Optimisme Investor Indonesia Berseberangan dengan Prediksi Kesehatan Masa Pensiun

Riset terbaru dari Manulife mengungkapkan bahwa investor Indonesia merasa optimis dapat membiayai masa pensiun mereka karena adanya anggapan bahwa kondisi kesehatan mereka  prima. Sebagai informasi, usia pensiun di Indonesia adalah 55 tahun, yang merupakan usia pensiun termuda di wilayah yang diteliti, dengan asumsi angka ini ditetapkan beberapa dekade lalu saat usia harapan hidup masyarakat Indonesia jauh lebih rendah, yaitu sekitar 55-60 tahun.

DSC_2506

Nur Hasan Kurniawan, Chief of Employee Benefits PT Asuransi Jiwa Manulife Indonesia, menegaskan bahwa Indonesia telah mengalami perkembangan ekonomi yang dramatis sejak masa itu. “Seiring dengan perkembangan tersebut, usia harapan hidup pun mengalami peningkatan, di mana saat ini usia harapan hidup mencapai usia 70-an atau 80-an. Masyarakat berharap agar usia pensiun yang berlaku secara umum saat ini dapat ditinjau kembali," paparnya.

Masalahnya sekarang bertumpu pada tidak sejalannya optimisme kondisi kesehatan para investor tersebut dengan penilaian Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). WHO menyatakan bahwa sebagian besar penduduk Indonesia dengan rentang usia 15 tahun ke atas berpotensi  mengalami gangguan kesehatan yang terkait dengan konsumsi rokok. Persentase antara pria dan wanita adalah 67 : 3. Sementara gangguan kesehatan terbesar kedua bagi untuk rentang usia 25 tahun ke atas adalah tekanan darah tinggi. Persentasenya adalah 33 % untuk pria dan 29 % untuk wanita.

Nur Hasan menambahkan bahwa saat ini sebanyak 46 % dari investor yang sudah memiliki asuransi kesehatan berencana untuk membeli atau memperbaharui perlindungan mereka selama masa pensiun. Sementara 61 % akan mengandalkan layanan kesehatan umum saat mereka pensiun.

Menurut Nur Hasan, model dukungan tradisional bagi kalangan lanjut usia, seperti hidup dengan dengan anak dan bantuan keuangan dari anggota keluarga, akan semakin berkurang. "Namun pada saat yang sama, orang yang pensiun masih memikirkan keluarga mereka. Hasil survei ini menunjukkan bahwa tiga perempat investor diprediksi tidak akan memiliki dana yang cukup untuk diwariskan kepada generasi selanjutnya sebagai risiko-risiko utama mereka di masa pensiiun. Hal lainnya yaitu dua dari lima orang tidak mampu membiayai pendidikan tinggi bagi anak-anaknya atau biaya pernikahan anak,” lanjutnya. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)