Kenali 9 Kelompok Konsumen Ini agar Pemasaran Semakin Efektif

Perusahaan data dan kecerdasan buatan, ADA, mengamati perilaku masyarakat Indonesia selama Ramadan 2020 lalu. Kirill Mankonvski, Managing Director ADAin Indonesia menjelaskan pihaknya menemukan ada 9 persona atau profil konsumen yang tercipta selama Ramadan 2020 lalu. Karakter mereka terbentuk di tengah fase puncak wabah Covid-19 dan penerapan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar oleh pemerintah.

“Meskipun Ramadan lalu cukup spesial karena diberlakukannya PSBB, ke-9 profil konsumen atau persona ini tetap dapat digunakan oleh brands untuk situasi apapun. Mereka dapat memanfaatkan Ramadan Persona untuk mengenali dan mempelajari perilaku konsumen yang berbeda-beda sesuai minat dan aktivitas hariannya. Secara keseluruhan, insights ini dapat membantu brands meningkatkan ROI-nya dengan signifikan, serta menjadi lebih kompetitif dalam jangka panjang.” jelas Makonvski.

Hasil studinya ADAin menunjukkan masyarakat Indonesia sebagai konsumen dibagi dalam 9 kelompok berdasarkan perilaku konsumsi atau belanjanya.

1. Hijabsters

Hijabsters mayoritas berusia 27 tahun, dan sering berpergian ke pusat perbelanjaan. Aplikasi yang paling sering digunakan adalah fashion dan beauty, media sosial, foto & video, dan aplikasi belanja. Mereka umumnya adalah shoppers pada Ramadan dan Lebaran. Mereka membeli seragam Lebaran untuk keluarga—sebagian dari mereka sudah menikah dan memiliki anak. Hijabster gemar menghabiskan waktunya ber-OOTD di media sosial.

2. The House Proud

The house proud adalah sekelompok orang yang gemar menata dan mendekorasi rumah. Mayoritas berusia 54 tahun, bekerja dan tinggal di ibu kota. Di waktu luang, mereka gemar mengunjungi pusat perbelanjaan peralatan rumah tangga dan furnitur. Bagi mereka Ramadan adalah saat untuk mendekorasi rumah menyambut hari raya. Aplikasi yang sering digunakan adalah aplikasi belanja dan logistic tracking.

3. Inspector gadget

Mayoritas inspector gadget adalah pekerja yang antusias dengan gawai, seperti TV dan telepon pintar. Mereka juga tertarik dengan fotografi dan videografi. Kelompok ini dapat dijumpai di pusat-pusat perbelanjaan elektronik. Selain menggemari gawai, kelompok ini juga gemar bergaul, berbelanja dan relijius. Aplikasi yang sering digunakan : belanja, elektronik dan logistic tracking.

4. Food adventures

Food adventures ini gemar melakukan traveling untuk mencicipi makanan di tempat makan baru. Beberapa tempat yang sering mereka kunjungi adalah hotel, buffet, fast food, dan restoran. Mereka sangat aktif menggunakan aplikasi food delivery. Media sosialnya pun dipenuhi dengan berbagai macam foto makanan yang diambil dalam perjalanan ‘perburuan’ tempat makan baru. Aplikasi yang sering digunakan: makanan dan minuman., dining guides serta food delivery.

5. Gathering Fan

Gathering fan meluangkan waktu untuk pulang ke kampung halaman, setidaknya 2-4 kali dalam satu tahun. Kelompok ini bekerja di ibu kota dan memiliki keluarga yang tinggal di kampung halaman. Umumnya mereka melakukan mudik satu minggu sebelum Ramadan atau satu minggu sebelum lebaran.

6. Home Chefs

Home chefs gemar mencoba resep-resep baru, dan selalu menyempurnakan teknik memasaknya, di media sosialnya, banyak dijumpai foto-foto masakan. Kelompok ini mayoritas adalah perempuan yang bekerja dan tinggal di ibu kota. Mereka gemar menghabiskan waktunya di aplikasi resep makanan untuk mencari inspirasi.

7. Modern Mums

Modern mums adalah sosialita yang tech-savvy dan career oriented. Mereka banyak dijumpai di wilayah bisnis, pusat kebugaran, salon dan restoran. Mereka mudah beradaptasi dengan teknologi terbaru, serta memilih untuk berbelanja secara online. Modern mums juga tidak keberatan membayar lebih untuk kualitas produk yang lebih baik. Aplikasi yang sering digunakan kelompok ini adalah: belanja, fashion & beauty, parenting, health & fitness serta e-wallet.

8. Traditional Mums

Berbeda dengan modern mum yang tech-savvy dan tertarik dengan gaya hidup moderen. Traditional mums lebih menyukai menghabiskan waktunya untuk membaca resep-resep makanan. Traditional mums juga lebih memilih berbelanja kebutuhan keluarga di supermarket, dalam jumlah besar. Mereka juga menyempatkan untuk berpergian bersama keluargaa saat liburan sekolah. Aplikasi yang sering digunakan: belanja, fashion& beauty, parenting.

9. Philantropist

Philantropist banyak ditemukan di golf club, showrooms mobil mewah, dan area bisnis. Mereka adalah sosialita yang menggemari musik dan career oriented . Sebagai individu berpenghasilan tinggi, mereka tidak pernah lupa membayar zakat. Mereka juga menantikan Ramadan untuk dapat beramal dalam jumlah yang lebih besar.

Terkait dengan pandemi dan perilaku berbelanja konsumen, Makonvski menjelaskan masyarakat tampak menahan diri untuk mengunjungi fasilitas umum karena dianggap mudah terkontaminasi virus—apalagi dengan PSBB dan social distancing yang akan dicabut secara bertahap.
Namun menurutnya yang perlu digarisbawahi adalah adanya perubahan sikap terhadap penggunaan media digital. “Kami percaya setelah PSBB resmi dihapus, banyak konsumen yang menyadari bahwa berbelanja, belajar, bekerja, dan bahkan menghibur diri dapat dilakukan dengan memanfaatkan platform digital. Ini lebih mudah dari yang dibayangkan.” jelasnya.

Pihaknya juga mengantisipasi adanya gelombang pendek ‘revenge buying’ pada saat PSBB dihapuskan. Di sisi lain, krisis ini sesungguhnya membantu para pemain digital meraih lebih banyak pangsa pasar. Masyarakat ‘dipaksa’ untuk berlalih mengunakan platform digital selama beberapa bulan ini. Hal ini akan menyebabkan adanya perubahan pola berbelanja konsumen yang permanen.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)