MasterCard: Masyarakat Kini Menuju Pembayaran Non Tunai

mastercardMasterCard, baru-baru ini, mengeluarkan sebuah laporan global terbaru “The Cashless Journey,” yang melacak bagaimana 33 negara-negara kunci telah bergerak dari masyarakat dengan basis pembayaran tunai menuju masyarakat non tunai. Laporan yang diterbitkan oleh MasterCard Advisors tersebut mengidentifikasi teknologi-teknologi terbaru, program-program pemerintah, dan pilihan konsumen sebagai faktor-faktor kunci yang mendorong pergeseran ini.

Studi ini fokus pada nilai dari seluruh pembayaran konsumen dengan total pengeluaran US$ 63 triliun, termasuk pembayaran yang terjadi di luar point-of-sale retail. Di tahun 2011, 34 persen (US$ 21 triliun) dari total pengeluaran konsumen secara global dilakukan melalui pembayaran tunai, dan pembayaran non tunai sebesar 66 persen (US$ 42 triliun).

Laporan ini mengidentifikasi Belgia (di mana sekitar 93% pengeluaran konsumen dilakukan melalui pembayaran non tunai), Prancis (92%), Kanada (90%), Inggris (89%), Swedia (89%), Australia (86%), dan Belanda (85%) sebagai negara-negara di mana pembayaran non tunai hampir dilakukan dimanapun. Hal ini melambangkan adanya perubahan besar dari pembayaran tunai menjadi pembayaran non tunai dengan memanfaatkan teknologi, seperti EMV chip yang mudah dibawa kemana-mana, serta infrastruktur pembayaran modern lainnya.

Negara-negara, seperti Amerika Serikat (di mana sekitar 80% total pengeluaran konsumen dilakukan secara non tunai) dan Singapura (69%) sedang mendekati ‘titik penting' untuk menjadi masyarakat non tunai seutuhnya, sementara penggunaan pembayaran tunai yang ada sebagian besar merupakan hasil dari kebiasaan konsumen. Sebaliknya, negara-negara dengan ekonomi berkembang, seperti Indonesia (31%), Rusia (31%), dan Mesir (7%) baru saja memulai perjalanan menjadi masyarakat non tunai. Namun, dalam banyak kasus, perubahan bentuk pembayaran tunai di negara-negara tersebut lebih cepat dibandingkan negara-negara maju tertentu.

Berdasarkan studi tersebut, pembayaran non tunai di Indonesia terhitung sebesar 31% dari total pembayaran yang dilakukan konsumen. Hasil nilai ini menempatkan Indonesia masuk ke dalam kategori negara-negara yang berada dalam tahap awal (inception), bersama dengan negara-negara lain, seperti Nigeria, Rusia, dan Kolombia. Negara-negara tersebut baru saja mulai untuk beralih dari pembayaran tunai.

Sementara itu, setelah berhasil menyediakan seluruh elemen dari infrastruktur pembayaran konsumen modern, negara-negara seperti Brasil (57%), Polandia (41%), dan Afrika Selatan (43%) saat ini sedang dalam tahap transisi, dan secara cepat bergeser menjauh dari pembayaran tunai.

Pergeseran tercepat dari pembayaran tunai terjadi di China, di mana nilai pembayaran konsumen secara tunai diprediksi menurun sebanyak 20 persen antara tahun 2006 hingga 2011. China (di mana sekitar 55% pengeluaran konsumen dicapai dengan pembayaran non tunai) dan Uni Emirat Arab (26%) berada di antara kelompok negara-negara yang mana pemerintahnya telah mengambil peran dalam mendorong pembayaran elektronik untuk mendukung tujuan-tujuan sosial dan ekonomi mereka. Kenya (27%) merupakan contoh di mana teknologi memberikan kontribusi terbesar dalam mengurangi pengeluaran konsumen melalui pembayaran tunai.

Jadi, riset dari MasterCard Advisors mengindikasikan bagaimana persiapan sebuah negara untuk beralih menuju masyarakat non tunai, ditentukan oleh berbagai faktor, seperti akses dan kemampuan layanan finansial; skala dan pangsa pasar dari penjual; tingkat teknologi yang tersedia; dan partisipasi konsumen dalam ekonomi formal. Namun, di beberapa negara seperti Jerman (di mana sekitar 76% pengeluaran konsumen terjadi melalui pembayaran non tunai), Jepang (62%), Spanyol (54%) dan Taiwan (43%), perilaku budaya yang lebih banyak menyarankan penggunaan uang tunai dibandingkan kondisi pasar yang juga sangat berpengaruh.

Kevin Stanton, President MasterCard Advisors, menyimpulkan, “Walaupun masing-masing negara memiliki kisah yang unik dan memerlukan pemahaman akan realita lokal, manfaat yang diperoleh dengan lebih banyaknya masyarakat non tunai bersifat universal: lebih banyak kenyamanan yang diperoleh konsumen, efisiensi yang lebih baik bagi pemerintah, produktivitas bisnis yang lebih tinggi, dan keikutsertaan masyarakat yang lebih tinggi secara keseluruhan dengan membawa lebih banyak warga negara ke dalam arus ekonomi. Laporan ini menyediakan peta yang memandu bagaimana negara-negara dapat memperoleh manfaat-manfaat tersebut dan memungkinkan kehidupan yang lebih baik bagi seluruh rakyat." (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)