Mengapa Talenta Industri Finansial Tinggi Turnover?

Indonesia merupakan salah satu market tenaga kerja yang cukup besar di dunia. Namun, jumlah tenaga kerja ini ternyata tidak semuanya bisa diserap. Studi yang dilakukan oleh Willis Towers Watson pada tahun 2014 menyatakan bahwa 8 dari 10 perusahaan di Indonesia kesulitan mencari talenta yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan mereka.

Lilis Halim, consultan director Willis Towers Watson Lilis Halim, consultan director Willis Towers Watson

Menurut Lilis Halim, Consultant Director Willis Towers Watson, 27% lulusan tenaga kerja di Indonesia merupakan lulusan sekolah dasar. Lulusan universitas sendiri hanya ada sekitar 8,37% setiap tahunnya. Indonesia menjadi negara ketiga dengan pertumbuhan lulusan perguruan tinggi terbesar di dunia. Posisi pertama dan kedua ditempati India dan Brazil.

Dalam satu tahun pertumbuhannya mencapai 4% dengan surplus sekitar 1,5%. Jumlah ini, tak sebanding dengan kebutuhan yang ada di dunia kerja karena masih banyak perusahaan yang mengeluhkan kesulitasn emncari tenaga kerja yang sesuai.

Dari riset yang telah dilakukan, perusahaan tersebut mencari talenta-talenta dengan kemampua critical skills dan high potential skills. Para calon karyawan ini diharapkan peka dengan perubahan-perubahan yang terjadi didalam dunia bisnis, terutama di industri dimana perusahaan tersebut bergerak.

Perusahaan juga kesulitan dalam mencari karyawan yang memiliki high potential skills, atau memiliki kemampuan yang diharapkan. Kemampuan ini menjadi salah satu alasan mengapa tingginya turnover dalam beberapa industri. Salah satu contohnya adalah industri finansial yang memiliki 11% rata-rata turn over yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan industri yang lain.

Selain itu kenyamanan dalam bekerja pun menjadi salah satu alasan angka turnover bisa menjadi tinggi. Pada saat ini, kebanyakan perusahaan telah diisi oleh gen Y. Para anak muda ini biasanya berusia 25-34 tahun dan memiliki karakter yang berbeda di bandingkan pendahulunya.

Ada 34% dari mereka yang ingin keluar dari perusahaan setelah 2 tahun bekerja, sementara 32% diantaranya masih menimbang-nimbang. Survey yang dilakukan kepada 8000 karyawan ini juga menunjukan bahwa gen Y ini menginginkan gaji yang kompetitif, kesempatan karir yang bak, dan kesempatan untuk belajar dan berkembang di perusahaan.

Ketiganya menjadi kunci utama dalam menjaga karyawan untuk tetap bertahan di suatu perusahaan. Keinginan karyawan seharusnya dibarengi dengan kemampuan calon karyawan yang mumpuni, namun nyatanya banyak lulusan universitas yang kesulitan beradaptasi dengan lingkungan kerja.

Ekspektasi dunia kerja, tampaknya berbeda jauh dengan realitas yang ada. Gambaran realita dunia kerja, dihadirkan L’oreal melalui program A Taste of L’Oreal, yaitu program yang pengembangan untuk para mahasiswa. Mereka akan diberikan pengetahuan dan ketrampilan dalam menghadapi persaingan dunia kerja.

Ada 30 mahasiswa dari seluruh Indonesia yang diberikan seminar, workshop, serta studi kasus oleh L’Oreal. Harapannya para mahasiswa ini bisa lebih siap dalam menghadapi dunia kerja. Selain kemampuan interpersonal dan kemampuan yang baik, perusahaan juga menginginkan calon karyawan yang memiliki kemampuan digital sehingga bisa go global. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)