Shaun Rein Jawab Tiga Mitos Konsumen Cina

Founder sekaligus Managing Director China Market Research Group, Shaun Rein, baru-baru ini menjawab tiga mitos karakter konsumen di Cina. Ketiga mitos tersebut menyoroti polah orang kaya Cina dalam menggunakan uang mereka. Pertama, mitos bahwa konsumen di Cina tidak membelanjakan uangnya untuk produk dalam rumah. Mitos kedua adalah konsumen Cina begitu terobsesi dengan gemerlap fashion. Adapun mitos ketiganya, konsumen Cina tidak mengutamakan nilai dari pengalaman.

Menilik pertumbuhan penjualan ritel bulan Mei yang melambat jadi 13,8% dari 16%, banyak analis yang panik. Menurut mereka, inilah akhir kisah konsumtifitas Cina. Namun ternyata kepanikan tersebut dinilai berlebihan oleh Shaun. Dalam tulisannya pada Bloomberg Businessweek, Shaun mengungkapkan bahwa penjualan BMW di Cina justru tumbuh 31,5%, sementara Audi 44,42 persen dibanding tahun lalu. Tidak dipungkiri bahwa Cina juga terkena imbas krisis Eropa. Namun para brand manager juga perlu menyingkirkan mitos-mitos tentang pola konsumsi Cina.

Mitos 1: Konsumen Cina tidak menggunakan uangnya untuk keperluan di rumah

China Market Research Group telah meriset konsumen Cina dengan pengeluaran bersih di atas US$ 500.000. Mereka mendapati bahwa 90% responden kaya raya tersebut lebih memilih device mahal ketimbang produk dalam negeri seperti Haier atau Gree. Orang-orang tersebut lebih menggemari brand asing seperti Samsung dan Siemens. Faktanya, orang kaya di Cina hanya membeli brand luar karena merasa brand tersebut berfungsi lebih baik dalam hal teknologi.

China Market Research juga menemukan fakta bahwa konsumen wanita Cina sangat senang membeli pernak-pernik kamar tidur. Umumnya mereka gandrung pada sprei dan kasur kualitas premium. Salah satu responden wanita dari Shanghai mengatakan pada Shaun bahwa ia bekerja keras dan ingin merasa seperti ratu di rumahnya. Dari fakta ini menunjukkan bahwa terdapat pergeseran pola pengeluaran. Konsumen Cina mengeluarkan uang lebih banyak dan terus meningkat untuk memanjakan diri mereka sendiri.

Mitos 2: Konsumen Cina terobsesi dengan gemerlap fashion

Hampir semua orang tentu saja sangat ingin memiliki produk fashion brand ternama. "Meski begitu, orang-orang yang super kaya justru enggan memakai produk yang tampak gemerlap," ungkap Shaun Rein. Dari hasil interviewnya terhadap sejumalh responden yang membelanjakan lebih dari US$ 10 juta, mereka sudah tidak lagi menggemari brand lux biasa seperti Louis Vuitton. Bagi mereka, brand tersebut sudah sangat biasa, banyak digunakan orang, dan terlalu mencolok. Saat ini konsumen Cina justru lebih cenderung pada brand yang lebih subtle seperti Bottega Veneta.

Motes 3: Konsumen Cina tidak mengeluarkan uang untuk sekedar pengalaman

"Banyak marketer berpendapat konsumen Cina lebih suka membelanjakan uangnya untuk barang-barang yang bersifat kepemilikan daripada sebuah pengalaman," tulis Shaun. Kondisi tersebut ternyata berubah cepat. Seorang jutawan mengatakan pada Shaun bahwa ada satu titik di mana ia tak tahu lagi apa yang bisa dilakukan selain berbagai acara banquet (seremoni makan besar, mewah, dan formal dengan pidato), golf, dan jalan-jalan ke Eropa. Oleh karena itu banyak orang kaya Cina yang gandrung dengan petualangan seperti menerbangkan pesawat mereka sendiri, fly-fishing di daerah terpencil, atau safarai mewah. Kegiatan outdoor tersebut kian populer seiring menanjaknya popularitas brand North Face, Columbia, dan Jeep. Club juga mempengaruhi pola kegiatan mereka. The Harley Owners Group (HOG) misalnya, yang mengiringi semboyan mereka, "Harley Davidson menjual gaya hidup, bukan motor."

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)