Ketika Investor Asing Menyasar Sektor Properti Jakarta

Dalam paparannya terkait laporan The Wealth Report 2013, Hasan Pamudji, Associate Director Knight Frank-Indonesia, mengatakan bahwa kota Jakarta berpotensi menjadi Kota Global. Salah satu kenyataan yang mengarahkan Jakarta menjadi kota tersebut adalah kehadiran investor asing yang semakin marak.

“Sangat mungkin (menjadi Kota Global). Secara potensi dan kualitas masih ke arah sana, didukung oleh kondisi politik yang kondusif, tetapi ada PR (pekerjaan rumah),” sebut Hasan, di Jakarta.

Hasan Pamudji, Associate Director Knight Frank-Indonesia

Dia menjelaskan, ada empat faktor yang dipertimbangkan terkait Kota Global. Faktor pertama adalah ekonomi, yang meliputi output ekonomi, pendapatan per kapita, aktivitas pasar modal dan keuangan, hingga jumlah markas perusahaan multinasional yang ada di kota. Terkait faktor ini, di Jakarta sendiri sudah banyak berdiri kantor-kantor perusahaan asing. Penanaman modal asing terus berdatangan ke ibukota Indonesia ini.

Seiring dengan masuknya investor asing, kebutuhan akan lahan untuk keperluan industri, perkantoran, dan residensial juga meningkat. Hasan pun mengatakan, harga properti, khususnya untuk residensial mewah, di Jakarta sendiri masih lebih murah ketimbang Bangkok dan Kuala Lumpur.

Ia mencontohkan, dengan uang sebesar US$ 1 juta, luas properti residensial mewah yang bisa didapat di Jakarta pada tahun 2012 mencapai 267 meter persegi, sedangkan di Bangkok hanya 113 meter persegi dan di Kuala Lumpur hanya 200 meter persegi.

Faktor kedua yakni segala sesuatu yang terkait politik. Beberapa indikator dalam faktor ini, seperti stabilitas politik, jumlah markas organisasi politik nasional dan organisasi internasional non pemerintah, hingga jumlah kedutaan besar. “Jakarta didukung oleh kondisi politik dan ekonomi Indonesia yang kondusif,” imbuh Hasan.

Dua faktor lainnya adalah kualitas hidup dan pengetahuan. Terkait kualitas hidup, suatu kota bisa dikatakan Kota Global jika masyarakatnya bebas dalam berpolitik, tingkat kriminalitas rendah, fasilitas keamanan terjamin, hingga tersedianya sarana transportasi dan umum yang berkualitas. Sedangkan, faktor pengetahuan, terang Hasan, “Pertimbangan yang bersandar atas pengetahuan dasar masing-masing kota, penilaian status pendidikan, serta jumlah dan peringkat fasilitas pendidikan.”

Sekalipun memungkinkan menjadi Kota Global, Jakarta masih punya segudang pekerjaan rumah. Salah satunya adalah kondisi infrastruktur yang masih kurang. Untuk itu, ia menyebutkan perlu ada komitmen dari pemerintah dan masyarakat untuk bisa memperbaiki infrastruktur, menjaga kestabilan politik, hingga meningkatkan kualitas hidup sumber daya manusia.

Khusus untuk sektor properti, Hasan menyebutkan perlunya kepastian hukum kepemilikan properti oleh orang asing, sistem perpajakan properti yang menarik, dan perlindungan hak konsumen. Ini perlu karena, jelas dia, semakin banyak investor asing yang melirik pasar properti di Tanah Air, khususnya Jakarta. Bahkan, terang Hasan, Jakarta diperkirakan menjadi pasar real estat teratas di kawasan Asia-Pasifik sepanjang 2013. Jakarta pun disebut menduduki peringkat pertama mengalahkan Shanghai, Hong Kong, Singapura, Kuala Lumpur, dan Sydney. “Pemeringkatan itu dilakukan oleh PriceWaterHouseCoopers dan Urban Land Institute (yang berbasis di Washington DC),” ucapnya.

Willson Kalip, Country Head Knight Frank-Indonesia

“Saya rasa orang asing datang ke Indonesia tujuannya bukan untuk speculate properti. Saya rasa orang asing datang ke Indonesia betul-betul untuk bisnis, (seperti) manufacture goods. Betul-betul datang ke sini untuk berbisnis, untuk bantu ekonomi negara ini lebih meningkat," sebut Willson Kalip, Country Head Knight Frank-Indonesia menambahkan. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)