Survei Intel: Generasi Milenia dan Perempuan Indonesia Penyokong Inovasi Teknologi

Pada bulan Oktober 2013 ini, Intel Corporation dan lembaga riset Penn Schoen Berland memaparkan studinya mengenai sikap masyarakat global terhadap inovasi dan penerapan teknologi. Penelitian tersebut mengungkapkan bahwa generasi milenia (usia 18 hingga 24) adalah generasi yang paling rendah antusiasnya terhadap teknologi saat ini, tetapi optimistis bahwa teknologi masa depan dapat memberikan pengalaman yang lebih pribadi. Penemuan lainnya,  perempuan di pasar negara berkembang adalah yang paling optimistis tentang inovasi di bidang teknologi.

Intel-Jagat

“Intel Innovation Barometer” mengungkapkan bahwa mayoritas generasi milenia setuju bahwa teknologi membuat penduduk menjadi kurang manusiawi dan masyarakat terlalu bergantung pada teknologi. Di Indonesia, 53 % dari generasi milenia percaya bahwa teknologi membuat penduduk menjadi kurang manusiawi, dan 47 % berpikir masyarakat terlalu bergantung pada teknologi. Sebanyak 96 % dari generasi milenia Indonesia percaya bahwa inovasi teknologi membuat hidup lebih sederhana, namun hanya 27 % dari mereka yang berpikir bahwa inovasi teknologi harus sesuai dengan perilaku dan preferensi mereka.

Meskipun demikian, melebihi kebanyakan generasi milenia lainnya di dunia, generasi milenia Indonesia juga percaya bahwa teknologi dapat meningkatkan hubungan pribadi mereka (83 %) dan memiliki harapan besar bahwa inovasi akan berdampak positif terhadap pendidikan (67 %), transportasi (60 %) dan kesehatan (53 %). Generasi milenia menginginkan pengalaman yang membantu mereka untuk tetap berada di saat ini dan menjadi diri mereka yang terbaik.

“Sekilas, tampaknya generasi milenia menolak teknologi, tapi pada kenyataannya, realitas generasi milenia lebih rumit dan menarik.”, ujar Direktur Riset Interaksi dan Pengalaman Intel Labs, Dr. Genevieve Bell. Menurut analisa Dr. Bell, generasi milenia menginginkan teknologi yang mampu berbuat banyak bagi kepentingan mereka. “Kami memiliki pekerjaan yang harus dilakukan untuk membuatnya jauh lebih pribadi dan meringankan beban mereka.”, imbuhnya.

Pada temuan lainnya, perempuan yang lebih tua dari 45 tahun lebih banyak dibandingkan dengan perempuan yang lebih muda untuk mengatakan bahwa kita tidak menggunakan teknologi secara cukup, dan sentimen ini sangat kuat khususnya di pasar negara berkembang. “Secara historis, perempuan telah menjadi pengguna teknologi yang sangat antusias ketika teknologi mampu memecahkan masalah, membantu kita mengatur hidup kita dan keluarga kita, serta membantu kita dalam penghematan dan perubahan waktu.”, tambah  Dr. Bell.

Di Indonesia, 67 % perempuan di atas 45 tahun mengatakan bahwa kita tidak menggunakan teknologi yang cukup dibandingkan dengan 58 % dari mereka yang berumur di bawah 45 tahun. Perempuan di Indonesia percaya bahwa teknologi akan mendorong pendidikan (72 %), transportasi (66 %), pekerjaan (60 %) dan kesehatan (61 %) yang lebih baik lagi. (EVA)

 

 

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)