Optimisme Bisnis di Indonesia 2013

Kondisi bisnis di Indonesia mendapat ranking 10 besar paling optimistis dibandingkan dengan latar belakang ketidakpastian dalam perekonomian negara ASEAN lainnya.

bisnisriset

Riset terbaru Laporan Bisnis Internasional (International Business Report - IBR) dari Grant Thornton mengungkapkan bahwa optimisme terhadap perekonomian di Indonesia menduduki rangking yang tinggi dibandingkan dengan perekonomian pada negara global dan ASEAN lainnya. Proporsi bisnis di Indonesia yang optimistis untuk 12 bulan yang akan datang meningkat menjadi 56% di kwartal ketiga . Optimisme di Indonesia sekarang menduduki peringkat ke -10 secara global, menurut IBR, secara signifikan lebih tinggi dibandingkan rata-rata ASEAN (+39%) dan rata-rata global (+32%). Di ASEAN, Indonesia berada di tempat ketiga, setelah Philippines (+96%) dan Vietnam (+64%).

Sebagai tambahan, 56% dari bisnis di Indonesia memperkirakan harga barang-barang akan naik dalam 12 bulan ke depan, menjadikan Indonesia satu dari lima besar negara ekonomi yang paling optimistis dalam kategori ini. Angka inipun sekali lagi jauh di atas rata-rata di ASEAN (+32%) dan global (+26%).

Secara kontras, kepercayaan untuk sektor ekspor untuk 12 bulan ke depan adalah sebesar +4%, menduduki peringkat 41 diantara 45 negara ekonomi yang dikaji dalam IBR. Ini dibandingkan dengan rata-rata di ASEAN sebesar +10% dan global +16%.

Menanggapi hasil temuan atas kajian tersebut, Johanna Gani, Managing Partner di Grant Thornton Indonesia mengatakan, “Dari hasil temuan atas kajian tersebut, jelas terlihat bahwa komunitas bisnis Indonesia lebih optimistis dibandingkan dengan negara-negara yang lebih maju secara ekonomi di ASEAN seperti Singapura, Malaysia dan Thailand, dengan demikian memperlihatkan bahwa masih ada ruang bagi perluasan ekonomi walaupun mungkin akan menyebabkan kenaikan biaya hidup dan tingkat inflasi kecuali Pemerintah dapat menetapkan kebijakan fiskal yang ketat secara tepat ”.

Johanna menambahkan, “sementara kepercayaan di ekspor masih rendah karena adanya defisit perdagangan saat ini, pemerintah Indonesia sedang merencanakan untuk melonggarkan undang-undang ekspor untuk sektor-sektor tertentu, misalnya biji mineral untuk mendorong peningkatan perdagangan. Hal ini akan menambah kemungkinan inflasi sehingga akan jelas terlihatbahwa kesehatan ekonomi suatu negara sangatbergantung tangan pemerintahnya”

Infrastruktur sudah lama menjadi salah satu hambatan di dalam pertumbuhan ekonomi di Indonesia dan dalam hal harapan mengenai pembangunan ekonomi, +26% dari bisnis di Indonesia mengharapkan peningkatan investasi dalam bentuk bangunan-bangunan baru, nomor dua setelah Filipina, dan lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata ASEAN (23%) dan rata-rata global (+19%). Area lain yang dilihat bisnis Indonesia sebagai kendala pertumbuhan adalah birokrasi yang berlebihan, prasarana transportasi dan teknologi .

Pada catatan yang tidak terlalu positif, kesempatan angkatan kerja baru di Indonesia masih rendah dengan hanya 22% dari bisnis di Indonesia yang merekrut lebih banyak orang selama 12 bulan terakhir, jauh tertinggal dibandingkan negara-negara ASEAN lainnya: Filipina (+62%), Malaysia (+48%) dan Singapura (+42%); dan hanya 16% dari bisnis Indonesia yang berharap dapat menawarkan kenaikan gaji karyawannya “di atas inflasi” dalam waktu 12 bulan mendatang, dibandingkan dengan Filipina (72%), Malaysia (18%) dan Vietnam (18%).

Melihat pada tingkat lapangan kerja baru, Johanna Gani berkata “Potensi peningkatan lapangan kerja baru ditempa oleh kenyataan bahwa dari sudut pandang makro, bisnis di seluruh Asia Tenggara dan Asia Pasifik mengalami penurunan permintaan dan proporsi bisnis di Asia Pasifik menyebutkan kekurangan order sebagai satu hambatan besar untuk tumbuh telah meningkat dari 43% di kwartal kedua menjadi 51% di kwartal ketiga”

Kawasan ini juga menjadi kurang menarik untuk ekspor sejak tahun 2010: Hanya 10% di ASEAN mengharapkan pertumbuhan ekspor untuk 12 bulan ke depan, sehingga harapan untuk ketersediaan pekerjaan menjadi rendah.”

Johanna Gani menyimpulkan bahwa “perlambatan di China diperkirakan sebagai faktor utama dalam persoalan-persoalan di Asia Selatan. Sementara ekonomi Chia akan menuju ke arah pengadopsian model pertumbuhan ekonomi yang lebih berkelanjutan, permintaan barang-barang masih mengikuti – dan negara-negara tetangga terkena dampak dari itu. Jadi dalam konteks ini, hal tersebut merupakan pertanda positif bisnis Indonesia tetap optimis khususnya dengan latar belakang melemahnya ekonomi yang berkepanjangan di kawasan Eropa, di mana kondisinya sudah mulai sedikit membaik, tapi daya beli konsumen masih lemah “ (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)