Literasi Keuangan Rendah Berdampak Negatif pada Utilisasi Keuangan

DIM_1836

Manulife kembali melakukan survei eksklusif untuk mengukur dan melacak pandangan investor di 8 kawasan mengenai perilaku mereka terhadap kelas aset utama dalam Manulife Investor Sentiment Index (MISI) di Asia. Dari survei tersebut ditemukan bahwa investor Indonesia ketika ditanya rencana pensiun menunjukkan optimisme yang tinggi. Namun, optimisme tersebut merupakan optimisme yang semu karena terdapat temuan-temuan lain yang perlu dicermati.

Sebagian investor optimis dapat mempertahankan gaya hidup mereka saat ini pada masa pensiun kelak. Mereka yakin akan memperoleh penghasilan pasca-pensiun dari berbagai sumber dengan nilai setara dengan 84% penghasilan mereka saat ini. Jumlah mereka yang menyiapkan masa pensiunnya hanya 43% dan 34% dari mereka, menyimpan uang mereka dalam bentuk tabungan dan deposito bank yang memberikan imbal hasil relatif kecil. Padahal, ketersediaan sumber dana tersebut di masa depan akan dipengaruhi berbagai faktor, seperti tidak dapat menahan laju inflasi misalnya.

Hal tersebut diperparah dengan fakta bahwa hanya 22 persen yang mengikuti program yang diwajibakan pemerintah, angka yang terendah di Asia karena rata-rata di kawasan sebesar 67%. Mereka tidak banyak yang tertarik membeli program pensiun tambahan sebagai alternatif, hanya 15% yang memiliki program pensiun dari swasta untuk memenuhi target dana pensiunnya. Menurut Nur Hasan Kurniawan, Chief of Employee Benefits PT Asuransi Jiwa Manulife Indonesia, masyarakat sepertinya terlalu mengandalkan sumber-sumber pendapatan yang tak pasti untuk membiayai hidup mereka di hari tua.

Selain itu, survei menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap investasi pada umumnya meningkat sebesar 9 poin, menjadi 57 poin. Indonesia menjadi negara kedua paling optimis setelah Filiphina danjauh lebih tinggi dari rata-rata negara Asia lainnya yang hanya 24 poin. Meski demikian, masyarakat Indonesia masih enggan berinvestasi pada berbagai kendaraan investasi yang tersedia di pasar. Putut Endro Andanawarih, Direktur Pengembangan Bisnis PT Manulife Aset manajemen Indonesia mengatakan peningkatan ini merupakan dampak sentimen positif atas pilpres.

Tidak hanya mengenai hasil survei tersebut, dalam kesempatan yang sama juga dipaparkan mengenai hasil riset OJK yang menunjukkan bahwa indeks literasi keuangan masyarakat Indonesia baru 21,8 persen. Artinya, dari sekitar 240 juta jiwa penduduk Indonesia, baru 52 juta jiwa yang paham tentang industri keuangan dan produk jasa keuangan. Dari enam produk jasa keuangan, baru bank yang cukup dikenal masyarakat (57,28%). Adapun tingkat pemahaman paling rendah terdapat di pasar modal, yakni hanya 0,11 persen. Sisanya merata di sektor perasuransian, lembaga pembiayaan, pergadaian, dana pensiun.

Menurut Agus Sugiarto, Direktur Literasi dan Informasi Otoritas Jasa Keuangan, belum meratanya literasi keuangan masyarakat menjadi penyebab belum meratanya tingkat utilitas keuangan. “Masyarakat masih memilih pola tradisional dalam menyimpan uang, yakni dalam bentuk tunai. Rendahnya tingkat utilitas dana pensiun ditengarai karena tingkat literasi keuangan masih rendah. Hal ini juga terscermin dari separuh responden yang tidak memiliki perencanaan masa pensiun,” papar Agus.(EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)