MasterCard: Partisipasi Tenaga Kerja Perempuan Masih Statis

Sebuah laporan tinjuan IMG_0515terbaru dari MasterCard menyebutkan pendidikan kaum perempuan Indonesia telah meningkat secara signifikan sejak tahun 1980, terutama di jenjang pendidikan menengah dan pendidikan tinggi. Sayangnya, pendidikan yang meningkat tersebut belum sebanding dengan peningkatan partisipasi tenaga kerja perempuan.

“Tingkat partisipasi tenaga kerja perempuan Indonesia relatif masih statis,” ujar Simon Ogus, CEO Asia Limited yang bekerja sama dengan MasterCard mempelajari  peran pendidikan dalam meningkatkan produktivitas tenaga kerja dan sejauh mana kontribusi perempuan terhadap pertumbuhan ekonomi.

Penelitian yang dilakukan Ogus dengan melihat laporan-laporan dua dekade terakhir tentang tenaga kerja perempuan di 17 negara di wilayah Asia Timur, Asia Tenggara dan Asia Selatan. “Pertumbuhan ekonomi di China, Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Thailand ternyata menghasilkan 55% tenaga kerja perempuan berpendidikan,” katanya.

Dia menyebut, Thailand dan China telah berhasil dalam mempertahankan tingkat partisipasi perempuan dalam pertumbuhan ekonomi. Lebih tinggi daripada negara-negara lainnya yang berada dalam suatu wilayah.

Di sisi lain, masih banyak kaum wanita berpendidikan yang harus berjuang untuk mendapatkan kesempatan pekerjaan yang sesuai. “Misalnya kurangnya mekanisme dukungan bagi anak dan para orang tua yang melarang wanita untuk memasuki dunia kerja, atau perilaku budaya yang masih tradisional.”

Global Economic Advisor MasterCard, Yuwa Hedrick-Wong, mengatakan, sudah seharusnya pemerintah mempertimbangkan untuk mengadopsi kebijakan-kebijakan yang ramah terhadap partisipasi tenaga kerja perempuan.

“Ini demi membuka kesempatan untuk mempekerjakan sejumlah besar perempuan yang berpendidikan tinggi, itu yang terpenting,” kata Yuwa.

Leave a Reply

1 thought on “MasterCard: Partisipasi Tenaga Kerja Perempuan Masih Statis”

Di negara-negara berkembang seperti Indonesia, masih membutuhkan penantian yang panjang untuk mengharapkan kepedulian pemerintah terhadap pendidikan bagi kalangan menengah ke bawah, terutama bagi tenaga kerja perempuan atau yang sering disebut sebagai TKW (Tenaga Kerja Wanita). Harus diakui ada gap yang besar antara program-program pemerintah yang nampaknya sedap didengar, dengan kenyataan dilapangan. Sebenarnya dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi, pemerintah tentu akan membantu mereka mendapatkan taraf hidup yang lebih baik. Masih banyak masalah lain yang menjadi concern para pemerhati masalah hak-hak kaum perempuan, seperti masalah human trafficking dan pekerja seks dibawah umur yang semakin hari bukan semakin berkurang tetapi malah semakin marak.
by Indah, 04 Oct 2013, 01:33

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)