Pasar Muslim Dunia Ternyata Lebih Besar dari India dan Cina

Pasar muslim ternyata lebih besar dari Cina dan India. Secara global, besarnya pasar Cina dan India masing-masing diperkirakan sekitar 1 miliar orang. Sementara itu umat muslim dunia saat ini ada 1,8 miliar orang. Sayangnya, fakta demografi tersebut belum banyak diperhatikan oleh para pelaku pasar.

"Estimasi jumlah umat muslim tahun 2030 mencapai 2,2 miliar jiwa, naik 35% dari total populasi muslim sedunia saat ini," ungkap Dr Paul Temporal dari Saïd Business School, University of Oxford. Artinya, di tahun tersebut 26,4% penduduk dunia adalah muslim. Dr Temporal lebih lanjut menjelaskan bahwa tahun 2050 nanti jumlah umat muslim dunia menjadi 2,6 miliar atau 30% dari total populasi manusia di dunia. Di tahun yang sama, 60% penduduk dunia usia di bawah 18 tahun adalah muslim.

Dr Paul Temporal, penulis buku Islamic Branding and Marketing Dr Paul Temporal, penulis buku Islamic Branding and Marketing

"Pasar muslim sangat besar, lucrative (memberikan banyak keuntungan dan uang), dan belum terlayani dengan maksimal," tutur penulis buku Islamic Branding and Marketing: Creating a Global Islamic Business. Pasar halal dunia saat ini saja nilainya US$ 650 miliar, bahkan baru-baru ini sudah mendekati US$ 700 miliar. Nilai ini sudah mencakup lebih dari 17% nilai pasar dunia secara keseluruhan.

Beberapa sektor potensial yang harus digarap serius terkait pasar muslim adalah sektor pangan, farmasi, dan kosmetik. Sekitar 61% nilai pasar halal secara global berasal dari sektor makanan. Farmasi menyumbang 21%, sedangkan kosmetik 11%, dan sektor lain hanya 2%. Tak heran bila kemudian banyak yang membuat brand sendiri khusus produk halal. Untuk kosmetik halal, pertumbuhannya diperkirakan US$ 13 miliar atau 12% per tahun.

"Pertumbuhan double digit merupakan hal yang luar biasa di pasar global saat ini," kata Temporal. Di beberapa negara produk halal seperti halnya Kosher (halal bagi Yahudi) dianggap sebagai barang mewah. Pasar lux pun tumbuh pesat terutama di negara Timur Tengah, Singapura, dan Eropa. Dalam hal ini Indonesia dan Malaysia termasuk hotspot pasar halal. Rusia, Cina, India, dan beberapa negara Asia pun sudah menjadi emerging market bagi produk-produk halal.

"Umat muslim di mana pun punya satu nilai yang sama seperti yang diatur dalam Al Quran," tuturnya dalam diskusi media The Market Opportunity of the Muslim World, Senin 23 Juli 2012. Tak hanya kekuatan untuk membeli, umat muslim pun punya kekuatan besar untuk stop mengkonsumsi produk yang dikeluarkan suatu brand hanya karena isu haram.

"Salah satu tantangan pasar sekarang adalah jejaring sosial. 300 juta muslim dunia yang didata dari namanya mengakses jejaring sosial. Dengan adanya jejaring sosial, muslim yang minoritas di negaranya dengan mudah memperoleh informasi tentang produk halal," Yusuf Hatia, Senior Vice President sekaligus Managing Director Fleishman-Hillard Mumbai menjelaskan.

Jejaring bisa jadi media yang baik untuk memasarkan produk halal namun juga bisa mematikan suatu brand. Seperti yang kerap terjadi di forum diskusi dan group facebook, ketika ada isu bahwa suatu brand memproduksi barang haram, hampir seluruh umat muslim dunia berhenti membeli produk apapun yang dikeluarkan brand tersebut. Di Indonesia, peristiwa Ajinomoto beberapa tahun lalu adalah salah satu contoh nyata. (EVA)

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)