar modal Indonesia sedang digandrungi oleh investor asing. Faktor yang menyebabkan peningkatan investasi oleh investor asing adalah pergantian presiden dan kebijakan-kebijakan pemerintah yang baru. Hal ini justru bertolak belakang dengan investor Indonesia yang pesimis untuk bermain di pasar modal. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)