Lompatan Kuantum Mohammad Nadjikh di KML Food

Untuk menjadi besar, perlu menggandeng partner yang sudah lebih dulu besar. Inilah kunci sukses Mohammad Nadjikh dalam membesarkan KML Food. Saat membangun Kelola Mina Laut pada tahun 1994 silam, ia hanya bermodal dengkul, nekat, dan kerja cerdas.

Produk perikanan sangat mudah rusak jika tidak dikelola dengan baik. Itulah kenapa dia membangun miniplant di dekat daerah penangkapan. Sehingga, nelayan yang datang langsung menjual produk di tempat. Dengan mendekat ke sumber bahan baku, jaringan penguasaan bahan baku bisa dibentuk.

Saat awal-awal berdiri, KML Food menggunakan panas matahari untuk mengeringkan ikan teri basah yang diperoleh dari nelayan. Maklum, investasi untuk membangun pabrik sangat mahal. Meski begitu, di pasar ekspor, kualitas produknya tidak kalah dari Jepang yang dikeringkan di pabrik.

“Bagaimana dengan modal nekat dan terbatas saya harus bisa menjual satu container. Awalnya saya processing di tempat orang lain. Kalau mau bersaing, harus bisa mengirim secara continue, kualitas standar internasional, pabriknya baik, baru bisa bersaing, untung, dan jalan ,” katanya.

Mohammad Nadjikh, CEO Kelola Mina Laut (KML) Food Mohammad Nadjikh, CEO Kelola Mina Laut (KML) Food

Kuncinya adalah mengetahui ilmunya dan meyakinkan pembeli potensial dari Amerika Serikat, Uni Eropa dan juga Jepang agar mereka percaya. Standar kualitas produk dijaga lewat pengolahan yang bersih sehingga tampilannya cemerlang, penyimpanan bagus agar tidak berubah warna dan bau.

Untuk menjadi besar, harus menggandeng partner yang besar. Oleh karena itu, ia menggandeng pembeli dari Amerika Serikat, yang sebenarnya tidak biasa mengonsumsi ikan tropis. Namun, ia berhasil meyakinkan mereka untuk mencicipi ikan kakap merah yang hanya ditemukan di perairan Indonesia.

“Pembeli yang besar nantinya akan banyak menuntut. Kita jadi ditantang terus, kreativitas muncul. Ini yang membuat bisnis cepat berkembang. Dulu, saya punya pabrik berkapasitas 10 ton perhari untuk ikan teri, kakap merah, dan udang. Namun, lebih sering terpenuhi hanya separuhnya,” katanya.

Namun, ia tak patah semangat dan justru memutuskan membangun pabrik berkapasitas 40 ton perhari agar pembeli percaya. Ia melakukan lompatan kuantum dengan memanfaaatkan booming udang vannamie, yakni spesies yang merupakan penemuan baru seperti ayam ras.

Setelah menjadi produsen teri basah terbesar di Indonesia, KML Food melakukan diversifikasi produk dengan menjual kakap merah, rajungan, gurita, kepiting, dan lainnya. Penguasa eksportir gurita di dunia yakni Maroko dan Filipina pun dibuat tidak berdaya.

“Bagaimana saya bisa mendevelop bisnis menjadi terkenal? Bangun koneksi, jaringan, meyakinkan pasar, ini tantangannya. Saya juga pionir ekspor ikan lele ke Eropa. Kami harus bisa bersaing dan mensuplai secara continue sejak tahun 2002,” katanya. (Reportase: Aulia Dhetira)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)