Survei Agenda CEO 2018: Kondisi Kurang Mendukung, tapi Tetap Ada Jalan Menjadi “Anomali”

//Para pemimpin perusahaan memprediksi, mereka bakal menghadapi situasi bisnis yang makin berat tahun 2018 ini. Namun, masih ada jalan untuk menjadi “anomali” di tengah situasi tersebut, yakni menjadikan perusahaan tetap berkibar.//

Ahmadi Ahmadi, Research Associate Director Deka

Tahun 2018 memang bukanlah tahun yang mudah bagi para pelaku bisnis. Beberapa alasan membuat mereka bakal menghadapi tantangan berat situasi bisnis. Di antaranya, daya beli masyarakat menurun, kondisi perekonomian baik global maupun lokal diprediksi masih lesu, serta sittuasi politik akan memanas, antara lain karena adanya pemilihan kepala daerah (pilkada) dan persiapan Pemilihan Umum 2019. Kemudian, kebijakan pemerintah juga belum sepenuhnya mendukung pelaku usaha, dan serbuan bisnis online akan menyulitkan persaingan.

Begitulah yang terekam dari hasil survei yang dilakukan Majalah SWA dan Deka Research. Maka, tidak mengherankan, seperti kata Ahmadi, Research Associate Director Deka, kendati para pelaku bisnis di Indonesia yakin bahwa kondisi bisnis di tahun 2018 akan sedikit lebih baik dibandingkan tahun 2017, tingkat optimisme mereka cenderung menurun dibandingkan ketika mereka menatap tahun 2017 ataupun tahun 2016.

Ahmadi menjelaskan, dari 100 chief executive officer (CEO)/direktur utama dan direktur perusahaan di Jabodetabek yang menjadi responden dalam survei ini, kelompok yang optimistis menghadapi tahun 2018 hanya 29%, cenderung turun dibandingkan kelompok yang optimistis menatap tahun 2017, sebesar 53%, dan tahun 2016 sebesar 55%. “Mereka yang optimistis dalam menatap tahun 2018 datang dari pelaku usaha yang memiliki skala usaha besar, sedangkan mereka yang memiliki skala usaha lebih kecil cenderung realistis dan hati-hati,” ujarnya.

Namun, ada hal-hal yang dianggap positif di tahun 2018 oleh CEO dan direktur perusahaan. Antara lain, semakin banyak investor yang akan masuk, pertumbuhan ekonomi akan lebih stabil, perusahaan baru akan menjamur, dukungan infrastruktur lebih baik, dan kebijakan ekonomi pemerintah melalui paket ekonominya akan mendorong pertumbuhan bisnis.

Achmad Baiquni, Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (Bank BNI), termasuk yang tetap optimistis bahwa iklim bisnis, investasi, dan perekonomian tahun 2018 akan relatif lebih baik daripada tahun 2017. Kemudahan berbisnis atau Ease of Doing Business 2017 di Indonesia tercatat naik ke posisi 72 dari 190 negara dibandingkan sebelumnya yang berada di ranking 91 pada 2016. Implikasinya, persepsi investor terhadap peluang dan iklim berbisnis di Indonesia menjadi lebih baik. “Hal ini juga terefleksi dari dinaikkannya lagi peringkat utang Indonesia oleh Fitch Ratings, dari sebelumnya BBB- menjadi BBB dengan outlook stabil pada Desember 2017, setelah sebelumnya Standard & Poors (S&P) menaikkan peringkat utang Indonesia dari BB+ (non investment grade) ke BBB- (investment grade) dengan outlook stabil di Mei 2017,” Achmad menuturkan.

Kondisi tersebut, ia menambahkan, tentunya akan mendorong investor, baik asing maupun domestik, untuk tetap menanamkan investasinya di Indonesia. Dari sisi perekonomian, pemerintah optimistis pertumbuhan ekonomi 2018 akan mencapai kisaran 5,4% atau lebih baik daripada proyeksi pertumbuhan ekonomi 2017 yang 5,05%.

Responden pengusaha yang optimistis memperkirakan sektor usahanya akan tumbuh sangat baik di tahun 2018 adalah dari perbankan serta telekomunikasi & ICT (information &, communications technology). Sementara yang sangat pesimistis di tahun 2018 adalah prediksi pengusaha ritel dan properti. Mereka memprediksi tidak tumbuh bahkan minus. “Penurunan daya beli masyarakat dan isu politik yang diprediksi akan memanas di tahun 2018 menjadi alasan mereka menjadi pesimistis di tahun 2018,” Ahmadi menerangkan.

Menurut Ahmadi, source bisnis perbankan, selain pinjaman, adalah biaya transaksi. Semakin banyaknya transaksi digital akan memberikan pengaruh ke bisnis mereka. “Itulah mengapa sekarang mereka berlomba dari bank tempat menyimpan dana menjadi bank transaksional. Sebab, itu yang menjadi peluang pendapatan di indutri perbankan dan finansial,” tuturnya .

Di sektor perbankan, kata Achmad Baiquni, sejauh ini pembiayaan ke sektor riil melalui kredit perbankan masih menjadi pilihan di Indonesia karena lebih mudah dan tidak terlalu rumit. Di tahun 2018, seiring dengan membaiknya proyeksi pertumbuhan ekonomi, ia berharap penyaluran kredit akan lebih tinggi lagi. Pilkada dan Pemilihan Legislatif diharapkan menggairahkan perekonomian Indonesia mengingat kampanye oleh para kontestan akan mendorong sisi permintaan. 

Dalam survei tersebut juga terungkap, di bidang SDM, peningkatan skill dan penambahan karyawan pun akan menjadi hal yang difokuskan di tahun 2018. Sementara itu, di bidang produksi, para pelaku bisnis tetap melanjutkan strategi bisnis di 2017 dengan lebih banyak lagi melakukan inovasi produk. Di bagian distribusi, pemerataan distribusi masih menjadi fokus utama. Di bidang keuangan, fokusnya lebih pada pembenahan sistem untuk laporan keuangan mereka. Lalu, promosi masih menjadi perhatian utama di bidang pemasaran, baik di 2017 maupun 2018. Selain itu, pemerataan pangsa pasar juga akan menjadi fokus lain di bidang pemasaran (mengenai hasil survei lainnya, silakan lihat Tabel).

Membangun optimisme, yang disertai dengan terobosan yang cerdas, menjadi kunci untuk tetap menumbuhkan bisnis di tengah situasi yang makin sulit. Bahkan, inovasi/terobosan harus kerap dikaji ulang untuk disesuaikan dengan tren yang terjadi, mengingat dunia bisnis kini tengah menghadapi apa yang disebut era VUCA (volatile, uncertainty, complexity, ambiugity), yang membuat gambaran bisnis ke depan sangat sulit diprediksi, sehingga tampil “berbeda” dibandingkan kebanyakan pelaku bisnis lainnya.

Reportase: Anastasia Anggoro Sukmonowati, Jeihan Kahfi Barlian/Riset: Hendy Pradika

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)