Risiko Kredit & Likuiditas Jadi Tantangan Terbesar Pengelolaan Perbankan 2014

Kenaikan tingkat bunga bank sentral (BI Rate) yang menjadi 7,5%, sejak 2013 lalu, disebut sebagai salah satu faktor yang menyebabkan perlambatan pertumbuhan ekonomi pada tahun ini. Hal ini termasuk dalam hasil temuan Indonesian Banking Survey 2014, yang mana sekitar 32% responden survei yang berasal dari kalangan perbankan mengatakan bahwa inflasi dan tingkat bunga yang terus meningkat akan berdampak signifikan terhadap perekonomian Indonesia di tahun 2014.

Bank Indonesia

 

Lalu, sebanyak 60% bankir memprediksi bahwa bank sentral akan terus meningkatkan suku bunga di tahun ini, mungkin bisa sampai 8%-9%.

“Para bankir juga meyakini faktor lain yang akan berpengaruh kepada perekonomian di tahun ini adalah Pemilu.  Sebanyak 60% dari mereka beranggapan bahwa Pemilu akan menyebabkan investor menunda rencana perluasan usaha, sehingga menyebabkan rendahnya pertumbuhan kredit dalam industri perbankan pada tahun ini,” kata Jusuf Wibisana, Partner PricewaterhouseCoopers (PwC) Indonesia.

Survei yang menggunakan responden dari 30 bank terbesar di Indonesia (baik bank BUMN dan swasta, juga bank lokal dan asing) ini juga menjelaskan soal target perbankan yang mana pertumbuhan usaha kredit konsumen, ritel dan kredit UKM menjadi target utama tahun ini.

Sedangkan, para bankir dari bank asing dan bank ventura berpandangan bahwa pertumbuhan kredit korporasi dan komersial menjadi fokus utamanya di 2014 ini. Namun, kedua kelompok tersebut sepakat jika pengelolaan aset dan liabilitas sebagai tujuan strategis kedua di 2014.

“Kemudian, setelah melalui masa sulit di tahun lalu, sebagian responden memperkirakan bahwa usaha perbankan akan semakin melambat jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Yakni, sebanyak 51% bankir memperkirakan pertumbuhan kredit di 2014 akan mencapai 15%-20%, menurun daripada pertumbuhan kredit di 2013 yang mencapai 21%,” jelasnya.

Para responden juga berpendapat bahwa tiga tantangan terbesar yang harus dihadapi di tahun ini adalah tekanan marjin, persaingan di dalam negeri yang semakin sulit, serta meningkatnya risiko kredit dalam peminjaman. Semua tantangan itu muncul disebabkan naiknya tingkat suku bunga industri perbankan dalam negeri.

Dalam survei yang dilakukan melalui pengiriman kuesioner via email pada Desember 2013, dan hasilnya dikumpulkan pada Januari-Februari 2014, para respondennya juga menyebutkan bahwa risiko kredit dan likuiditas sebagai dua hal yang menjadi tantangan terbesar dalam upaya pengelolaan risiko di tahun 2014 ini. “Tiga inisiatif utama untuk mengendalikan dan mengelola risiko kredit adalah memperbaiki proses persetujuan kredit, membatasi pemaparan terhadap industri tertentu dan memperbaiki sistem peringatan dini,” ujarnya.

Jusuf juga menerangkan bahwa Indonesian Banking Survey 2014 ini diikuti 82 responden dari 30 bank yang total asetnya sudah mewakili 80% aset di industri perbankan Indonesia. Tahun 2014 ini adalah tahun kelima survei diselenggarakan PwC, dan tujuannya adalah untuk memperoleh pandangan dari para bankir mengenai strategi, pertumbuhan dan tantangan industri perbankan Indonesia; menyebarluaskan pandangan para bankir atas aspek bisnis utama; dan mendorong pemahaman bersama serta pertukaran pandangan antara pasar dan pelakunya.

“Survei ini terfokus pada tiga aspek mendasar: perkiraan pertumbuhan, hal-hal terkait aspek operasional, manajemen risiko, tata kelola perusahaan dan peraturan. Tapi mulai tahun ini kami menyempurnakan survei dengan menambahkan dua aspek utama yaitu sudut pandang nasabah perbankan ritel dan pengelolaan SDM,” ungkapnya.(EVA)

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)