Rekomendasi Symantec Hadapi Peningkatan Kejahatan Dunia Maya

Alex Lei, Director of Security Sales ASEAN and Korea Symantec Alex Lei, Director of Security Sales ASEAN and Korea Symantec

Perkembangan teknologi yang demikian pesat ternyata juga menjadikan kejahatan dunia maya yang semakin banyak. Menurut laporan Internet Security Threat Report Volume 19 (ISTR 19) yang dikeluarkan Symantec Corp, terdapat perubahan perilaku para penjahat dunia maya yakni dengan merencanakan kejahatan berbulan-bulan sebelumnya. Kejahatan besar yang mereka lakukan biasanya dimulai dengan kejahatan-kejahatan kecil.

Tahun 2013 terdapat peningkatan 62% jumlah pelanggaran data di tingkat global sehingga 552 juta identitas berupa informasi kartu kredit, tanggal lahir, nomor ID pemerintah, alamat ruma, catatan medis, nomor telepon, informasi keuangan dan lain-lain terekspos. Alex Lei, Director of Security Sales, wilayah ASEAN dan Korea Symantec mengungkapkan, semakin besar penggunaan internet dan smartphone, semakin besar juga aktifitas kejahatan dunia maya. Lebih lanjut ia mengungkap, para penjahat dunia siber tidak hanya melakukan kejahatan kecil untuk kejahatan yang lebih besar. Tren yang terjadi adalah mereka menyerang perusahaan-perusahaan berskala kecil menengah untuk kemudian menyerang perusahaan yang lebih besar. Serangan tersebut banyak mereka lakukan pada sektor grosir, public dan manufaktur.

Dari laporan yang dirilis Symantec tersebut di atas, profil keamanan internet Indonesia menurn dan berada di peringkat ke-22 dari posisi 23 pada tahun 2012. Hal ini menunjukkan, kata Alex, penjahat siber tidak menurunkan aktifitas mereka.”Dengan kondisi ini, perusahaan tidak boleh menurunkan kewaspadaan terhadap mereka karena konsekuensinya besar, menyebabkan kerusakan komersial dan reputasi,” ujar Alex.

Ancaman kejahatan dunia maya yang begitu tinggi perlu disikapi dengan baik, tidak hanya oleh perusahaan, tetapi juga konsumen. Symantec memberikan sejumlah rekomendasi mengenai hal-hal yang dapat dilakukan sebuah perusahaan. Rekomendasi tersebut di antaranya adalah dengan mengenali data sehingga bisa membantu mengidentifikasi kebijakan dan prosedur terbaik untuk melindunginya. Kedua, mendidik karyawan mengenai perlindungan informasi termasuk kebijakan perusahaan untuk melindungi data sensitif. Ketiga, menerapkan postur keamanan yang kuat dengan memperkuat infrastruktur keamanan.

Sementara itu, sebagai konsumen, perlu menjadi konsumen yang cerdasr dengan keamanan. Hal tersebut dapat dilakukan dengan memperkuat password. Selain itu, kewaspadaan dan mengenal betul dengan siapa bekerja juga menjadi penting untuk diperhatikan konsumen. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)