Nielsen: Orang Indonesia Gemar Berlibur

Masyarakat Indonesia PD (percaya diri) dengan kondisi keuangannya hingga tahun mendatang. Hal itu diungkapkan Nielsen dalam Survei Kepercayaan Konsumen kuartal 4 tahun 2012. Meski indeksnya turun 2 poin, masyarakat Indonesia dinilai optimis memandang 2013. Bahkan di tahun tersebut 54% responden survei berpikiran untuk membeli barang yang ia dambakan.

Menyasar 500 netizen (masyarakat online) Tanah Air, Survei Kepercayaan Konsumen menunjukkan bahwa Indonesia termasuk 3 besar negara paling optimis. Indonesia hanya selisih satu poin dengan Filipina yang indeksnya 118 poin, dan India 119 poin. “Walaupun turun 2 poin, ini tidak terlalu berarti, optimisme masih bagus,” kata Catherine Eddy, Managing Director Nielsen. Optimisme tersebut tergambar dari keyakinan terhadap kondisi keuangan pribadi dan ketersediaan lapangan pekerjaan hingga tahun mendatang. Sebanyak 78% netizen percaya keuangannya akan baik-baik saja, dan 64% yakin lapangan pejerjaan masih terbuka lebar.

Meski percaya diri, mereka sangat berhati-hati dalam membelanjakan uangnya. 74% responden mengaku memiliki uang tabungan. Mereka pun menabung untuk liburan, produk teknologi mutakhir, hiburan di luar rumah, baju baru, dan dekorasi rumah. Hanya 2% responden yang tidak menabung.

Siapa yang tak mau berlibur. Orang Indonesia pun gemar berlibur. Untuk kesenangan ini, 35% netizen bahkan rela menyisihkan uangnya. Berbeda halnya dengan berbelanja. Survei yang digelar di kuartal terakhir 2014 ini menunjukkan hanya 20% responden yang berencana membelanjakan uangnya untuk baju baru. Angka tersebut relatif kecil dibanding Asia Pasifik 35% atau responden China yang 43% merencanakan beli baju baru. Urusan dekorasi rumah pun hanya direncanakan 15% netizen Indonesia.

Perubahan pola belanja

Ternyata 4 dari 5 netizen memang berniat mengubah pola belanja mereka. Sebanyak 80% responden mengatakan telah melakukan hal tersebut untuk menghemat pengeluaran rumah tangga. Caranya, 57% netizen menunda belanja teknologi. Mengurangi kebiasaan bersenang-senang di luar rumah juga menjadi pilihan 49% responden. Sementara itu, 44% responden memilih untuk mengurangi belanja baju baru.

Perubahan ini tidak terlalu mengejutkan bila diketahui bahwa situasi ekonomi menjadi perhatian utama masyarakat Indonesia. Bahkan 17% responden Survei Kepercayaan Konsumen menempatkan hal tersebut sebagai prioritas. Selain itu, 12% netizen sangat memperhatikan keseimbangan hidup antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Sementara 7% memprioritaskan kesejahteraan dan kebahagiaan orang tua. “Ini yang unik dari Indonesia,” kata Catherine. Yang lebih unik, pemanasan global tak lepas dari perhatian 8% responden setelah kenaikan harga bahan bakar.

“Ada potensi masyarakat kita bergerak ke arah premium, trennya juga meningkat. Anda perhatikan saja produk shampo sekarang sangat beragam. Ada yang untuk rambut lurus, dikeriting, warna, dan sebagainya. Dan saya yakin Anda pakai lebih dari satu sampo,” tutur wanita asal Australia ini. Ia menambahkan, apabila hal yang tak terduga terjadi dan mengganggu stabilitas ekonomi, kemungkinannya kecil untuk berpindah brand. Mereka lebih memilih mengurangi kadar penggunaannya daripada harus berspekulasi dengan brand yang sedikit lebih murah. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)