Survei iProperty: 32% Orang Indonesia Ingin Memiliki Properti di Luar Negeri

Di tengah kondisi dunia yang sedang krisis, pertumbuhan ekonomi Indonesia justru mencatat hasil yang positif. Salah satu indikatornya adalah jumlah masyarakat kelas menengah yang meningkat, disertai dengan kemampuan daya beli (buying power) yang semakin tinggi. Di sektor properti misalnya, pertumbuhannya mencapai 6%-7% setiap tahun sehingga mendorong masyarakat untuk berinvestasi dalam bentuk rumah, apartemen atau pun tanah.

Shaun Di Gregorio, Chief Executive Officer (CEO) iProperty

iProperty Group, jaringan portal properti ternama di Asia, baru-baru ini memaparkan hasil survei tentang sentimen pasar properti di Indonesia, Malaysia, Hong Kong, dan Singapura periode 1 Juli – 31 Agustus 2012. Hasilnya, 32% responden Indonesia tertarik untuk memiliki properti di luar negeri.

Shaun Di Gregorio, Chief Executive Officer (CEO) iProperty, mengatakan, responden Indonesia menempati peringkat kedua dalam hal keinginan untuk berinvestasi setelah Singapura. Berikut nukilan wawancara reporter SWA Online, Ario Fajar, dengan Di Gregorio, terkait paparan survei iProperty.

Bagaimana metode survei ini dilakukan?

Ini merupakan survei online lintas pasar properti pertama. Survei ini melibatkan 25.754 responden dari Malaysia, Indonesia, Hongkong, dan Singapura. Dalam survei ini terungkap motivasi konsumen, niat dan preferensi investor dalam memperoleh properti di Asia.

Bagaimana dengan karakteristik responden Indonesia?

Di Indonesia, lebih dari 9.000 responden berpartisipasi dalam survei yang dilakukan di Rumah123.com dan Rumahdanproperti.com. Sebanyak 63% responden berjenis kelamin pria, dan sisanya wanita. Pekerjaan mereka antara lain pengusaha (20%), staf administrasi (22%), dan profesional (19%). Responden yang berpartisipasi berumur 26-30 tahun dengan pendapatan sekitar U$$ 10,454 per tahun.

Seberapa valid survei ini untuk menjadi pedoman bagi investor Indonesia?

Dari empat negara yang disurvei, responden dari Indonesia bisa dikatakan cukup banyak yakni hampir mencapai 9.000 orang. Mereka memiliki latarbelakang yang beragam dan melek teknologi. Saya rasa, survei ini bisa menjadi referensi bagi investor Indonesia ke depan.

Apa maksud diadakannya survei ini?

Untuk melihat sentimen konsumen pada empat pasar kunci seperti Malaysia, Singapura, Hongkong dan Indonesia. Survei ini diharapkan mampu memberikan informasi yang akurat dan membuka wawasan dalam mengukur industri properti.

Apa temuan yang paling menarik dari survei ini?

Yang paling menarik salah satunya adalah sebanyak 32% responden Indonesia tertarik untuk membeli properti di luar negeri, setelah Singapura (58%). Negara tujuan investasi mereka adalah Singapura (49%), Australia (14%), dan Malaysia (10%).

Apa saja faktor yang mempengaruhi tren investasi tersebut?

Faktornya adalah soal pengembalian investasi yang tergolong tinggi dan lebih baik, kedua karena lokasi geografis sehingga ideal untuk investor Indonesia. Ketertarikan tersebut disebabkan oleh faktor migrasi atau retirement.

Apa yang menjadi catatan penting dari responden Indonesia?

Di antara responden dari tiga negara lainnya, responden dari Indonesia merupakan responden dengan rentang usia yang paling muda yakni 26-30 tahun. Artinya, banyak anak muda Indonesia yang sudah masuk dalam kategori mapan dan siap untuk membeli properti. Sebanyak 12% responden Indonesia memiliki lebih dari satu properti, jumlah yang paling rendah jika dibandingkan dengan responden Malaysia (43%), Singapura (29%), dan Hongkong (14%). Dari responden yang bersuara, 82% responden Indonesia berencana membeli properti dalam waktu 6 sampai 12 bulan ke depan, dengan 72% menunjukkan bahwa motivasi utama mereka dalah untuk memiliki properti sendiri.

Bagaimana prediksi tahun depan?

Akan semakin menarik apalagi jika diimbangi dengan kemajuan ekonomi yang akan menstimulasi lahirnya orang-orang kelas mapan. (EVA)

 

 

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)