Masih Seret, OJK Revisi Target Kredit

Otoritas Jasa Keuangan sedang mengkaji perubahan proyeksi kredit untuk tahun ini. Upaya ini tak lepas dari pertumbuhan kredit yang secara year-to-date masih cukup rendah.

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muliaman D. Hadad mengatakan saat ini OJK masih melakukan evaluasi dari rencana bisnis bank (RBB). “Hasilnya baru ada setelah evaluasi rampung akhir bulan ini," ujar Muliaman di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin, 5 September 2016. Dia juga mengakui, langkah ini sejalan dengan pemangkasan target pertumbuhan kredit yang dilakukan Bank Indonesia.

Pertengahan Agustus lalu, Bank Indonesia memang memutuskan menurunkan proyeksi pertumbuhan kredit dari sebelumnya 10-11 persen menjadi 7-9 persen. Bahkan Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo menyatakan pertumbuhan kredit secara year-to-date masih di bawah 3 persen. Walaupun begitu, dia yakin perbaikan akan terjadi pada semester kedua. Ini sejalan dengan konsumsi sektor swasta pada semester kedua 2016 yang diprediksi meningkat.

Adapun Deputi Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo optimistis penggunaan suku bunga acuan baru, 7-Day Repo Rate, juga bisa mengerek pertumbuhan kredit. Penerapan acuan baru itu akan meningkatkan likuiditas perbankan, terlebih aliran modal asing yang masuk Indonesia dalam bentuk investasi portofolio jumlahnya juga sudah meningkat hingga mencapai Rp 115 triliun.

Muliaman D Hadad, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Muliaman D Hadad, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan

Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menuturkan lambatnya pertumbuhan kredit pada tahun ini disebabkan oleh dua faktor utama, yaitu penawaran dan permintaan. Di sisi penawaran, bank cenderung mengerem penyaluran kredit karena potensi kenaikan non-performing loan atau kredit macet. Di sisi lain, permintaan belum membaik karena daya beli masyarakat masih rendah. Dengan asumsi itu, Josua mengatakan kenaikan ekonomi pada kuartal kedua lalu yang melebihi 5 persen hanya faktor musiman.

Josua memprediksi, hingga akhir tahun, pertumbuhan kredit akan berada di posisi 7-8 persen, terlebih pemerintah juga sedang gencar memangkas anggaran yang mengakibatkan belanja pemerintah akan terbatas. “Kalau belanja pemerintah rendah, tentu tak bisa menstimulus konsumsi swasta.”

Ekonom dari Kenta Institute, Eric Sugandi, justru berpendapat bahwa pertumbuhan kredit pada paruh kedua tahun ini akan lebih baik. Dari sisi permintaan, kredit diprediksi tumbuh positif sejalan dengan peningkatan tumbuhnya optimisme terhadap kondisi ekonomi Indonesia.

Adapun dari sisi penawaran, adanya kebijakan relaksasi dari bank sentral disebut bisa meningkatkan pertumbuhan kredit. “Namun, karena pertumbuhan kredit lambat di kuartal pertama, untuk full year 2016 saya perkirakan kredit tumbuh di posisi 8-10 persen,” ujarnya. Beberapa sektor yang menurutnya mampu berkontribusi di sisa tahun ini adalah consumer goods atau barang konsumsi dan properti.

Tempo

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)