Kualitas Hidup Penyandang Kanker Payudara Patut Diperhatikan

Di Indonesia, jumlah penyandang kanker payudara adalah yang terbanyak jika dibandingkan dengan jenis kanker lain. Tingkat insidensinya yang tinggi, menurut Prih Sarnianto, akan menjadi beban ekonomi yang kian berat baik di tingkat keluarga maupun nasional. Namun meski tingkat insidensinya tinggi, mortalitasnya terbilang rendah, sehingga besar harapannya bagi penyandang kanker payudara untuk kesembuhan atau peningkatan kualitas hidup. Meski begitu, beban yang diderita penyandang kanker payudara tetaplah berat dan karenanya diperlukan cara penanganan kesehatan yang cost-effective. Pernyataan ini dia sampaikan pada sidang terbuka dan tertulis dalam abstrak disertasinya yang berjudul “Kualitas Hidup dan Faktor yang Berhubungan Dengan Kualitas Hidup Penderita Kanker Payudara di 10 Rumah Sakit, di Indonesia”.

Penelitian ini diklaim sebagai penelitian analisis kesintesisan pertama di Indonesia yang meneliti perubahan kualitas hidup pada penyandang kanker. Kualitas hidup atau yang dia tulis sebagai Quality of Life (QoL) dalam karya akademisnya tersebut, merupakan salah satu variabel yang diukur pada penilaian teknologi kesehatan (PTK) yang merupakan penerapan dari upaya untuk mengendalikan biaya kesehatan.

Prosesi penyerahan ijazah doktor Prih Sarnianto Prosesi penyerahan ijazah doktor Prih Sarnianto

“Sebelum dilakukan pengukuran Quality of Life, dilakukan dulu validitas dan kredibilitas dari instrumen yang digunakan karena instrumen yang digunakan berbahasa Iinggris, kita terjemahkan ke bahasa Indonesia sehingga validitas dan kredibilitsnya harus ditetapkan dulu. Penetapan Quality of Life gak gampang, karena Quality of Life memiliki arti yang berbeda untuk disiplin ilmu yang berbeda. Selain itu kalau kita mengambil definisi Quality of Life terkait kesehatan pun definisinya masih sangat luas. Karena aspeknya sangat luas, sulit memperbandingkan antara satu dengan lain, penelitian yang terkait Quality of Life,” ujarnya.

Untuk itu dia menggunakan model konsep Quality of Life yang paling sering digunakan, yaitu model konsep dari Wilson and Cleary yang disempurnakan. Menurut model konsep tersebut, suatu penyakit itu dimulai dari perubahan fungsi biologis yang akan mempengaruhi gejala, gejala akan mempengaruhi status fungsional dan seterusnya yang nanti akan mempengaruhi kualitas hidup seseorang secara keseluruhan dan semuanya itu dipengaruhi karakter individu maupun karakter lingkungan.

Pada penelitiannya tersebut, dia melakukan analisis terhadap data sekunder dari Asean CosTs in Oncology study yang melibatkan 785 pasien kanker payudara dari 10 rumah sakit rujukan di 8 kota besar di Indonesia. Dalam karya akademisnya itu, Prih Sarnianto atau yang akrab disapa dengan sebutan Mas Ping, memaparkan hasil pengukuran QoL penderita kanker payudara di Indonesia dan dalam prosesnya, beliau menggunakan instrumen penelitian bernama QLQ-C30. Instrumen penelitian ini berbentuk kuisioner. Strukturnya terdiri dari 30 pertanyaan.

Kesimpulan dari penelitiannya tersebut adalah, terdiagnosis kanker payudara dapat menyebabkan dampak yang parah; 48,8% pasien mengalami penurunan QoL dan 12,3 % meninggal dalam 12 bulan atau kurang. Proporsi penderita muda (usia <40 tahun) sangat tinggi, 17,5 % dengan yang usianya termuda adalah 19,4 tahun. Menurut dia, di Amerika Serikat, proporsi penyandang dari suatu kelompok masyarakat tertentu yang mencapai 7% saja sudah mengakibatkan kehebohan. Indikasi bahwa angka 7% itu saja sudah tinggi. Namun di Indonesia yang jumlah penyandang dari kelas tersebut mencapai 17,5% tidak ada kehebohan. Ini menandakan bahwa kesadaran masyarakat dan pemerintah Indonesia tentang keganasan penyakit ini masih minim jika dibandingkan Amerika Serikat.

Secara sosiodemografis, sebagian besar berpendidikan sekolah menengah (38,2%) dan sekolah dasar (31,2%), tidak bekerja (51,3%), menikah (77,6%), dan tidak memiliki keluarga dekat dengan riwayat kanker (78,0%)

Secara sosioekonomis, sebagian besar berasal dari keluarga miskin sebesar 44,0%. Yang dimaksud miskin di sini adalah yang pendapatan keluarganya <50% rerata pendapatan perkapita. Lalu, yang memiliki asuransi publik (termasuk Jamkesmas atau Jamkesda, asuransi dari Pemerintah Pusat atau Pemerintah Daerah yang diberikan kepada kalangan masyarakat miskin) sebesar 47,9%. yang tidak terlindungi asuransi kesehatan sebesar 39,2%. Hanya sebagian kecil yang merasa mengalami kesulitan keuangan yang sangat (22,1%). Sebagian besar merasa tidak (26,2%), sedikit (25,5%), dan cukup (26,2%) mengalami kesulitan keuangan ketika terdiagnosis kanker.

Risiko penurunan QoL memiliki hubungan dengan tingkat pendidikan, status bekerja, pendapatan keluarga, tekanan finansial, stadium kanker, serta kondisi fungsional fisik dan kondisi fungsional psikologis penderita kanker payudara. Para pasien dengan pendidikan sekolah dasar (6 tahun) berpeluang mengalami penurunan QoL 0,6 kali lipat dibanding mereka yang berpendidikan sarjana/ sarjana muda. Artinya, para pasien berpendidikan tinggi berpeliuang mengalami risiko penurunan QoL 1,5 kali lipat dari mereka yanghanya berpendidikan SD.

Sedangkan para pasien yang tidak bekerja berpeluang mengalami penurunan QoL 1,5 kali lipat dari pasien yang bekerja.

Lalu para pasien dengan pendapatan keluarga yang tinggi, berpeluang mengalami penurunan QoL hampir 2 kali lipat pasien berpendapatan lebih rendah. Menurut Prih Sarnianto, pada tahun 2012 ketika penelitian ini dilakukan, pasien dengan pendapatan di atas rerata tidak berhak mendapat jamkesmas maupun Jamkesda, padahal pendapatan per kapita hanya sekitar Rp50,3 juta sampai sedikit di atas Rp67,0 juta, sangat kecil dibanding biaya terapi kanker payudara.

Agar kualitas hidup penderita kanker payudara tetap tinggi, menurut Prih, ada beberapa hal yang harus dilakukan. Pertama, perlu dibuat kebijakan kesehatan yang mampu melibatkan para penderita kanker payudara untuk melakukan aktualisasi diri yaitu dengan cara bekerja. “Hasil penelitian di Amerika menunjukan bahwa pasien yang bekerja, meskipun secara volunteer, akan memiliki tingkat QoL yang lebih baik, meskipun hanya bekerja sebagai volunteer,” ujarnya. “Dengan bekerja, dia akan mendapatkan dukungan dari teman-temannya dan juga dia akan mendapatkan aktualisasi diri, yaitu bahwa adanya kesadaran bahwa dia melakukan sesuatu yang baik.”

Selain itu, program pelatihan fisik yang menarik juga perlu dikembangkan dan diterapkan. “Bekerja juga jika melibatkan fisik, maka secara tidak langsung akan melatih fisik dari penyandang kanker,” tambahnya. Lalu pendampingan untuk membantu para penyandang kanker payudara dalam mengatasi masalah psikologis juga harus dikembangkan. Masalah psikologis ini di antaranya seperti rasa tegang, mudah marah, cemas, dan tertekan. Yang terakhir, diperlukan pengembangan dan penerapan program skrining kanker payudara sehingga dapat dilakukan deteksi dini. Sebagian besar pasien dalam penelitian ini kankernya sudah memasuki stadium II (34,6%) dan III (36,5%). Angka pasien yang terdiagnosis kanker payudara stadium IV pun tinggi, mencapai 20,9%. Ini menunjukan bahwa deteksi dini diperlukan supaya penyandang kanker payudara bisa mendapatkan perawatan yang tepat sesegera mungkin agar kualitas hidupnya tetap tinggi. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)