PwC: Bisnis Keluarga di Indonesia Optimistis Tumbuh Pesat

Hasil survei global dua tahunan PwC terhadap bisnis keluarga: The ‘Missing Middle’: Bridging the strategy gap in family firms, menyebutkan, bisnis keluarga di Indonesia optimistis tentang masa depan. Sebanyak 88% responden menargetkan pertumbuhan dan 44% memperkirakan pertumbuhan yang pesat dan agresif.

Pertumbuhan selama 12 bulan terakhir menurun jika dibandingkan dengan hasil survei pada tahun 2014. Namun, target pertumbuhan pada tahun 2016 jauh lebih tinggi bila dibandingkan estimasi tahun 2014, juga lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata global.

PwC

Survei ini dilakukan terhadap 2.802 responden di 50 negara, termasuk 36 responden asal Indonesia. Hasil tahun ini menunjukkan bahwa, meskipun kondisi makroekonomi lokal dan global saat ini tidak sepesat tahun yang lalu dan kecepatan perubahan semakin dirasakan bertambah, bisnis keluarga masih tetap bergairah dan ambisius untuk meraih pertumbuhan. Responden menyatakan bahwa perusahaan keluarga adalah bagian penting di ekonomi makro, serta menawarkan stabilitas, komitmen jangka panjang dan tanggung jawab yang lebih besar terhadap masyarakat dan karyawan mereka. Mereka juga mengatakan bahwa bisnis keluarga dapat menjadi mesin penggerak perubahan dan inovasi.

Michael Goenawan, Entrepreneurial & Private Clients Leader PwC Indonesia, mengatakan, “Banyak bisnis keluarga Indonesia yang akan terus mengandalkan modal mereka sendiri. Mereka yang berencana untuk tumbuh sebesar lebih dari 10% setiap tahunnya selama lima tahun ke depan harus menggunakan sejumlah metode pembiayaan eksternal.”

Temuan survei ini menyatakan bahwa isu utama yang dihadapi oleh bisnis keluarga di Indonesia selama 12 bulan ke depan adalah kondisi ekonomi, persaingan, rekrutmen staf, pelatihan dan keuangan atau ketersediaan dana. Dalam hal target dan bisnis para responden selama lima tahun ke depan, banyak yang ingin memastikan strategi jangka panjang bisnis mereka, meningkatkan proiitabilitas dan menjalankan bisnis dengan lebih profesional.

Tantangan utama selama lima tahun ke depan hampir serupa dengan survei yang lalu, namun kali ini juga mencakup inovasi, upaya mengikuti perkembangan digital dan teknologi baru serta ketidakstabilan pasar di negara dimana mereka beroperasi. “Tantangan utama bisnis keluarga di Indonesia selama lima tahun ke depan adalah kemampuan berinovasi, merekrut serta mempertahankan staff yang berkompeten serta mengatasi ketidakstabilan pasar. Semakin banyak pula yang menganggap situasi ekonomi umum sebagai sebuah tantangan (37% pada tahun 2014 menjadi 64% pada tahun 2016),” tambah Michael Goenawan.

Mayoritas bisnis keluarga di Indonesia berbentuk wirausaha, streamlined, serta memiliki proses pengambilan keputusan yang lebih cepat. Mereka juga berpendapat bahwa bisnis keluarga perlu bekerja lebih keras untuk merekrut dan mempertahankan SDM yang baik.

Dalam hal keselarasan antara keluarga dengan bisnis, 6796 bisnis keluarga Indonesia mengklaim bahwa antara keluarga dengan bisnis sepenuhnya sejalan. 81% bisnis keluarga di Indonesia memiliki generasi penerus yang bekerja di perusahaan, lebih tinggi dibandingkan rerata global (69%).

Nyaris seluruh bisnis keluarga di Indonesia (97%) memiliki setidaknya satu mekanisme untuk menangani konflik keluarga, menunjukkan pentingnya meminimalisir risiko mengenai hal ini. Dalam bisnis keluarga, hasil ini lebih tinggi dibandingkan rata-rata global yaitu 82%. Namun, hanya 14% bisnis keluarga yang sudah memiliki rencana pewarisan yang didokumentasikan dan dikomunikasikan, serupa dengan rata-rata global sebesar 15%. Dua pertiga bisnis keluarga di Indonesia berencana untuk mengalihkan kepemilikan bisnis (bukan manajemen) kepada generasi selanjutnya, sementara 17% berencana untuk menjual atau menawarkannya di pasar melalui IPO.

Pentingnya teknologi digital juga diakui oleh bisnis keluarga di Indonesia. 75% mengklaim telah memahami manfaat nyata digital dan memiliki rencana realistis dalam mengukur manfaat tersebut. Bisnis keluarga Indonesia juga yakin bahwa digital telah diintegrasikan dalam kultur bisnis mereka dan mereka memiliki strategi yang sesuai untuk era digital.

Michael Goenawan menyimpulkan, "Bisnis keluarga di Indonesia juga optimis tentang prospek pertumbuhan di tahun-tahun mendatang, dengan rencana mereka yaitu berfokus kepada bisnis utama di pasar yang sudah ada dengan melakukan ekspansi ke area bisnis atau pasar yang baru. Mayoritas dari mereka berpendapat kekuatan bisnis keluarga berada dalam kemampuan kewirausahaan, organisasi yang lebih efektif dan streamlined, serta pengambilan keputusan yang dapat lebih cepat dilakukan. Bisnis keluarga di Indonesia juga mengakui pentingnya peranan digitalisasi dan manfaatnya terhadap bisnis mereka.”

“Terdapat suatu keharusan yang sama pentingnya untuk meluangkan waktu dan tempat untuk melaksanakan proses perencanaan strategis yang matang. Hal ini mencakup perencanaan masa depan keluarga, serta masa depan perusahaan. Generasi selanjutnya memainkan peran yang semakin penting, baik dalam merespon gangguan digital dan dalam proses penentuan strategi. Mereka perlu diberdayakan dan didukung dalam menjalankan peran tersebut,” kata Michael.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)